Keagungan Sifat dan Nama Allah (Tadabbur Surah Al-Fatihah)

Surah al-Fatihah adalah surah yang paling agung di dalam al-Qur’an. Ia  memiliki beberapa nama yang menunjukkan keagungannya itu. Diantara nama-nama lain dari surah alfatihah itu adalah ash-Shalah, Ummul Qur’an, Ummul Kitab, as-Sab’u al-Matsani, al-Wafiyah, asy-Syifaa, al-Kafiyah, al-Asas, al-Hamd, dan lainnya. Al-Fatihah adalah nama yang paling masyhur dari sekian banyak nama itu, sebab ia yang tertulis pada awal al-Qur’an.

Penempatan surah ini sebagai pembuka al-Qur’an memiliki banyak faidah yang Allah isyaratkan pada setiap kata dan susunan kalimatnya. Dimana, jika seseorang merenungkannya dengan baik, niscaya ia akan berkata sebagaimana ucapan para kafir Quraisy tatkala al-Qur’an digantung di atas Ka’bah, “Ini bukanlah perkataan manusia”.

Surah ini dimulai dengan basmalah (berdasarkan riwayat dan pendapat yang lebih kuat), yaitu firman Allah Azza wajalla:

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١  

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Fatihah: 1)

Huruf “ba” (ب) pada kata “bismi” (بسم) merupakan “ba al-Qasam”, yang bermakna bahwa Allah bersumpah dengan namaNya yaitu Allah, ar-Rahman dan ar-Rahim. Hal ini menunjukkan KemahakuasaanNya, KemahaperkasaanNya, KemahamampuanNya mengalahkan segala sesuatu dan Kemahaluasan Rahmat-Nya. 

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: Allah bersumpah untuk hambaNya, “Sesungguhnya yang Aku letakkan untuk kalian pada surah ini wahai hamba-hambaKu adalah kebanaran. Aku beri kalian dengan seluruh yang terkadung dalam surah ini berupa janji, kelembutan dan kebaikanKu”. (Tafsir al-Qurthubi: 1/84)

Huruf “ba” pada kata “bismi” juga berposisi sebagai “ba al-isti’anah”, yang bermakna Allah ingin mengajarkan kepada hamba-hambaNya agar setiap kali mereka melakukan sesuatu, selalu diawali dengan menyebut namaNya, sebagai bentuk permohonan pertolongan kepadaNya atas KemahakuasaanNya dan Kemahaluasan rahmatNya.

Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni rahimahullah berkata: Huruf “ba” berkaitan dengan kata kerja yang mahdzuf (disembunyikan) disesuaikan dengan kedudukannya. Sehingga setiap orang yang membaca “Bismillah” seoalah ia berkata, “Aku membaca seraya memohon pertolongan dengan menyebut nama Allah”. (Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam: 1/18)

Penyatuan huruf “ba” dan ism (اسم) dengan menghilangkan huruf alif mejadi “bismi” (بسم) pada kalimat basmalah, berbeda dengan penyatuan huruf “ba” dan “ism” pada surah al-Alaq yang tetap menuliskan huruf alif pada kata “bismi” (اقرأ باسم ربك). Hal ini karena kedudukan huruf “ba” pada kata tersebut termasuk “ba al-ilshaq” (ba yang fungsinya menempel), sehingga cukup dengan huruf “ba” tersebut, sebab penulisannya sangat banyak di dalam al-Qur’an. Berbeda dengan penulisan kata “bismi” pada surah al-Alaq, ia tidak dimahdzufkan karena sedikit penggunaannya. (Tafsir al-Qurthubi: 1/90)

Pada kalimat “bismillahirrahmaniirrahim”, nama yang menunjukkan KemahamampuanNya untuk mengalahkan segala sesuatu dan KeperkasaanNya yaitu Allah, disebutkan hanya satu kali. Sedangkan nama yang menunjukkan Keluasan RahmatNya disebutkan dua kali, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Hal ini menunjukkan bahwa Allah selalu mendahulukan kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya dan Kasih SayangNya itu mendahului KemurkaanNya terhadap mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman: 

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ بِيَدِهِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ : رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي

“Tuhan kalian telah menetapkan pada diriNya sebelum Dia menciptakan makhluk, “Sesungguhnya rahmatKu mendahului kemurkaanKu”. (HR. Ibnu Majah)

Penyebutan nama yang menunjukkan Kemahaluasan RahmatNya itu sebanyak dua kali dengan bentuk yang berbeda (ar-Rahman dan ar-Rahim) menunjukkan bahwa Allah memiliki kasih sayang khusus dan lebih besar kepada orang-orang beriman daripada Kasih SayangNya kepada makhluk-makhlukNya yang lain. Maka sepantasnyalah seorang mukmin tidak cepat berputus asa dari rahmatNya dan tidak kecewa atas ketetapanNya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: ar-Rahman adalah nama yang menunjukkan Keluasan Rahmat Allah pada seluruh makhlukNya. Sedangkan ar-Rahim adalah nama Allah yang menunjukkan Keluasan Kasih SayangNya, yang Allah khususkan untuk orang-orang yang beriman. Sebagaimana firman Allah (yang artinya) ‘Dan sungguh Allah itu terhadap kaum mukminin bersifat Rahim (Maha Penyayang)’.(al-Ahzab:43)”. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/24)

Nama “Allah” menunjukkan KeilahiyaanNya. Setelah KeilahiyaanNya itu, disebutkan dua sifat rahmat yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim yang menunjukkan KeilahiyaanNya itu amat agung dan dipenuhi oleh sifat Rahmat. Sehingga setiap hamba tidak perlu merasa takut untuk selalu meminta, tidak perlu merasa jenuh untuk selalu berdoa, tidak perlu merasa ragu untuk selalu kembali padaNya, sebab Allah adalah Ilahnya dan Raja yang amat besar kasih sayangNya. Dermawan adalah sifatNya, memberi nikmat adalah KasihNya, dan penerima taubat juga bagian dari kasih SayangNya. Maka sembahlah Dia sang Ilah yang penuh rahmat itu, dan jangan sembah selainNya.

Allah Memperkenalkan diriNya dengan sifat mulia ini untuk membedakan diriNya dengan para raja dari kalangan makhlukNya. Sebab ada raja-raja dari kalangan makhlukNya amat angkuh, sombong, pelit dan kejam tatkala rakyatnya bersalah padanya, tatkala rakyatnya sering meminta kepadanya, tatkala ia merasa mulia sedang rakyatnya terasa rendah di hadapannya. Adapun Allah, sang Maha Raja dan Ilah itu, dengan kemuliaan dan keagungan akan KeilahiyahanNya, sifat kasih sayang selalu menempel pada diriNya sehingga Dia selalu menerima orang yang kembali kepadaNya, selalu memberi orang yang meminta kepadaNya dan selalu mengampuni orang-orang yang bertobat kepadaNya.

Maka Allah memulai kitabNya dengan firmanNya ini, agar setiap orang ketika pertama kali membuka kitabNya, ia mengetahui Keagungan sifat ini, meyakini dalam hatinya, hingga tergambar dalam dirinya bahwa dia sedang membaca firman Tuhannya yang Maha Luas RahmatNya itu hingga diapun mencintaiNya.

Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening