3 Kiat Istiqamah Sepanjang Ramadhan, Nomor 2 Paling Ringan

Awalnya semangat dan antusias beribadah begitu terasa, hingga jemaah pun membludak ke pelataran Masjid atau Mushollah. Namun dalam hitungan hari saja, jemaah pun mengalami “kemajuan”, hingga tersisa beberapa shaf saja.

Jika mengingat ingat Ramadhan di tahun-tahun yang lalu, tentunya fenomena di atas sudah kita maklumi bersama. Semangat untuk ketaatan itu tampak wajar, menjadi keseharian setidaknya di awal-awal bulan Ramadhan. Meski memang pada nyatanya, umat Islam di tanah air seringkali mengalami penurunan kuantitas dan kualitas ibadah di bulan Ramadhan, terlebih menjelang lebaran. Godaan baju baru dan soal bingkisan lebaran turut menguji kesabaran kita. Lalu bagaimana mengatur diri agar tetap istiqamah beribadah?

Manajemen Waktu

Setiap manusia memiliki jatah waktu yang sama, 24 jam. Akan tetapi setiap orang mengisi waktu dengan yang berbeda. Begitu juga dalam beribadah, di mana setiap diri memiliki banyak rutinitas dan kondisi yang berbeda. Sehingga perlu untuk membagi waktu untuk ibadah, bekerja atau sekolah, istirahat dan keperluan keluarganya.

Karena itu kita harus betul-betul memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan amal ibadah, tentunya dengan tetap memperhatikan hak-hak diri sendiri, keluarga dan bermasyarakat. Dari situlah kemudian pembagian waktu yang rapih itu perlu dilakukan bahkan sebelum masuk bulan Ramadhan.

Yuk, mari cari dan kumpulkanlah referensi, bahan bacaan tentang ilmu seputar Ramadhan. Karena dengan bekal ilmu yang cukup, kita akan mampu memprioritaskan waktu di bulan yang penuh berkah ini dengan amalan ibadah yang benar, serta dapat menghindari kesalahan. Cara lain adalah dengan mengikuti pengajian atau seminar (daurah) Ramadhan yang biasanya diadakan untuk menyambut bulan suci. Penjelasan tentang bekal ilmu ini dapat Anda simak lebih lanjut di kolom bahasan utama kita kali ini.

Amalan Sedikit Tapi Rutin

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan yang artinya bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Energi manusia terbatas. Aktifitas dan kemampuan manusia berbeda-beda. Maka selain manajemen waktu dan dirinya, setiap orang yang berusaha memanfaatkan waktu di bulan Ramadhan perlu mengisinya dengan amalan-amalan baik yang mungkin terhitung sedikit tapi rutin dilakukan.

Seperti seorang yang membaca Alquran satu juz setiap hari. Ada yang membacanya utuh dari waktu shalat Maghrib hingga masuk waktu shalat Isya. Sebagian membaginya jadi dua halaman, dibaca setelah setiap shalat wajib dalam satu hari. 

Dari fakta sejarah kita belajar, bagaimana sosok pilihan yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali di bulan Ramadhan. Ada yang khatam sekali setiap hari atau bahkan lebih, tetapi dalam konteks kondisi seperti di masa sekarang, untuk ukuran mayoritas kita tampaknya sulit, hampir mustahil. Meski demikian, setiap orang perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya, apalagi jika sadar bahwa waktu dan kesempatan tidak bisa diulang kembali. Cukuplah kelalaian dan penyesalan di Ramadhan tahun-tahun yang telah berlalu. 

Selain membaca Alqur’an, kita bisa melakukan shalat malam setiap sebelum sahur, minimal sebanyak dua raka’at ditambah witir. Demikian pula shalat dhuha dan berusaha rutin bersedekah harian.

Niatkan Rutinitas Sebagai Ibadah

Setiap orang memiliki rutinitas yang berbeda-beda. Sekolah, kuliah, belajar, mengurus rumah tangga, bekerja dengan berbagai bidang dan jenisnya. Agar tidak menyesal di akhir Ramadhan, setiap Muslim perlu untuk menyadari esensi niat. Niat yang mendasari rutinitasnya sebagai amal ibadah. Karena pada hakikatnya aktifitas muslim yang bernilai kebaikan, akan bernilai ibadah ketika memang diniatkan mengharap balasan dari Allah -azza wa jalla-.

Mereka yang sekolah dan kuliah, mempelajari ilmu untuk bermanfaat bagi diri dan orang lain. Mereka yang bekerja untuk mencari nafkah halal baginya dan keluarganya, termasuk para ibu-ibu rumah tangga yang menyiapkan makanan untuk dikonsumsi keluarga, juga akan bernilai ibadah. Terlebih jika menyiapkan sahur bertepatan dengan malam Lailatul Qadar.

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya,” kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits Arba’in An-Nawawiyah, Wallahu A’lam. [fm]

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening