Perjalanan Dakwah Yandry F. Daulay, Melangkah di Jalan Kebenaran

Langit di ufuk timur mulai berwarna jingga saat Yandry F. Daulay melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di sebuah desa kecil. Sepasang sandal usang menemani langkahnya, seperti saksi bisu perjalanan panjangnya dalam dakwah. Siapa sangka, pemuda yang lahir dari keluarga sederhana ini kini menjadi salah satu dai yang tangguh di medan dakwah.

Yandry bukan berasal dari keluarga yang berlimpah dalam ekonomi maupun keilmuan agama. Namun, ada satu hal yang begitu dijaga oleh kedua orang tuanya: memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Pendidikan, pakaian, dan makanan—semua diusahakan dengan penuh cinta. Dari sinilah Yandry tumbuh dengan semangat ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Sejak kecil, ia sudah diperkenalkan pada dunia ilmu oleh seorang guru yang begitu sabar mendidiknya, Ustadz Rusman. Sosok itu menjadi cahaya yang menuntunnya memahami nilai-nilai Islam dengan lebih dalam. Awalnya, Yandry hanya ikut-ikutan belajar bersama ustadz yang membimbingnya. Namun, lama-kelamaan, cahaya itu semakin terang, menariknya untuk lebih mendalami agama.

Pilihan itu membawanya menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA). Bertahun-tahun ia mengasah ilmunya, hingga akhirnya lulus pada tahun 2024. Namun, baginya, kelulusan itu bukan akhir dari perjalanan, melainkan gerbang baru untuk mengabdikan diri kepada umat.

Berbekal ilmu yang ia peroleh, Yandry terjun langsung ke tengah masyarakat. Dengan penuh semangat, ia ingin menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya, membina mereka agar lebih memahami Islam dengan baik. Namun, perjalanan dakwah tak selalu mulus.

Tidak sedikit penolakan yang ia hadapi—baik yang tersirat dengan halus maupun yang terang-terangan. Ada yang mencibir, ada yang enggan mendengar, dan ada pula yang justru menentang dengan keras. Namun, ia tak pernah gentar. Pendekatan emosional menjadi senjatanya. Ia menyapa dengan kelembutan, memahami karakter masyarakat tanpa memaksakan kehendak.

“Dakwah itu seni, bukan sekadar menyampaikan, tapi juga memahami keadaan,” ucapnya suatu ketika.

Tantangan lainnya datang dari perpecahan di kalangan umat. Banyak yang lebih senang berdebat dan menyerang sesama kelompok daripada mencari ilmu yang bermanfaat. Baginya, seorang dai harus menjadi jembatan, membangun komunikasi antara awam dan intelektual, mengajarkan mereka untuk lebih dewasa dalam beragama, bukan sekadar mempertahankan identitas kelompok semata.

Dalam menjalankan perannya, Yandry sadar bahwa menjaga keseimbangan antara dakwah dan kehidupan pribadi bukanlah hal mudah. Keluarga selalu menjadi pendukung utama, tetapi terkadang ada situasi di mana waktu untuk keduanya tidak bisa seimbang. Baginya, kuncinya adalah memberikan masing-masing haknya dengan baik, meski tidak selalu ideal.

Ia pun selalu berusaha menjaga semangat dengan bermuhasabah dan menghadiri majelis ilmu. Ia percaya bahwa seorang dai harus terus belajar dan mengasah diri, agar dakwahnya semakin bermakna.

Untuk generasi muda, Yandry berpesan agar mereka terus belajar, terutama dalam bidang agama. Ilmu adalah tanggung jawab bangsa, dan mencerdaskan kehidupan adalah amanah besar. Menurutnya, agama, modernitas, dan sains harus berjalan berdampingan. Namun, akidah yang kokoh harus menjadi dasar agar tidak mudah tergelincir dalam pemikiran yang menyesatkan.

“Peran dai sangat vital dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Agama mengajarkan kita hidup dalam kebaikan, dan para dai adalah jembatan untuk menyampaikan kebenaran itu. Maka, tolonglah para dai, dukung mereka dalam perjuangannya,” tuturnya.

Perjalanan Yandry F. Daulay masih panjang. Di setiap langkahnya, ia membawa harapan dan cahaya bagi umat. Meski tantangan selalu ada, ia yakin bahwa selagi dakwah dilakukan dengan hati, Allah akan selalu membuka jalan.

Luaskan manfaat sedekah Anda!

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening