Kisah dalam al-Qur’an: Inspirasi dan Pelajaran yang Abadi

Sepertiga al-Qur’an memuat kisah-kisah masa lalu maupun yang belum terjadi. Narasi yang tidak dibangun atas dasar hayalan. Kisah yang akan tetap memberi kita pelajaran yang berharga sekalipun terus diulang. Inspirasi yang tidak pernah habis dijelaskan meskipun kita ceritakan kembali. Fil ‘ādah ifadah, setiap pengulangan selalu ada faedah.

Membaca kisah, terutama kisah dalam al-Qur’an mengingatkan kita pada empat unsur penting. Alur, plot, event (peristiwa) dan makna pelajaran yang terkandung di dalamnya. Empat variable inilah menjadi interpretasi kita dalam membaca kisah seutuhnya.

Kisah Nabi Yunus misalnya. Apa yang terlintas dalam benak kita pertamakali?

Dimakan ikan. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada Rabb  yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiyā’: 87-88). Itu baru peristiwanya. Bukan inti ceritanya. Lalu apa maknanya? Pelajaran dibaliknya.

Inti kisahnya adalah kaumnya akhirnya beriman. “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih.–Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu” (QS. As-Shāffāt: 147-148).

Ketika kita membaca kisah, tidak hanya membaca secara scanning. Akan tetapi pemaknaan kita terhadap pelajaran yang berharga. Dan kisah yang paling berharga dan bermakna ada di dalam al-Qur’an maupun Sunnah.

Kisah itu menyediakan berbagai makna yang akan kita sepakati. Dan kita menyadari, tidak pernah tahu di bagian mana hikmah dan kebaikan itu disimpan. Makna itu tetap mewah dan berharga. Maka proses pembelajaran tidak boleh putus.

Rasulullah contohnya, al-Qur’an kemudian menyatu menjadi akhlaknya. Ketika seseorang mempelajari ilmu, kemudian ilmu itu melebur menjadi dirinya. 

Sebagian orang lebih mementingkan rupa daripada makna. Selebrasi daripada esensi. Ketenaran daripada kebenaran. Sehingga eksistensi dari sebuah pemaknaan menjadi abstrak. Kita terjebak dalam kotak kecil bernama rutinitas. Lalu ruang makna menjadi hampa. 

Ada ruang batas antara tujuan dan perjuangan. Batas yang mengharuskan manusia melewati banyak kesabaran, pembelajaran kemudian menemukan makna. Sebagian orang sedang berjuang tapi tidak memiliki tujuan, sehingga kehilangan makna. Mereka sibuk membangun riasan materi, mencapai cita-cita tapi tidak bahagia.

Batas tidak menjauhkan atau mendekatkan, yang melakukannya adalah hati. Pemimpin memerintah bukan dengan kekuasaan, tapi hati. Ketaatan pada pemimpin bukan sebab ‘keterpaksaan’, adalah panggilan hati nurani.

Perumpaan Arab mengatakan,

“Deraskan maknamu-kalimatmu, bukan keraskan suaramu. Sebab hujan yang turunlah yang  membasahi bumi, yang menumbuhkan tanaman, bukan suara petir”.

Hari ini kita akan melihat bahwa orang yang bermanfaatlah menjadi orang yang paling bermakna. Seberapa pun itu peran kita dalam kehidupan. “Sebaik-baik manusia” kata Nabi. “Yang paling bermanfaat kepada manusia”. Ketika hendak bekerja, kerjakan yang bermanfaat. Dan sebaik-baik yang bermanfaat, agama adalah panduannya.

Meskipun adat, tapi syariat melarang. Sekalipun bakat, belum tentu hebat menurut syariat. Standar kita adalah syariat. Sehingga kita tidak kehilangan makna.

Dua hal yang menjadi pilar peran kita. Apa potensi yang kita miliki dan kewajiban kita terhadap zaman ini. Wājibul waqt. Sehingga kita melakukan sesuatu bukan berulang tanpa makna. AlItqon fil ‘amal. Totalitas dalam bekerja. Berkarya sesuai tupoksinya. Sehingga hasil yang kita dapatkan juga maksimal.

Rasulullah telah membagi dan menempatkan para sahabatnya sesuai perannya. Umar bin Khattab tidak pernah kita dapatkan menjadi panglima perang, akan tetapi menjadi khalifah. Sebab panglima perang tipenya adalah orang yang tenang, tidak tergesa-gesa. Sehingga mudah mengontrol pasukan tetap kondusif. Bukan tempramental. Tetapi harus cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Prototipe panglima perang contohnya Khalid bin Walid. Begitupun Abu Hurairah punya peran menyimpan sabda Nabi. Dan masih banyak lagi contoh sahabat lainnya.

Di zaman Khalifah Umar Ibnu Abdul Azis, zakat melimpah, kesejahteraan merata.  sampai hewan pun mendapat jatah dari Baitul Māl. Menariknya, cerita-pembicaraan orang-orang di pasar, jalan, masjid dan tempat lainnya bukan sebagaimana tema umumnya tentang dunia. Akan tetapi mereka membicarakan, “Bagaimana shalatmu, puasamu, bacaan al-Qur’anmu, apakah kamu sudah mengikuti mejelis ilmu?”. Jadi orang yang paling sejahtera punya peluang menjadi orang yang paling bertaqwa. Namun bukan berarti kesejahteraan otomatis membuat orang bertaqwa. Hanya kebutuhan materinya terpenuhi.

Kesejahteraan materi adalah wasilah untuk kita semakin dekat kepada Allah. Bukan sebaliknya. Makna inilah yang sering membuat orang gagal paham terhadap konsep ibadah-muamalah, ilmu-amal. Disinilah peran syariat menjelaskan konsep kehidupan yang sempurna.

“Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata” kata Abdullah bin Mas’ud. “Tetapi ilmu itu menimbulkan taqwa kepada Rabb”.  Hari ini begitu banyak orang-orang yang mempermasalahkan bagaimana definisi ulama al-mu’tabar sebenarnya. Apakah dengan deretan gelar, luasnya ilmu atau banyaknya pengikut. Bukan itu. Standar pembedanya adalah al-khasyah

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para Ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28). Rasa takutnya kepada Allah. Sebab bukanlah ilmu jika tidak menjadikan kita semakin takut kepada Allah. Hakekat dari sebuah ilmu adalah rasa takut. Itulah makna taqwa.

Demikianlah artikel tentang kisah al-Qur’an ini. Semoga bermanfaat!

Oleh: Muhammad Scilta Riska, SH. (Dai Tanjung Pinang, Riau)

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening