Kenangan Indah di Wahdah Islamiyah 4Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I.
LAZISWahdah.com – Walau terkesan ditutup-tutupi, dirahasiakan untuk menekan angka pendaftar dan mengurangi persaingan ternyata jumlah pendaftar ikut tes ke Sudan lumayan banyak, bahkan gak tanggung-tanggung, banyak peserta datang dari luar Sulawesi, adapun dari Makassar nggak usah ditanya, (biasanya rahasia itu tersebar karena penyampai berita bilang ‘jangan kasitau yang lain yah’, terus yang dipesan juga bilang ke yang lain ‘jangan kasitau yang lain yah’, hehehe, akhirnya tersebar, padahal waktu itu medsos belum ada lo, gimana kalo ada ?!).

Saya juga heran, kok banyak peminat yah? Padahal Sudan kalo gak salah terkenal dengan kegersangannya, cuaca ekstrem dan merupakan daerah konflik, sering terjadi perang serta bencana kelaparan, selidik punya selidik ternyata banyak yang berminat karena ingin menjadikan Sudan batu loncatan ke Medinah atau Mesir, katanya berdekatan, tinggal nyebrang pake ferry (ini terungkap dari wawancara kecil-kecilan para peserta tes), ada juga yang berprinsip yang penting keluar negeri, gak peduli kemana, karena waktu itu gelar ‘LC’ masih sangat menawan ditelinga, keren kedengaran, yang konon hanya diberi pada alumni-alumni luar negeri (kalo di Sul-Sel gelar itu yang pertama populerkan adalah Angre Gurutta KH. Sanusi Baco, Lc -hafidzahullah-, alumni Al-Azhar Mesir, yang sejak kecil saya rutin ikut rombongan remaja Masjid Al-Muhajirin Ela-Ela untuk menghadiri peringatan Maulid atau Isra Mi’raj, dan beliau yang paling sering diundang, walau seumuran saya dulu kebanyakan hanya tidur saat ceramah berlangsung dan nanti terbangun saat acara istirahat yang kami anggap sebagai acara INTI, biasanya Songkok Nasional yang mencerminkan keshalehan hanyalah kedok dan modus untuk menyembunyikan misi rahasia, membawa pulang sisa konsumsi, Ya Allah, jika itu dosa ampunilah kami !, dan saya mewakili teman-teman menyampaikan permohonan maaf kepada bapak-bapak pengurus-pengurus Masjid yang tidak bisa kami sebut satu persatu saking banyaknya dan harap dihalalkan),

Sebenarnya di Stiba juga ada gelar ‘LC’ plesetan kami dulu, yaitu ; ‘Lulusan Cassi’ (bc: Kassi), tempat kampus pertama kami di Jl. Tamangapa, dekat RPH dan TPA, jalur lalin ROSA DAN ROKER (Silahkan lihat KIDWI 1), padahal arti LC sebenarnya adalah… Hm, maaf kawan, sampai sekarang saya juga masih bingung menjelaskannya.

STIBA juga banyak diplesetkan teman-teman mahasiswa, aslinya ‘Sekolah Tinggi Ilmu Islam Dan Bahasa Arab’, namun diplesetkan menjadi ‘Sekolah Tinggi Idaman Banyak Akhwat’ (dilarang GR!), ada juga ‘Sekolah Tidak BAyar’, karena diawal-awal kami belajar memang gratis, asrama dan makannya juga gratis, dan menunya masya Allah seimbang, 4 sehat 5 sempurna (Empat Tempe Lima Kerupuk), Alhamdulillah, membantu mengatasi obesitas sejak eSemPE dengan diet alami, (apalagi setelah dirawat sepekan di Klinik Wihdah Abdesir setelah ikut orientasi semi militer di Stiba), walaupun karena satu dan lain hal tidak gratis lagi, akhirnya diplesetkan lagi menjadi; ‘Sekolah Tiba-tiba BAyar’..

Kembali ke ruang tes beasiswa Sudan,.
Masih segar dalam ingatan, tes tertulis di ruang rektorat, ruangan penuh sesak, nampak semuanya siaga satu, dua Syekh asli Sudan tiba di tempat yang ternyata dari kedutaan Sudan dan dosen di IUA (International University Of Africa), lembaran ujian dibagikan, gak tanggung-tanggung kawan, yang ikut mengawas adalah kakanwil Depag (Kemenag sekarang) pada waktu itu, ujiannya berlangsung dari pagi sampai Dzuhur dan dilanjut dengan tes wawancara (dan dalam kesempatan ini, saya menyampaikan ucapn terima kasih pada saudaraku Sofyan Nur yang membocorkan satu jawaban pertanyaan sulit pada kami waktu itu).

Oh iya, sebelum tes wawancara, saya ceritakan dulu proses pendaftarannya, jujur, saya ikut tes hanya ingin turut meramaikan (penggembira, atau lebih tepatnya supporter), berkas yang saya ajukan alakadarnya, kalo yang lain kebanyakan sudah diterjemah resmi di Jakarta, adapun berkas saya hanya photo kopi ijazah dan transkrip nilai yang distempel oleh sekolah kami dulu, MAN 1 Bulukumba, saya bersama ‘Prof’ Syaibani pake motor seorang mahasiswa dari Palu bernama Jamal Malang -hafidzahullah- (yang ternyata membawa keberuntungan) ke gedung Pasca UIN (IAIN waktu itu) di Samata, Gowa. Yang layani adalah seorang petugas pendaftaran yang ternyata, kami berdua DITOLAK!, Allahul Musta’an. Sang ‘Prof’ lewat umur setahun, gak ada toleransi, adapun saya karena lewat waktu sehari dari deadline pendaftaran (berarti Prof jatuh didua syarat, sabarki’ ust). Tapi saya berhasil membujuk petugasnya, agak memelas saya bilang ; “tolong masukkan berkas saya, nggak usah masuk kuota jatah, saya cuma mau ambil pengalaman tes untuk persiapan tahun depan”, dan Alhamdulillah dikabulkan.

Tibalah waktunya tes lisan, saya sih gak ada beban, jujur, karena cuma partisipan, cari pengalaman aja, santai, yang lain ada yang serius murajaah hafalannya, membaca buku tertentu dst, tesnya mulai habis Dzuhur sampai habis Isya, dan sayalah yang paling lama menanti giliran karena nama saya urutan paling akhir, sekali lagi, hanya partisipan.

Tiba giliran, duduklah saya dihadapan Syekh Sudan tadi, setelah perkenalan (tes wawancara tentu bahasa Arab kawan), dan ternyata modal dua tahun lebih di Stiba sudah lumayan bisa bercakap dan faham. Diantara pertanyaan Syekh ; Mengapa mau ke Sudan? Saya jawab : “uridu an ata’allama Al-Lugah Al-Arabiyyah Min Lisaan Al-Arab mubasyarah” (artinya : saya pengen belajar Bhs. Arab langsung dari lidah orang Arab Syekh), beliau manggut-manggut, Pertanyaan berikutnya : “apa pendapatmu tentang wanita yang berpakaian ketat?”, Saya jawab : “haram Syekh”, Syekh : “dalilmu”?, saya bacakan dengan lancar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan,Para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

(Alhamdulillah, sejak di Stiba teks Arab Hadits ini sudah saya hafal diluar kepala karena beberapa sebab; 1. Taufiq dari Allah, 2. Terima kasih pada ust. Busman Ali yang menulis hadits tersebut kemudian ditempel di ranjangnya, tiap hari saya ikut baca akhirnya hafal, 3. Sering diceramahkan karena materi andalan, Wa lillahilhamd), Kalo tadi Syekh ngangguk-ngangguk depan belakang, sekarang kiri kanan mirip India) seraya berkata : “Ahsanta”, kira-kira terjemah bebasnya “mantap”!, Pertanyaan terakhir : “apa pandanganmu tentang rokok?”, sigap saya jawab : “haram”. Syekh : “apa dalilmu”. Saya : “wa laa tubadzir tabdZira” (dan janganlah engkau berlaku boros), “wala taqtuluu anfusakum” (dan janganlah engkau membunuh dirimu)”. Muka Syekh berseri-seri, spontan beliau  : “saufa araaka fi As-Sudan” (saya akan melihatmu di Sudan), Saya jawab : “insya Allah”, seraya tersenyum, karena saya tahu Syekh cuma menghibur, dan banyak Syekh kalo Muqobalah tes wawancara peserta bilang begitu atau yang serupa, sebagaimana pengakuan teman-teman yang pernah ikut, baik muqobalah Medinah atau Mesir, namun ternyata pas pengumuman namanya gak muncul, jadi jangan terlalu berharap, apalagi jika statusmu hanya partisipan wahai ‘LELAKI TUA’ !.

Muqabalah selesai, waktu berjalan, kembali sibuk dalam aktifitas kuliah, mengajar TK dan TPA (kegiatan ini merupakan kesibukan sebagian mahasiswa di waktu Sore, berjalan atau bersepeda menyusuri kampung-kampung dan menembus hutan-hutan serta semak belukar, bahkan menyeberangi sungai dengan melalui jembatan, namanya ; khidmatul mujtama’/pelayanan masyrakat, dan hasilnya sangat positif; disamping anak-anak kampung diajar ilmu syar’i dan mengaji, orang tuanya juga ikut terbentuk dengan kegiatan POS/Pengajian Orangtua Santri, manfaat materilnya juga ada; yaitu diundang makan dirumah santri dan terkadang ada yang berlabuh cintanya baik disengaja ataupun direncanakan sehingga berakhir pada walimah syar’i yang bersahaja berbalut cinta dan asa), ada juga mahasiswa yang sibuk merukyah, sayalah diantaranya, berawal dari kedatangan seorang Syekh dari Saudi yang bernama ‘Abu Yasir’ yang merupakan pakar rukyah di Saudi, bahkan nampaknya ia masyhur dikalangan jin, karena jika beliau merukyah dan jinnya sudah nyerah dan mau keluar, beliau bilang : “pergilah engkau menuntut ilmu ke Mekah, sampaikan pada jin-jin yang ada disana bahwa kau diutus oleh Abu Yasir” (hehehe, kalo jin gak perlu Muqobalah), makanya, setelah beliau pulang dan ilmunya kami dan saya sudah warisi (merukyah), setiap ada pasien dirukyah dan jinnya nyerah, saya juga bilang : “pergilah kau ke Mekah menuntut ilmu, dan sampaikan pada jin-jin yang ada disana bahwa engkau diutus oleh MURIDnya Abu Yasir”!.. (Hahaha, numpang ketenaran Abu Yasir), dan karena semangat merukyah biasanya orang sakit gigi juga kita rukyah dengan asumsi jangan sampai penyebabnya jin (kasian Jin).

Akhirnya nilai saya di Stiba mulai merosot karena disibukkan rukyah, banyak pasien ke kampus, undangan merukyah diluar kampus dan mengisi seminar rukyah semakin padat, dan puncaknya adalah ketika terbit kaset rukyah amatiran edisi jadul yang saya gak sangka bisa tersebar luas kemana-mana, padahal itu adalah ketidak sengajaan, berawal dari adanya satu keluarga yang semua anggota keluarganya terkena gangguan jin/sihir, sampai terkadang saya dikeroyok, betul-betul sangat menguras waktu dan tenaga saat itu, namun -Masya Allah- semua ada hikmahnya, sekeluarga itu dapat hidayah dan sekarang mereka termasuk penggerak dan penyokong dakwah.

Akhirnya saya berinisiatif merekam bacaan ayat-ayat rukyah untuk keluarga tersebut, mengapa saya katakan amatir? Karena salah satu ruang kelas di Stiba saya pinjam dan disulap menjadi studio, jendela ditutup rapat dan lubang-lubang ventilasi dan bawah pintu disumpat pakai kain, operatornya Hasbin, menggunakan tape rekaman beliau, pengantarnya Akrama, Adzannya ‘Prof’. Syaibani, ngajinya saya, jadilah satu kaset yang sekali lagi, sebenarnya dikhususkan untuk keluarga tersebut, agar didengar setiap saat namun, ternyata bocor keluar, kebetulan setelah kasetnya jadi datanglah salah seorang pengurus Infokom Wahdah Islamiyah, ust. Anwar Aras dan meminta untuk menggandakannya, dari situlah kaset tersebut tersebar kemana-mana, bahkan menurut info ada pedagang di pasar sentral terus nyetel kaset itu tiap hari di kiosnya, trus di rumah bersalin Wahdah tiap malam disetel, apalagi dulu tempat itu dikenal angker yang awalnya merupakan asrama putri Stiba, sebelumnya diberitakan sekeluarga pemiliki rumah dibantai, dijual murah dan dibelilah Wahdah Islamiyah.

Saya, Kamal, Wawan, Zulkarnain (para perukyah) bergantian piket disana, dan lucunya ada juga pengurus masjid yang putar kaset rukyah saya sbelum adzan di masjid-masjid (hahahah.. Merukyah satu kampung), dan menurut info ‘Prof’. Syaibani, ada satu kampung di Sidrap waktu dengar kaset rukyah itu dari speaker mesjid mereka semua sakit kepala, biarlah.. Semoga menjadi pahala disisi Allah, walaupun akhirnya saya secara resmi lewat web site Wahdah Islamiyah menyatakan mencabut kaset tersebut dari peredaran dan meminta agar tidak diperbanyak lagi karena setelah kami talaqqi bacaan Qur’an banyak kekeliruannya dan saya beristighfar pada Allah, walaupun ternyata sekarang masih beredar diam-diam dari hp ke hp. Dan sungguh kawan, kaset itu penuh kenangan…

Ujian semester kembali tiba, akhir 2003, para mahasiswa bersiap siaga, fokus muraja’ah mengulang pelajaran, lucu-lucu model mereka; ada yang buat kopi pake garam agar lebih melek, ada yang rendam kaki di baskom, dan ada juga yang pake trik setiap ngantuk ia push up sepuluh kali untuk mengusir rasa kantuk , ngantuk push up lagi, begitu seterusnya, setelah keluar pengumuman nilainya ‘rasib’/mengulang gak naik kelas tapi sisi positifnya badannya jadi kekar dan berotot karena push up, itulah hikmah dibalik musibah kawan..

Sebenarnya saya termasuk yang agak santai kalau ujian, bahkan biasanya saya usil gangguin mahasiswa yang lagi muraja’ah atau jatuhkan mental pesaing, bayangkan.. Mereka sibuk dengan diktat dan muqarrar, saya sengaja membaca dihadapan mereka buku lain yang gak ada kaitannya dengan mata kuliah yang hendak diujikan (kalo di ESeMPE lebih sadis lagi, yang saya bawa komik Dragon Ball atau Asmaryaman Kho Pin Ho), bukankah itu cara elegant menjatuhkan mental mereka? Padahal sebenarnya tanpa sepengetahuan mereka, saya belajar dibalik tirai dalam ranjang di asrama (hehehe), terkadang persaingan butuh sedikit keculasan karena sesungguhnya perang adalah tipu muslihat.

Mata kuliah yang paling saya seriusi adalah ‘Hadits’, dosennya Ust. Muhammad Yusran -hafidzahullah-, karena beliau sangat disiplin dan ketat dalam pembuatan dan pemeriksaan soal-soal, ditambah muatan materi yang memang padat, butuh hafalan dan konsentrasi, terutama jika menghafal nama-nama perawi agar tidak bercampur dan terbalik tahun kelahiran dan kematian mereka, diantara bukti keseriusan saya, setiap mata kuliah beliau diujikan, saya bersemedi dalam tirai atau jika ada izin, saya keluar meninggalkan asrama dan mencari tempat yang kondusif, tempat alternatif langganan saya di kost-an salah seorang teman sepermainan sejak kecil, namanya Adnan Abbas, sekarang beliau telah menyelesaikan Program Pasca Sarjana di UGM, jurusan tekhnik Sipil, baru beberapa bulan lalu saya ke Kebumen hadiri pernikahannya dan Alhamdulillah istrinya sudah hami sekarang,(akan saya khususkan tulisan tentangnya insya Allah, karena dia termasuk sahabat special), alamatnya di Jl. Cumi-Cumi, No. 1, rumahnya 5 lantai, dari balkon lantai lima bisa terlihat separuh Makassar, terutama dengan jelas Masjid Al-Markaz, tempat yang tenang dan syahdu, selepas Ashar ditemani secangkir kopi saya mulai membuka buku muqarrar Hadits, tiba-tiba dilayar hp Siemens C35 saya, terlihat tanda pesan masuk, ternyata dari Zulkarnain, mahasiswa senior saya dari Enrekang, isinya : “Man, selamat nah..”. Itu saja, biasa lah, sesama kami sering saling usil, (eh, saya lupa sampaikan bahwa hp C35 itu adalah hp bekas milik Abdul Haq yang saya beli, kebetulan dikasi hadiah amplop dari keluarga yang saya rukyah, lumayan isinya, hp itu hasilnya, Alhamdulillah), nggak lama berselang, hp berbunyi lagi, ada pesan masuk, kali ini dari Hasbin : “Selamat atas kelulusannya ke Sudan”. Ternyata mereka sepakat ngerjain saya, saya nggak peduli, bacaan dilanjutkan, tiba-tiba ada lagi sms masuk, kali ini dari teman di Cilegon, alumni Stiba juga, namanya Alfi Syahr, beliau kasi info : “MAN, ANTUM LULUS KE SUDAN, ANA JUGA LULUS, BEASISWA”.

Perasaan?, gado-gado waktu itu, antara percaya dan tidak, percaya karena beritanya ‘mutawatir’, tidak percaya karena saya tahu, diri ini cuma ‘Partisipan’, muraja’ah sore itu gak fokus, harus perjelas lagi beritanya. Keesokan harinya setelah ujian setengah ngebut saya dan Sofyan Nur (yang juga dikabarkan lulus) ke UIN cari info, dan ternyata benar, selain tertempel di papan pengumuman, kami ketemu langsung dengan staf yang menjadi panitia penerimaan, dari STIBA ada empat orang; saya, Mukran, Sofyan Nur, Zulfiadi (walau namanya cuma tertulis Zulfia, makanya beliu juga bergerilya mencari kejelasan), staf panitia kasi nomer telpon; katanya kami harus kontak dan melapor ke Depag Jakarta, sepulang dari sana kami singgah di Wartel Samata, langsung kontak nomer telpon yang dibagi staf panitia, yang terima membenarkan bahwa kami berempat lulus, bahkan terkesan memarahi kami ‘kenapa baru nelpon’ !, dan gawatnya lagi deadline pendaftaran ulang tinggal tiga hari, pengumumannya sudah lama terbit tapi telat sampai infonya ke kami, berkas harus diserahkan lengkap, telah diterjemah beserta photo copy pasport, surat keterangan sehat, kelakuan baik, rekomendasi, photo, harus segera dikirim!, Ya Ilahi !, kami kebingungan. Tapi, maksimalkn usaha (walaupun terus terang kawan, kegembiraan saya mungkin gak sama jika berita kelulusan itu dari Universitas Medinah atau Ummul Qura Mekah yang menjadi impian dan idola serta jelas segalanya, mulai dari tiket, bentuk beasiswa ditambah ada panitia yang ditunjuk pihak universitas membantu pengurusan adminitrasi dan kelengkapan berkas, kalo Sudan beda, serba gelap, gak ada gambaran, urus sendiri, ditambah lagi motivasi dari ust-ust gak signifikan bahkan ada yang menakut-nakuti, juga gak ada kenalan disana, ibaratnya jika saya jadi berangkat adalah merupakan ‘kelinci percobaan’ dan terkesan nekat, dan dalam hal ini saya menyampaikan Syukran dan Jazakumullahu khairan pada DR. Iskandar hafidzahullah, alumni Pakistan kalo gak salah, dosen sejarah waktu itu, setelah ujian matkul beliau saya sempat minta pandangannya dan beliau berkata : “berangkatlah, tawakkal pada Allah, ini adalah kesempatan emas”).

Kami bersepakat segera urus dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya, setelah dari wartel kami meluncur ke Stiba, hujan deras, masih segar dalam ingatan, yang bonceng Sofyan, kami gak pake mantel, bibirnya komat-kamit, saya kira beliau berdzikir ternyata kedinginan, kami harus gerak cepat, kalo Mukran sudah beres semua bahkan, gak peduli ujian beliau langsung pulang kampung untuk pamitan ke keluarganya. Hari itu juga kami ke kantor Imigrasi urus Passport (terima kasih akh. Abdullah Babul Jihad yang membantu kami, dalam sekejap urusan passport kelar, alhamdulillah), masalah paling besar adalah terjemah ijazah, surat keterangan berbadan sehat dan surat keterangan berkelakuan baik, harus diterjemah resmi di Jakarta dan biasanya baru selesai paling cepat butuh waktu tiga hari, belum pengirimannya, Allahul Musta’an.. Saya pasrah, kirimkan saja yang ada, saya berinisiatif terjemahkan sendiri ijazah, saya ke rumah ust. Yusran, minta tolong dibantu terjemah ijazah dengan diberi keterangan dibawah : “TURJIMAT HADZIHI AS-SYAHADAH MA’A AT-TASHDIQ MIN QIBALI AL-MASRASAH AL-MADZKURAH A’LAAHU” /ijazah ini diterjemah dengan persaksian dari Sekolah (kawan, dokumentasinya masih tersimpan, jika anda mau nanti saya perlihatkan), adapun surat berbadan sehat, hari itu juga dibantu dr. Syamsuddin yang tugas di RS. Wahidin -jazahullahu khairan-, nggak sempat lagi diterjemah, saya cuma tulis dibawah seperti pada ijazah ‘Syahadatu As-Shihhah’/Surat keterangan berbadan sehat, Surat keterangan kelakuan baik saya ambil di kepolisian Resort Bulukumba, kampung saya, karena ada ikhwah yang polisi jadi lebih mudah disana (terima kasih Pak. Alam, jazakallahu khairan). Besok paginya kami (saya dan Sofyan pulang kampung masing-masing, tujuan utama pengesahan dan stempel ijazah yang sudah diterjemah amatiran oleh pihak yang tidak resmi, yang penting usaha, lakukan apa yang bisa kau lakukan, agar tidak ada yang kau sesali setelahnya) dan Subhanallah, saking capeknya, kami naik mobil umum menuju Bulukumba, jarak 165 KM, begitu mobil keluar dari terminal Mallengkeri, kami langsung tertidur, begitu terbangun langsung mata kami tertuju pada gerbang bertuliskan ‘SELAMAT DATANG DI BUMI PANRITA LOPI, BULUKUMBA’, rasanya hanya sekejap (jadi ingat kisah Ashabul Kahfi, hehehe). Kami tiba larut malam, keesokan harinya Sofyan melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya Sinjai, adapun saya langsung ke Sekolah minta tanda tangan dan stempel sekolah (urusan dipermudah karena kami sejak di MAN 1 Alhamdulillah berprestasi, juara umum terus dan pernah menjabat ketua OSIS, bahkan kalo acara PORSENI antar sekolah, MAN 1 sering juara umum karena dapat banyak emas; lomba Ceramah, Adzan, Shalat, Qasidah, Puisi, dan saya yang memerankan semuanya, Alhamdulillah). Hari itu juga kami kembali ke Makassar, dengan penuh tawakkal, berkas seadanya saya kirim via Fax ke nomer Depag,…
Apa yang terjadi setelahnya…?
Kemana berkas saya nyasar?
Lalu mengapa cuma saya yang berangkat bersama Mukran sedang Sofyan dan Zulfiadi gak jadi?
Bagaimana kisah tangisan Sofyan di balik tirai kamarnya..?

Nantikan kelanjutannya pada episode berikutnya insya Allah…

Bersambung…

Tinggalkan Balasan