Perang Uhud
LAZISWahdah.com 
– Peristiwa Paling Berat bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
“Hal atâ ‘alaika yaumun asyaddu min yaumi Uhud?” Ibunda Aisyah Radhiyallahu anha

Perang Uhud adalah perang yang penuh pelajaran. Salah satu pelajaran terbesar dan terkenang dari perang ini adalah pentingnya ketaatan kepada komandan perang. Inilah perang uhud; kemenangan yang hampir diraih pada awal pertempuran itu berubah menjadi sebuah tragedi yang membuat banyak shahabat gugur sebagai syuhada’.

Pada perang tersebut, Hanzhalah meninggal dunia setelah ditikam oleh Syaddad bin Al-Aswad. Anas bin Nadhar pun mati syahid. Pun dengan Umarah bin Yazid bin As-Sakan, Mush’ab bin Umair, Sa’ad bin Rabi’, Al-Ushairim dari Bani Abdul Asyhal Amr bin Tsabit, Abdullah bin Amr bin Haram, Amr bin Jamuh, dan beberapa shahabat yang lainnya, di mana jumlah syuhada’ pada perang ini berjumlah 70 shahabat radhiyallahu anhum ajma’in.

Pada perang ini pula, singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthallib dibunuh oleh Wahsyi, budak Jubair bin Muth’im dari Habasyah yang ahli melemparkan tombak kecil. Sungguh, kematian paman Nabi saw ini membuat beliau amat berduka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, “Kami tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan menangis lebih sesenggukan daripada tangisnya atas kematian Hamzah bin Abdul Muthalib. Beliau memeluknya, kemudian berdiri di sampingnya. Beliau menangis lagi hingga terisak-isak.”

Pada perang Uhud ini juga, Nabi saw dilempar dengan batu oleh Utbah bin Abi Waqash hingga mengenai lambung beliau dan gigi seri serta melukai wajah beliau. Beliau juga dipukul oleh Abdullah bin Syihab Az-Zuhri hingga mengenai kening beliau. Setelah itu, seorang penunggang kuda yang beringas, yaitu Abdullah bin Qami’ah memukulkan pedang ke bahu beliau dengan pukulan keras yang menyebabkan beliau masih merasa kesakitan hingga lebih dari sebulan. Untunglah, pukulan tersebut tidak sampai menembus dan merusak baju besi yang beliau kenakan. Setelah itu, Abdullah bin Qami’ah juga memukul beliau pada bagian tulang pipi sekeras pukulan yang pertama. Pukulan ini menyebabkan dua mata rantai pengikat topi besi beliau terlepas dan menancap di kening beliau. Di dalam Shahîh Muslim (3/1417) disebutkan bahwa gigi seri yang dekat dengan gigi taring beliau pecah dan kepala beliau terluka.

Pada perang Uhud ini pula, beliau terkena lemparan anak panah pada bagian tulang pipi hingga menyebabkan dua mata rantai pengikat topi besi beliau yang ada di bagian itu putus. Abu Ubaidah kemudian menggigit kepingan mata rantai topi besi tersebut dengan giginya karena khawatir akan menyakiti Rasulullah saw. Ia akhirnya berhasil melepaskannya. Tetapi gigi serinya menjadi goyah karena kerasnya upaya pencabutan tersebut. Abu Ubaidah juga berbuat seperti yang pertama hingga berhasil melepaskan potongan yang kedua. Akibatnya gigi serinya yang lain juga ikut goyah.

Lantas adakah peristiwa yang lebih hebat dan lebih berat bagi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melebihi tragedi pada perang Uhud? Pertanyaan ini pernah dilontarkan oleh ibunda Aisyah radhiyallahu anha kepada beliau, yang kemudian diabadikan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya (3/1180). .

Urwah meriwayatkan bahwa ibunda Aisyah pernah mengabarkan kepadanya bahwa suatu hari dia pernah berkata kepada Nabi saw, “Hal atâ ‘alaika yaumun asyaddu min yaumi Uhud…., pernahkan kau alami hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”

Kemudian beliau menjawab, “Aku telah mendapatkan perlakuan dari kaummu. Dan itu menjadi hari yang tersulit yang aku dapatkan dari mereka di aqabah –sebuah tempat di Thaif. Karena ketika itu aku menawarkan kepada Ibnu Abd Yalail bin Abd Kilal, namun ia tidak memenuhi ajakanku. Lalu aku pergi dengan wajah berduka, hingga aku tiba di Qarn Ats-Tsa’alib (sekarang Qarn Al-Manazil), lalu aku mengangkat kepalaku. Ternyata ada awan yang menaungiku. Lalu aku melihat awan tersebut, tiba-tiba ada Jibril yang menyeru kepadaku, dan berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu. Maka Allah mengutus malaikat penjaga gunung ini agar engkau perintahkan sesuai kehendakmu perihal mereka (kaummu).
Malaikat penjaga gunung itu pun memanggilku, dan mengucapkan salam kepadaku, lalu berkata, “Yâ Muhammad, -faqala dzâlika fîmâ syi’ta- in syi’ta an uthbiqa ‘alaihimul akhsyabain….., wahai Muhammad, jika kamu mau, aku akan timpakan dua gunung ini (Abu Qubais dan Qua’iqa’an) kepada mereka.”

Namun Nabi saw bersabda, “Bal arjû an yukhrijallâhu min ashlâbihim man ya’budullâhu wahdahu lâ yusyriku bihi syai’an…., bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka generasi yang beribadah kepada Allah semata, dan tidak menserikatkan-Nya dengan sesuatu apapun juga.” (HR. Al-Bukhari).

Apa yang terjadi di Thaif?
Mari kita menyeksamai kisah yang disebutkan oleh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri tentang peristiwa yang terjadi di kota Thaif di dalam bukunya yang fenomenal, Ar-Rahîq Al-Makhtûm (hal. 125-126).

Pada bulan Syawwal tahun 10 dari kenabian, atau tepatnya pada penghujung bulan Mei atau Juni 619 M, Rasulullah saw keluar menuju Thaif yang letaknya sekitar 60 mil dari kota Mekah. Beliau pergi ke sana dengan berjalan kaki, didampingi Zaid bin Haritsah, yang saat itu masih menjadi budak. Setiap melewati perkampungan sebuah kabilah, beliau mengajak mereka kepada Islam, namun tidak ada seorang pun yang menyambut ajakan beliau.

Tatkala tiba di Thaif, beliau mendekati tiga orang bersaudara yang merupakan para pemuka kabilah Tsaqif. Mereka adalah Abd Yalail, Mas’ud dan Habib. Ketiganya adalah putra Amru bin Umair Ats-Tsaqafi. Beliau duduk-duduk bersama mereka sembari mengajak mereka kepada Allah dan membela Islam.

Namun salah seorang mereka berkata, “Jika Allah benar-benar mengutusmu, itu berarti Dia telah merobek-robek kiswah Ka’bah.” Orang kedua berkata, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain selain dirimu?” Orang terakhir berkata, “Demi Allah, aku sekali-kali tidak akan mau berbicara denganmu! Jika memang engkau seorang rasul, tentu engkau adalah bahaya besar bila aku menjawab pertanyaanmu, dan jika engkau seorang pendusta terhadap Allah, maka tidak patut pula aku berbicara denganmu.” Lalu beliau berkata kepada mereka, “Bila memang itu yang menjadi keputusan kalian, maka rahasiakanlah tentang diriku.”

Rasulullah saw tinggal di tengah penduduk Thaif selama sepuluh hari. Dan selama masa itu, beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan para pemuka mereka. Namun jawaban mereka hanyalah, “Keluarlah dari negeri kami!”

Mereka bahkan membiarkan beliau menjadi bulan-bulanan orang-orang bodoh di kalangan mereka. ketika beliau hendak meninggalkan negeri tersebut, orang-orang bodoh itu beserta budak-budak mereka mencaci maki dan meneriaki beliau, hingga membuat banyak orang berkumpul. Mereka menghadang beliau dengan membuat dua barisan lalu melempari beliau dengan batu dan ucapan-ucapan tak senonoh, serta mengarahkannya ke urat di atas tumit beliau, sehingga kedua sandal beliau bersimbah darah.

Zaid bin Haritsah yang pergi bersama beliau akhirnya menjadikan dirinya sebagai perisai untuk membentengi diri beliau saw. Tindakan ini mengakibatkan kepalanya mengalami luka-luka, sedangkan orang-orang tersebut terus melakukan itu hingga memaksanya berlindung ke tembok milik Utbah dan Syaibah, dua orang putra Rabi’ah yang terletak 3 mil dari kota Thaif. Ketika sudah berlindung di sana, mereka pun meninggalkan Rasulullah saw.

Beliau menghampiri sebuah pohon anggur lalu duduk-duduk dan berteduh di bawah naungannya menghadap ke tembok. Setelah duduk dan merasa tenang kembali, beliau berdoa dengan sebuah doa yang amat masyhur. Doa yang menunjukkan betapa hati beliau dipenuhi rasa duka sekaligus sedih terhadap sikap keras yang dialaminya serta menyayangkan tidak adanya seorang pun yang beriman.

Beliau mengadu, “Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu kelemahan diriku, sedikitnya upayaku serta hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Dzat Yang Paling Pengasih di antara para pengasih! Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada siapa lagi Engkau menyerahkan diriku? Apakah kepada orang yang jauh tetapi bermuka masam terhadapku? Atau kepada musuh yang telah menguasai urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak ambil peduli.

Akan tetapi, ampunan yang Engkau anugerahkan adalah lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan perantaraan cahaya wajah-Mu yang menyinari segenap kegelapan dan yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau turunkan murka-Mu kepadaku, atau kebecian-Mu melanda diriku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau menjadi ridha. Tidak ada daya serta kemampuan melainkan karena perkenan-Mu.”

Kemudian beliau beristirahat sejenak di tembok tersebut.

Setelah keluar dari tembok tersebut, Rasulullah saw pulang menuju Mekah dengan perasaan getir dan sedih serta hati yang hancur lebur. Tatkala sampai di suatu tempat yang bernama Qarn Al-Manazil, Allah mengutus Jibril kepadanya bersama malaikat penjaga gunung yang menunggu perintahnya untuk meratakan Akhsyabain (dua gunung, yaitu Qubais dan Qua’iqa’an) terhadap penduduk Tha’if.

Inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Sekalipun beliau merasakan kepayahan jiwa dan raga, yang tumpah dari pribadinya tetaplah cinta kepada umatnya. Yang paling berat baginya bukan lemparan batu, bukan dijeratnya leher beliau ketika ruku’, bukan juga saat beliau bersujud lalu kepala dan punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan cacian dan celaan; bukan tuduhan gila, penyihir, atau dukun. Bukan pula tiga tahun kefakiran dalam pemboikotan.

Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah ketika wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya diserahkan sepenuhnya kepada dirinya. Yang berat bagi Nabi dan Rasul mulia itu adalah ketika dalam gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya. Tetapi, semua itu dijawab dengan harapan yang masih kelak; agar dari tulang sulbi mereka lahir generasi yang mentauhidkan Allah dan tidak mensyirikkan-Nya. Inilah Muhammad, yang terpuji di langit dan bumi.

Adakah pribadi seindah pribadinya?

Sumber: Air Minum dari Langit

Akhukum fillah, ibnu abdil bari.

Tinggalkan Balasan