Sobat, kita adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri. Meskipun berteman dengan sepi. Walaupun berlimpah dengan materi. Bagaimana pun surga seluas langit dan bumi. Sekalipun sekaliber Nabi. Nabi Adam tetaplah membutuhkan teman, sahabat sekaligus pendamping hati.
Bukan lantaran selalu maupun jarang, tapi sahabat itu bagian dari hidup kita. Dia ibarat air, semahal-mahalnya emas, manusia lebih membutuhkan air. Setiap orang sangat dipengaruhi oleh lingkungan persahabatannya. Sehingga untuk mengetahui pribadi seseorang, cukup lihat dengan siapa dia bersahabat. Siapa teman-teman pergaulannya. Perhatikan buku-buku bacaannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling terang menggambarkan persahabatan. Sahabat yang baik seperti bergaul dengan penjual parfum. Kamu pastinya akan membeli parfum sama dia. Kamu pastinya meminta pandangan, nasehat sama dia. Tempat paling aman untuk curhat. Jika kamu tidak membeli, dia menghadiahkan. Tanpa diminta, dia yang menasehati, memberimu arahan yang tentunya bermanfaat buatmu. Atau paling tidak kamu akan selalu mencium bau wangi. Kamu akan senantiasa mendengar petuah-petuah kebaikan darinya.
Sahabat bukanlah yang selalu menyetujui setiap idemu. Mendukung setiap rencanamu. Tapi dia yang selalu mengingatkan kebaikanmu. Menegur setiap kesalahanmu. Dia yang selalu khawatir marabahaya yang akan menimpamu. Sahabat itu seperti bulan. Tidak selalu tampak di hadapan kita. Kita pun tak selalu melihatnya. Tapi kita yakin dia selalu ada.
“Nasehati aku” begitulah para salaf as-shaleh ketika mereka bertemu saling menyemangati. Nasehat adalah sahabat sejati. Sebab nasehat adalah pertanda bahwa kita menginginkan kebaikan pada orang lain sebagaimana pada diri sendiri. Sebab orang yang terlihat kuat pun musti ada yang membentengi. Orang yang tampak tegar pun harus ada selalu yang memotivasi. Bukankah dengan saling menasehati kita saling melengkapi.
Sebaliknya, sahabat yang buruk sama halnya bergaul dengan pandai besi. Lama-lama kita kepercik api. Penyesalan di hari kiamat dimana persahabatan akan saling memusuhi. Hanya mereka yang saling mencintai karena Allah, termasuk tujuh golongan yang dinaungi. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa” (QS. Adz- Zukhruf: 67). Dan tidak ada perekat persahabatan sekuat tali imani. (Lihat QS. Al-Hujurat: 10).
Tak salah jika pepatah mengatakan, musuh yang ‘alim lebih baik daripada sahabat yang jahil. Percuma kita bersahabat dengan orang yang tidak mengenal Rabb-nya. Malah kita akan dijerumuskan dalam keburukan. Dan lawan yang alim, tidak akan bermaksud mencelakakan. Justru dia yang mengajak kita ke jalan kebenaran. Akhirnya kita bakalan bersahabat dengannya.
Mencari Sahabat
Sebaik-baik teman duduk bukan buku. Tetapi apa yang dikatakan oleh al-Munkadir akan kebahagiaan dunia yang tersisa perihal persahabatan dengan orang-orang shaleh. Kita bahagia karena kita berada di lingkaran orang-orang bahagia. Bersahabatlah dengan orang-orang shaleh. “Kalau bukan karena tiga, aku lebih baik mati. Meletakkan dahi di tempat sujud, bersahabat dengan orang shaleh dan jihad fii sabilillah” kata Umar bin Khattab.
Meskipun kita bukan termasuk dari mereka sebagaimana kata Imam Syafi’i, “Aku mencintai orang-orang shaleh, dan aku bukan termasuk di dalamnya”. Mencintai orang-orang shaleh adalah pintu pertama kita mendapatkan kebaikan.
Abdullah Ibnu Mubarak pun ditanya oleh orang sekitarnya lantaran jarang mengobrol. Jika berbicara seperlunya saja. “Jika aku bersama sahabatku seiman seolah mengingatkanku kepada para salaf, adapun jika aku berkumpul bersama kalian, tidak lain hanya menggibah, gosip, bercanda, cerita tanpa ujung.”
Sahabat Sebenarnya
“Sahabat sejati adalah belahan ruh sementara saudara adalah belahan badan” kata Ali bin Abi Thalib. Beliau pun ditanya, “Sahabat-sahabatmu begitu setia sehingga mereka banyak sekali, berapakah sahabatmu itu?”
“Nanti akan kuhitung setelah aku tertimpa musibah” jawabnya. “Sahabat itu diuji dalam tiga kesempatan; pada waktu dibutuhkan, sikap di belakang anda dan setelah kematianmu” jelasnya.
Orang biasa menggambarkan sahabatnya seperti mata dan tangan. Ketika mata menangis, maka tangan akan menghapus air matanya. Dan di saat tangan terluka dan kesakitan, maka mata yang bersedih.
“Uluran tangan yang membasuh keperihan lebih berharga daripada seribu jabat tangan penuh kepentingan.”
Sahabat Sehati
Jika waktu bisa diputar ulang, aku ingin kembali bertemu denganmu, untuk meyakinkan mengapa kita tetap bersahabat hingga kini. Akan banyak yang datang silih berganti dalam hidup ini. Kecuali sahabat sehati tetap sejati.
Umar bin Khatab pernah memberi petuah untuk meneguhkan persahabatan;
“Jika dia berbuat suatu kesalahan kepadamu dengan jalan mendurhakai Allah, balaslah dengan jalan taat kepada Allah. Jangan lekas menyangka salah terhadap perkataan seseorang, padahal masih ada jalan lain untuk membawanya kepada kebaikan.”
“Selama masih teguh memegang rahasia, selama itu pula masih terpegang kebaikan di tangannya. Tidak ada teman yang bisa dipercayai, jika dia tidak takut kepada Allah. Carilah sahabat yang jujur, dengan demikian engkau terpelihara dari bahaya, dan dialah tempat kembali ketika datang masalah. Jujurlah, meskipun kejujuran itu akan membunuhmu.”
Sesiapa yang tidak jujur, semakin sedikit pula sahabatnya. Bangun persahabatan dengan kejujuran. Kejujuran sahabat yang pertama kali membenarkan sebagaimana Abu Bakar as-Shiddiq. Kamu yang kehilangan harta, kehilangan banyak. Kamu yang kehilangan teman, kehilangan lebih banyak. Namun kamu yang kehilangan kepercayaan, kehilangan segala-galanya.
Bagi Sufyan ats-Tsaury, “Hubunganku dengan saudaraku ibarat seutas benang. Jika ia menariknya maka aku yang mengulurkannya. Jika ia mengulurkannya maka aku yang menariknya, agar benang ukhuwah itu tetap utuh dan tidak putus” sebegitu eratnya ia memegang persahabatan.
Maka, “Orang yang bijaksana tidaklah mencari sahabat, melainkan orang-orang yang panjang pikirannya, kuat agamanya, lurus ilmunya, tinggi akhlaknya. Dan diwaktu mudanya hidup bergaul dengan orang-orang baik nan shaleh. Barangsiapa yang melalaikan kasih sayang dan cinta kepada sahabatnya, tidaklah dia akan merasai buah persahabatan itu. Tidak ada kesenangan hati yang menyamai kenangan persahabatan, dan tidaklah ada kesedihan yang melebihi putusnya persahabatan” begitu pesan Abu Hatim.
Persahabatan tidak ditanam dari perhelatan-perhelatan besar. Namun ia tumbuh dari pertemuan-pertemuan sederhana yang paling kau dalami.[]
Oleh: Muhammad Scilta Riska