Sabarkan Diri
LAZISWahdah.com – 
Mengumpulkan kebaikan-kebaikan tidak terjadi begitu saja. Harus ada keyakinan bersamanya. Banyak kebaikan berhenti menjadi niat sebab kurang yakin.

Menyempurnakan kebaikan- kebaikan tidak tercapai begitu saja. Harus ada kesabaran menyertainya. Banyak kebaikan akhirnya terurai-berai sebab hilangnya kesabaran.
Kesabaran adalah mata rantai perjuangan. Kesanggupan kita bertahan sampai batas perjuangan. Kesiapan kita menjalani proses yang sedemikian rupa menceritakan banyak prasangkaan, segala kemungkinan juga kekhawatiran. Sementara roda kehidupan tetap berjalan dan kita lebih memilih untuk yakin bahwa semua jawabanNya adalah iya. Dan Allah Maha Mengetahui untuk semua itu.

Adakah yang lebih prinsip dari kesabaran menjadi pilihan pertama. Penjelasan paling kompleks tentang hal ini bisa kita tadabburi dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihi salam. Kisah paling nyata yang akan menggugah, meneguhkan hati kita tentang hikmah kehidupan. Bahwa dibalik kesabaran ada sesuatu yang paling indah, pahala tanpa batas, jika kita mau menunggu. Atau kita akan kehilangan semuanya.

Adakah yang lebih utama dari kesabaran, sabar dalam arti mempertahankan. Kesiapan untuk tetap yakin disaat orang-orang meragukan. Kesabaran yang diuji dengan waktu untuk mengetahui sejauh mana kita memperjuangkan apa yang menjadi tujuan. Tujuan yang akan menjadi tempat pertemuan orang-orang dalam perjalanan.

Karya-karya fenomenal hari ini tidak lahir begitu saja. Ada proses panjang yang membuatnya lebih abadi. Imam Bukhari butuh 15 tahun menulis Shahih-nya. Imam Muslim menghabiskan 20 tahun menyelesaikan Shahih-nya. Atau Ibnul Jauzi disebutkan menulis 2000 jilid kitab setara 400.000 halaman. Dan semuanya ditulis manual tanpa sentuhan mesin.

Jarak nan jauh itu tidak ada, kesabaran kita yang tidak sampai, semangat kita yang gelap, tak lihat jalan. Sehingga memilih berhenti dititik mulai. Banyak orang yang berhenti di tengah jalan sebelumnya telah hilang kesabarannya. Kehilangan kesabaran kemudian kehilangan lebih banyak lagi. Kesempatan hidupnya, semangatnya sehingga ujian-ujian akan terasa semakin panjang.

Adakah yang lebih menguji dari kesabaran. Kesabaran dalam ranah hubungan kita manusia sebagai hamba dengan Rabb. Sabar dalam menjalankan ketaatan, menghindari kemungkaran dan sabar dalam menghadapi musibah.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah mendapat siksa hukuman cambuk semasa Khalifah al-Ma’mun mendesak untuk mengatakan al-Qur’an adalah makhluk. Ia tetap bersikukuh menolak untuk tidak mengatakan demikian. Dibalik jeruji besi itulah bertemu dengan Abdul Haitsam al-Ayyar.

Wahai Imam, saya ini seorang pencuri yang sudah didera dengan beribu-ribu cambukan. Sebenarnya, yang sakit itu hanya pada cambukan pertama” ujarnya. “Adapun cambukan berikutnya bagi saya tidak ada lagi rasanya“. Imam Ahmad termotivasi, pencuri ini bisa bersabar dengan hukuman cambuk dan tidak juga mau mengakui kesalahannya. “Maka janganlah Imam gelisah dalam menerima dera, sebab engkau dalam kebenaran” demikian beliau belajar akan kesabaran dari seorang pencuri.

Hidup ini jika tidak dengan kesabaran akan banyak hal yang kita lewatkan. Banyak yang gagal di tengah perjalanan sebab tidak sabar diri. Kehilangan hidupnya, impiannya, orang yang dicintainya, kesempatannya sebelumnya telah hilang kesabarannya.

Bersegera dengan tergesa-gesa dibedakan oleh kesabaran. Siapa yang tergesa-gesa sebelum waktunya justru dia akan dihukum dengan tidak mendapatkannya sama sekali. Semua ada waktunya masing-masing. Kita tidak bisa mendahului Waktu Indonesia Timur atau lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat sementara Waktu kita masih Indonesia Tengah.

Nabi Yusuf berkata, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku“.

Sunggguh pun Nabi Yusuf telah melihat dalam mimpi. Kenyataan mimpinya masih tetap rahasia. Begitu banyak hal dalam hidup ini masih rahasia. Takdir, ajal, rezeki, jodoh. Sekiranya tidak, kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya menunggu dengan bersabar, menerima dengan berjuang, do’a dan usaha kita juga mungkin tidak sekuat ini.

Bersyukurlah semuanya masih rahasia. Jika tidak, tentu tidak ada kisah seindah Nabi Yusuf dan saudaranya, keluarganya. Barangkali momen hidup yang paling indah adalah ketika kita mendapatkan jawaban atas kesabaran kita selama ini. Kesabaran yang ditutup dengan sesuatu yang membuat hati bahagia.

Setiap harinya, ada kebahagiaan yang datang ke rumah, mengetuk pintu lalu pintu hatimu. Kamu tidak mendengarnya, suara keluhan telah meluluhkan ke dalam air mata sebab dada sudah dipenuhi hal lain. Jika tidak dengan kebaikan, maka kita akan disibukkan dengan selainnya. Masing-masing kita punya potensi melakukan kebaikan juga keburukan. Ajarkan pada hati untuk mencermati lebih jernih dan lebih hati-hati dalam memutuskan. Dengan niat yang baik, dalam tutur kata dan tingkah perbuatan. Niscaya hidup penuh dengan kebaikan.

Sejak kapan kita paling tahu tentang masa depan. Masa akan datang yang penuh ketidakpastian, semua kemungkinan dan segala perubahan yang bisa saja terjadi tanpa kita sadari. Bagaimana jalur perjalanan nantinya, kapan berakhirnya, dengan siapa kita bertemu, siapa sahabat perjalanan, seperjuangan kita.

Beragam pertanyaan masa depan sedang kita tulis jawaban-jawabannya hari ini, hari yang kita jalani. Se-meresah apapun tentang masa depan, hidup adalah serangkaian riwayat yang harus kita bacakan dari awal hingga selesai. Serumit bagaimanapun alur kisah, tetap harus kita jalani hingga usai.

Kita lebih memilih untuk memantapkan hati, percaya dan mempercayakan pada Yang Maha Kuasa. Ber-istiqomah, sebab untuk jalan lurus; tidak semua orang siap berkorban, memilih lebih bersabar, siap berjuang demi banyak hal. Jangan berhenti membaca hanya karena paragrafnya sedang sedih, hanya karena halamannya kosong, tidak menarik. Sebab kita tidak tahu, baris selanjutnya adalah jawaban yang paling kita tunggu. Sebab kita tidak pernah tahu, pada halaman ke-berapa kisah yang paling kita nantikan. Masih rahasia.

Sumber : Majalah Sedekah Plus

Tinggalkan Balasan