Tadabbur Surah al-Fatihah

Jalan Orang Yang Diberi Nikmat

Allah Azza wajalla berfirman:

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧ 

“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”. (QS. Al-Fatihah: 7)

Penempatan ayat ini sebagai ayat terakhir dan penutup surat al-Fatihah, memberikan beberapa faidah, yaitu:

[1] Allah menjelaskan sifat-sifat jalan yang lurus yang diminta oleh hamba pada ayat sebelumnya.

[2] Jalan yang lurus itu memliki 3 sifat, yaitu: 

  • Jalannya orang-orang yang telah mendapatkan nikmat.
  • Jalannya orang-orang yang tidak mendapatkan murka.
  • Jalannya orang-orang yang tidak berada di atas kesesatan.

[3] Allah kembali menunjukkan betapa besar rasa cintaNya pada hamba-hambaNya dengan menyebutkan sifat-sifat jalan yang lurus, agar mereka mampu mengenalinya dan bisa menapakinya. Kalau saja Allah tidak menjelaskan sifat-sifat ini, manusia pasti akan merasa bingung bahkan mungkin salah memilih jalan.

[4] Jalan yang benar disebutkan hanya pada satu kelompok sedang jalan yang salah pada dua kelompok. Ini menunjukkan bahwa jumlah orang-orang yang salah jauh lebih banyak dari orang-orang yang benar.

[5] Seorang hamba haruslah berhati-hati dalam memilih jalan, sebab pada setiap jalan yang salah ada setan yang selalu mengajak agar manusia menapakinya.

[6] Firman Allah Shiraathalladziina An’amta ‘Alaihim (Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka) menunjukkan beberapa hal:

  • Kata an’amta (yang telah Engkau beri nikmat) menggunakan fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau/sudah terjadi) menunjukkan bahwa hendaklah setiap hamba mengikuti jalan-jalan manusia pilihan yang telah mendapatkan nikmat dari Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapatkan tazkiyah (rekomendasi) dari Allah Azza wajalla atau rasulNya. Orang-orang yang mendapat tazkiyah dari Allah adalah para Nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang saleh. Sebagaimana firman Allah Azza wajalla:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقٗا  

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisa: 69)

Adapun orang-orang yang mendapat tazkiyah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang-orang yang hidup pada 3 zaman generasi utama, mulai dari sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in, yang dikenal dengan istilah Salaf ash-Shaleh. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. (HR. Bukhari No. 2652; Muslim No. 6653)

  • Hendaklah seseorang tidak membuat kreasi-kreasi baru dalam melakukan ibadah. Jalan yang selamat adalah mengikuti cara beribadah orang-orang yang telah mendapatkan nikmat dari Allah itu. 
  • Setiap manusia hendaklah mengoreksi dirinya dan menimbang amal perbuatannya dengan ilmu yang benar. Apakah amalan-amalan yang ia lakukan telah sesuai dengan amalan orang-orang yang diberi rekomendasi oleh Allah dan RasulNya itu?

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Siapa saja yang ingin mengikuti sunnah, maka hendaklah ia mengikuti sunnahnya orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah manusia-manusia terbaik umat ini, paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya dan paling sedikit kesalahannya. Mereka adalah orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemani NabiNya dan menukil agamanya. Oleh karenanya, serupakanlah akhlak kalian dengan akhlak mereka dan ikutilah jalan mereka. Sebab mereka berada di atas petunjuk yang lurus”. (Syarhussunnah: 1/214)

  • Hendaklah setiap muslim bersemangat dalam memohon hidayah agar berada di atas jalan para Salafu ash-Shalih.
  • Hidayah berada di atas jalan yang lurus merupakan salah satu dari nikmat-nikmat yang paling besar
  • Hidayah tidak didapatkan karena amalan seorang hamba, melainkan karena nikmat dari Allah Azza wajalla.

[7] Firman Allah Ghairil Maghdhuubi ‘Alaihim Walaadhdhaalliin (bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat) menunjukkan beberapa hal:

  • Jalan orang-orang yang mendapat nikmat bukanlah jalannya orang-orang yang dimurkai Allah dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.
  • Yang dimaksud dengan orang-orang yang di murkai Allah adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran namun tidak mau menerimanya, seperti kaum yahudi dan semisalnya. Adapun orang-orang yang tersesat, mereka adalah orang-orang yang beramal tanpa disertai landasan ilmu seperti orang-orang nashrani dan semisal mereka. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/32; Tafsir asy-Syaukani: 20)
  • Orang-orang yang telah mendapat nikmat dari Allah adalah orang-orang yang selamat dari kemurkaan Allah dan kesesatan. (Tafsir asy-Syaukani: 19)
  • Allah mendahulukan penyebutan “Bukan jalannya orang-orang yang dimurkai” daripada “Jalannya orang-orang yang tersesat”, padahal orang-orang yang dimurkai itu juga adalah orang-orang yang tersesat menunjukkan betapa bahayanya perkara ini. Ayat ini memberi isyarat agar manusia tidak mengikuti sifat orang-orang Yahudi yang mengetahui kebenaran namun tidak menerimanya.
  • Tidak mengamalkan ilmu adalah satu pintu yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah.

Demikianlah artikel tentang tadabbur al-Qur’an surah al-Fatihah ini. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang al-Qur’an.

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening