Artikel ini akan membahas 10 konsep bahagia. Konsep ini merujuk kepada salah satu surah di dalam Al-Qur’an yaitu Surah Alam Nasyrah.
Berbahagialah tanpa harus memaksakan sebab, niscaya kamu akan menemukan bahagia di setiap waktu. Dalam keadaan apapun. Dalam kesempitan apapun selalu ada kemudahan. Jika saja penjara berbentuk fisik, maka jangan sampai hati dan pikiran kita juga terbelenggu.
Kita hidup di zaman dimana fitnah dengan mudahnya menyebar. Dakwah dikerdilkan hingga islam atau orang yang ingin menjalankan Islam secara kaffah diidentikkan dengan intoleran dan anti-anti lainnya.
Secara global, Palestina khsususnya al-Quds, kota suci bagi kaum muslimin diambil oleh zionis Israel. Ini mengingatkan kita zaman Rasulullah ketika dakwahnya semakin mendapat rintangan. Konspirasi musuh dari segala penjuru. Teror dari segala macam makar.
Allah kemudian menurunkan dua Surah yang membahas tema yang sama; kepribadian Rasulullah dan kondisi yang dihadapi. Setelah Allah menurunkan Surah ad-Dhuha disusul Surah Alam Nasyrah ditambahkan tiga kenikmatan. Kelapangan dada, meringankan beban saat menghadapi musuh, dan Allah meninggikan derajatnya di bumi maupun langit. Surah ini sekaligus mendefiniskan kita akan sepuluh konsep bahagia.
Kebahagiaan di Tangan Allah Azza wa Jalla Semata
ألم نشرح
“Bukankah Kami telah melapangkan”
Bahwa segala kenikmatan-kenikmatan yang kita dapatkan sumber asalnya adalah dari Allah, milik Allah. Bahwa yang Maha Memberi adalah Allah. Semua pengaturan dalam kendaliNya. Kita tidak punya kuasa menarik ataupun menolaknya.
Kebahagiaan hanya akan datang kepada mereka yang menyakini. Meyakini bahwa kebahagiaan sumbernya dari Allah semata tidak selainnya. Tidak ada satupun hal yang mematahkanmu, membuat yang paling menyedihkan kecuali karena engkau jauh dari Allah Azza wa Jalla. Dengan segala kemungkinan kita mengetuk setiap pintu-pintu bahagia yang berbeda dan ketenangan jiwa yang sama. Mengimani bahwa tidak ada yang mampu memberi semua itu kecuali Pencipta kita.
Kebahagiaan Tempatnya di Hati, bukan Akal
لك صدرك
“Untukmu dadamu”.
Kelapangan dada mengandung makna zhahir dan batin. Secara zhahir Rasulullah pernah dibersihkan organ dalamnya oleh Malaikat. Dalam riwayat Imam Ahmad dijelaskan bahwa tujuan dari pembedahan dada beliau adalah untuk membuang dendam, hasad, dan iri. Lalu memasukkan rahmah wa raf’ah.
Sedangkan makna secara batiniyyahnya, bahwa Allah telah memberikan kelapangan dada dengan membuka hati Rasulullah dalam menerima ilmu dan hikmah risalah kenabian. Lalu kenapa kelapangan letaknya dalam dada, bukan hati?
As-Shadr, dada mencakup dalamnya hati. Sebab was-was syaitan pertamakali memasukkan ke dalam dada-dada manusia. “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia” (QS. An-Nas: 5). Kenapa bukan ke dalam hati?
Dada adalah pagarnya, hati adalah rumahnya. Ketika pagarnya rapuh, maka rumah akan sangat mudah dimasuki. Ketika benteng sudah dikuasai maka otomatis rumah pun telah dikendalikan.
Sebab itu pula Nabi Musa berdo’a kelapangan dada. “Ya tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thāhā: 25-28).
Pada intinya, kebahagiaan berpusat pada kelapangan hati, keluasan dada. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46).
Tidak ada yang menguasai penuh hati seseorang kecuali Allah Azza wa Jalla. Dia-lah yang membolak-balikkan hati hambanya. Hati dalam kendali-Nya. Dan kebaikan hati hanya dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.
Diampunkan Dosanya
ووضعنا عنك وزرك
“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,”
Al-Qur’an mengilustrasikan beban dengan sesuatu yang berat. “Yang memberatkan punggungmu”. Beban berupa rintangan-rintangan yang diderita Rasulullah dalam menyampaikan risalah dakwah ini.
Nikmat Allah selanjutnya, menghilangkan beratnya beban-beban dakwah Rasulullah. Sebagian ulama menafsirkan al-wizr sebagai kesalahan dan kealpaan yang dilakukan Rasulullah sebelum mengemban risalah kenabian. Semuanya telah Allah ampunkan.
Sama halnya dalam konsep bahagia. Yang membuat kita berat, jauh dari kebahagiaan sebab dosa-dosa menutupi hati. Setiap kali seorang hamba ringan dari dosa, semakin dekat pula ia dengan kebahagiaan.
Ibnu Sirin pernah mengalami kerugian yang cukup besar. Salah satu tong madu yang dijualnya tercemar tikus. Ketika pegawainya mengeluarkan tikus, ia lupa di tong mana tikusnya terendam. Sehingga Ibnu Sirin menyuruh untuk membuang semua tong madunya. Sebab hal ini beliau mengalami kerugian yang cukup signifikan. “Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 tahun” jawabnya. “Suatu hari aku melihat orang telanjang, lalu aku pun manggilnya (mengejek) wahai si fakir!”
Dosa kita bisa jadi penghalang dengan kebaikan. Dosa diampunkan dengan bertaubat, banyak beristigfar, berbuat kebaikan serta ketaatan.
Meninggikan Dzikir Kebaikan
ورفعنا لك ذكرك
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu”.
Nikmat ketiga yang Allah berikan kepada Rasulullah adalah ditinggikan derajatnya. Dengan diangkat menjadi Nabi. Disandingkan dengan asma’ Allah yang Maha Suci. Nama yang disebut sepanjang waktu oleh penduduk bumi maupun langit. Berapa kali dalam sehari kita membaca syahadatain. Dalam shalat, shalawat, khutbah sampai sebelum ijab qabul.
Konsep bahagia adalah dengan senantiasa meninggikan kalimat dzikir, niscaya tinggi pula derajat kita. Dengan memperbanyak dzikir kebaikan. Kalimat pujian, sebutan nama yang baik adalah hadiah bukan sebab permintaan. Oleh karenanya segala kepura-puraan, pencitraan tidaklah bermanfaat. Akan tetapi keikhlasan hanya kepada Allah Azza wa Jalla.
Tidaklah Allah Menciptakan Kesusahan kecuali Bersamanya Kemudahan
فإن مع العسر يسرا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Jika kita memahami ayat ini, kita tidak akan gundah dengan semua masalah. Dengan segala cobaan. Bersama kesulitan ada kemudahan.
Tidak ada masalah tanpa solusi, tiada kesulitan tanpa kemudahan. Tidak ada penyakit kecuali Allah telah menurunkan obatnya. Tidak ada kesempitan tanpa kelapangan. Bahwa semua ada jalan keluarnya. Tinggal bagaimana kita mencari jalannya. Dengan jalan yang benar atau cara yang salah.
Seorang bijaksana ditanya, “Kenapa wajahmu selalu riang dan ceria?”
Dia menjawab, “Aku malu untuk menampakkan wajah sedih ketika aku tahu Allah-lah Pengatur segala urusanku”.
“Jangan membenci takdir yang telah Allah pilihkan untukmu” kata Syekh bin Bāz. “Sebab sejatinya setiap kesulitanmu akan diganjar, setiap sakit akan dibalas, setiap kehilangan akan diganti, setiap sabar tentu akan dihitung pahalanya.”
Kemudahan Datang Bersama Turunnya Kesulitan
مع العسر يسرا
“Bersama kesulitan ada kemudahan”. Allah tidak mengatakan, setelah kesulitan kemudian akan ada kemudahan. Akan tetapi kesulitan dan kemudahan dalam satu paket yang tidak terpisah. Kemudahan akan selalu menyertai kesulitan. Musibah misalnya menjadi salah satu sebab penghapus dosa-dosa.
Masalah yang kita hadapi menyimpan banyak rahasia-rahasia. Kita yang harus membuka tabirnya. Kesulitan yang kita jalani punya banyak misteri. Kita yang harus menemukan jawabannya. Betapapun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.
Setiap Kesulitan Punya Dua Kemudahan
Ayat ini ini diulang kembali dengan narasi yang berbeda. Al-‘Usr (kesulitan) dalam ayat ke-lima adalah kesulitan yang sama di ayat ke-enam, menggunakan isim ma’rifah (disertai alif lam). Kesulitannya satu. Sementara pengulangan kata yusrā (kemudahan) dalam kedua ayat tadi bentuknya nakirah, maksudnya makna kata yang pertama berbeda dengan yang kedua.
Bahwa setiap kesulitan bersamanya ada dua kemudahan. Bahkan solusi yang banyak. Dalam menjalani kehidupan, ada masalah-masalah yang selesai seiring berjalannya waktu. Masalah-masalah yang barangkali kita pernah berfikir tidak akan mungkin menemukan jawabannya. Tetapi semua itu usai tanpa kita duga. Kita lebih sibuk menghitung-hitung masalah, lalu nikmatNya kita lupakan.
Para Salaf mengatakan, “Allah tidak akan menjadikan satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan”. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya”. Sebab Allah telah menjamin setiap kesulitan ada kemudahan. Orang yang bahagia bukan orang yang tidak punya masalah. Mereka memiliki keyakinan, bahwa setiap kesulitan ada banyak kemudahan.
Menggunakan Waktu Luang adalah Buah Kebahagiaan
فَإِذَا فَرَغْتَ
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan),”
Waktu bagi seorang muslim tidak ada yang kosong, tidak ada terbuang percuma. Semua waktunya adalah kebaikan. Satu dari tiga nikmat yang sering manusia lupakan, waktu luang. Menggunakan waktu luang dengan berbagai kebaikan.
Begitu banyak kebaikan-kebaikan yang kita lewatkan dalam hidup ini. Alasan tidak sempat padahal kita punya banyak waktu kosong. Kebaikan-kebaikan itu kemudian menjadi kebahagiaan orang lain. Menjadi ladang amal kebaikannya.
Waktu itu adalah tempat kita menanam kebaikan. Maka jangan ada salah satu tempat kita luang tanpa buah kebahagiaan.
Beribadah
Konsep bahagia selanjutnya adalah beribadah.
فانصب
“Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”
Semua waktu adalah ibadah. Diniatkan sejak awal. Apapun yang kita kerjakan pangkalnya ibadah. Pintu kebahagiaan adalah ibadah. Setiap kali kita memasuki pintu ibadah bertambah pula kebahagiaan. “Barang siapa yang menginginkan kebahagiaan abadi” kata Ibnu Taimiyyah. “Hendaklah selalu berada di ambang pintu peribadatan kepada Allah”.
“Diantara perkara yang paling besar yang mampu menjaga dirimu dari penyimpangan di zaman fitnah ini” kata Syekh Dr. Khalid Al Mushlih. “Adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki hati, dengan berbagai jenis ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Beribadah di zaman fitnah itu seperti berhijrah kepadaku.”
Keikhlasan dalam Beramal, Mengharap Balasan dari Allah Semata
وإلى ربك فارغب
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”
Berapa banyak orang yang beramal namun tidak mendapatkan pengaruh dalam dirinya. Dalam kehidupannya. Sebab terkena penyakit riya, sum’ah dan tidak mendapatkan kelezatan ibadah. Tidak hanya semangat beribadah, menjaga keikhlasan serta ketepatan dalam beramal. Beramal sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sehingga tidak ada yang sia-sia.
Mendapatkan amalan yang terbaik kadang kita menjadi khawatir, apa jadinya kata orang jika seperti ini dan itu. Seseorang begitu tenang dalam beramal. Sebab dalam hatinya ada keikhlasan. Bukan pencitraan. apalagi lawakan yang hanya berisi perkataan sia-sia.
Kita beramal bukan karena kata orang. Masalah yang kita hadapi sudah cukup lelah jika hendak mendengar semua perkataan orang. Ekspektasi yang telah melampaui kenyataan. Pilihan yang kita jalani bukan untuk menyenangkan semua manusia. Tidak ada kebahagiaan yang kita harapkan selain ridha Allah. Keikhlasan semata karena Allah.
Demikianlah artikel tentang konsep bahagia ini. Semoga bermanfaat!
Oleh: Muhammad Scilta Riska, SH.