Khutbah Terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Khutbah Terakhir RasulullahLAZISWahdah.com  – Suara-suara di dalam Masjid Nabawi meninggi. Kaum Muslimin penduduk kota Madinah berkumpul, khawatir akan keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah kemudian bertanya kepada istrinya: “Ada apa ini?”  ‘Aisyah menjawab: “Sesungguhnya manusia mengkhawatirkanmu wahai Rasulullah.” Beliaupun meminta agar dibawa keluar untuk menemui sahabat-sahabatnya. Beliau berkehendak untuk bangun, akan tetapi tidak mampu karena sakit yang beliau alami semakin parah. Maka para sahabat menyiramkan tujuh timba air kepada beliau hingga bisa bangkit, dan menuntunnya naik ke atas mimbar.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan suatu wejangan yang merupakan khutbah terakhir beliau. Diantara penggalan nasehat di penghujung usia beliau tersebut adalah:

“Wahai manusia, demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan pada kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah dibukanya pintu dunia atas kalian, sehingga kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”

 

Saudaraku…

Apa yang Rasulullah khawatirkan pada diri-diri kita ini, harusnya membuat kita lebih waspada, apalagi Rasulullah menyampaikannya di saat maut tidak lama lagi akan menghampiri Beliau, tentu masalah ini bukan masalah yang remeh.

Ya, ia adalah dunia. Ia yang telah banyak menipu manusia hingga ia lupa untuk apa ia datang ke dunia nan singkat ini, hingga tak ingin beranjak dari gelimang perangkat dan kemewahan yang dimiliki makhluk Allah tersebut.

 

Apa yang dikhawatirkan oleh Rasulullah, persis dengan kekhawatiran sahabatnya yang mulia Umar bin Khattab. Saat Allah mengaruniakan kemenangan pada  kaum muslimin setelah ditaklukkannya imperium Romawi lalu disusul dengan perang Qadisiyah dimana kaum Muslimin berhasil mengalahkan negara adidaya Persia, sehingga sempurnalah kemenangan tersebut.

Mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab justru menangis dan bernasehat:

“Demi Allah,aku tidak takut dengan beratnya cobaan serta kehidupan yangg sederhana. Namun yang aku takutkan adalah kecintaan pada benda-benda tersebut. Jika dunia memberikan sekelompok manusia dengan hal semacam ini, maka akan ada lebih banyak timbul rasa iri, benci, dan ego di antara mereka. Mereka akan lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat.”

Lalu beliau berdoa: “Ya Tuhanku, Engkau tak memberikan semua ini pada Rasul dan Nabi-Mu padahal Engkau lebih memuliakan dan mencintai mereka lebih dari aku. Engkau tak berikan  semua semua ini pada Abu Bakar ketika Engkau lebih mencintai dan memuliakannya lebih dari aku. Aku memohon pada-Mu untuk melindungiku dari kecintaanku pada barang-barang ini.”

Saudaraku…

Jika pintu dunia terbuka lebar kepadamu, saat engkau begitu mudah mendapatkan karunia gelimang harta. Maka khawatirlah pada dirimu, sebagaimana Rasulullah mengingatkan sebelum wafatnya, bahwa kebanyakan orang-orang sebelum kita binasa justru karena harta tersebut. Dari itu, berbekallah untuk duniamu sebatas berapa lama engkau bisa tinggal di dalamnya, dan berbekallah untuk akhiratmu sebanding dengan berapa lama engkau akan tinggal di sana.

Wallohu A’lam

Madinah, 7 Shafar 1437 H.

Oleh: Marzuki Umar, Lc.

Artikel : Majalah SEDEKAH PLUS

Tinggalkan komentar

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening