Menjadi Perindu Ramadan

Banyak yang mengatakan rindu pada bulan Ramadan. Namun sayang, mereka tidak mempersiapkan diri menyambutnya, sehingga Ramadan datang dan pergi begitu saja tanpa meninggalkan makna yang berarti dalam hati dan jiwanya.  Allah Subḥānahu wa Ta’ālā menyinggung mereka dalam firman-Nya, “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, ‘Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu’.” (Q.S. al-Taubah: 46)  

Dalam menafsirkan ayat tersebut, Syekh Muḥammad Sulaimān ‘Abdullāh al-Asyqar berkata, “Seandainya mereka benar dalam pengakuan mereka, niscaya mereka tidak akan berhenti menyiapkan persiapan perang sebelum terjadinya perang, sebagaimana persiapan yang dilakukan orang-orang beriman, namun sebenarnya mereka tidak menginginkan untuk ikut berperang, oleh sebab itu, mereka tidak menyiapkan diri untuk berperang dengan mempersiapkan perbekalan, hewan tunggangan, dan persenjataan.” (Zubdah al-Tafsīr min Fatḥ al-Qadīr, 194)

Karenanya, bersiaplah dengan banyak berpuasa di hari-hari sebelumnya. Lakukanlah salat malam, perbanyaklah membaca Al-Qur’an, lazimkanlah zikir kepada Allah, dan ringankan tangan untuk banyak bersedekah menanti hari-hari keberkahannya. Semua ini menjadi latihan dan pembiasaan, agar tubuh dan jiwa kelak terbiasa untuk beribadah di hari-hari Ramadan. Insyaallah.

Bersyukur dan Bergembira

Bersyukur dan memuji Allah Subḥānahu wa Ta’ālā atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Karenanya, ketika Ramadan telah tiba dan kita berada dalam kondisi yang aman, sehat walafiat, dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib memuji Allah Subḥānahu wa Ta’ālā sebagai bentuk syukur kita kepada-Nya.

Setelah bersyukur, kita pun wajib bergembira dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam senantiasa memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali bulan Ramadan datang. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa, pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (Musnad Aḥmad, 14/541: 8991, sanadnya sahih sesuai syarat Muslim).

Ibnu Rajab al-Hambali berkata, “Bagaimana tidak gembira, seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadan).” (Laṭā’if al-Ma’ārif, 148)

Banyak Bertobat dan Beristigfar

Menyambut tamu agung ini, hendaknya kita bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi. Mengapa? Karena bulan Ramadan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapan lagi ia akan bertaubat? Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (Q.S. al-Nūr: 31)

Syekh Muḥammad bin Muḥammad Mukhtār al-Syinqīṭī pernah ditanya, “Dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan (Ramadan)?” Syekh menjawab (diantaranya), “Berbahagialah bagi orang yang menyambut bulan ini dengan bertobat kepada Allah dan kembali kepada Allah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat, dan Allah gembira dengan pertobatan hamba-Nya, maka sambutlah bulan Ramadhan, dengan hati yang tunduk, bertobat kepada Allah.” (Syarḥ Zād al-Mustaqni’, 123, 23)

Mengapa taubat menjadi penting? Jawabannya adalah karena ibadah dan amal saleh hanya mampu dikerjakan dengan hati yang bersih dan kuat, atas rahmat dari Allah, sementara dosa-dosa membuat hati kita kotor dan jiwa menjadi lemah. Hati yang bersih dengan taubat akan menuntut jiwa dan raga untuk taat kepada Sang Pencipta. Syekh Muḥammad bin Muḥammad Mukhtār al-Syinqīṭī berkata, “Alasan mengapa (kita mesti) menyambut menerima Ramadan dengan pertobatan dan kembali kepada Allah adalah bahwa sesungguhnya rahmat Allah dapat terhalang bagi seorang hamba karena dosa.” (Syarḥ Zād al-Mustaqni’, 123, 23)

Ibnu Kaṡīr raḥimahullāh berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istigfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya, dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya.” (Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm, 4/329)

Tuntut Ilmu Ramadan

Di antara poin yang tak kalah pentingnya adalah mengerti dan memahami hukum-hukum Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin untuk melandasi ibadahnya kepada Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dengan ilmu yang benar. Tidak ada alasan bagi setiap mukmin untuk tidak mengetahui ilmu yang berkenaan dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya. “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan Nabi kita, Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam (Sunan Ibnu Mājah, 1: 81/224, disahihkan oleh al-Albānī dalam Ṣaḥīḥ wa Da’īf Sunan Ibnu Mājah, 224).

Puasa Ramadan adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Karenanya, hukum untuk mengilmuinya pun menjadi wajib. Ya, wajib bagi seorang mukmin untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, pembatal-pembatalnya, dan lainnya, sebelum Ramadan datang, agar puasanya benar dan diterima oleh Allah Subḥānahu wa Ta’ālā

Bekal ini amat penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azīz raḥimahullāh berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Ibnu Taimiyah, al-Amru bi al-Ma’rūf wa al-Nahyi ‘an al-Munkar, 19) Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saat puasa.

Baca juga: 3 Kiat Istiqamah Sepanjang Ramadhan

Merancang Agenda Ukhrawi dan Bertekad Kuat Mengaplikasikannya

Sebelum kedatangannya, hendaknya kita merancang berbagai program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadan. Tidak selayaknya, bulan yang penuh kemuliaan ini diisi dan dijalani dengan gaya hidup lama yang mungkin masih belum tertata rapi dalam upaya peningkatan iman dan takwa. Upaya itu bisa dengan dilakukan dengan program membaca Al-Qur’an berikut terjemah dan tafsirnya, program hafalan Al-Qur’an, bersedekah setiap hari, atau melakukan berbagai macam amal saleh lainnya. Apabila tidak memiliki perencanaan Ramadan, boleh jadi Ramadan akan dilalui tanpa makna. Tentu ini adalah satu kerugian besar.

Setelah rancangan ukhrawi tersebut telah tersusun rapi dan matang, hendaknya kita bertekad kuat untuk mengaplikasikannya. Barangsiapa jujur kepada Allah Ta’ālā dalam tekadnya itu maka Allah Ta’ālā akan membantunya dalam melaksanakan seluruh amalan yang telah diagendakan dan memudahkannya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. Tekadkan dalam sanubari kita untuk memaksimalkan setiap waktu di dalamnya, karena bisa jadi Ramadan kali ini adalah yang terakhir bagi kita.

Akhirnya, semoga Allah Subḥānahu wa Ta’ālā menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah ini. Dengan curahan taufik-Nya, semoga kita mampu memakmurkan Ramadan dengan semestinya, sehingga saat keluar darinya, terampuni pula semua dosa-dosa kita. Mari bersegera untuk mempersiapkan diri! Jika dengan bulan Ramadan saja kita masih tidak tergerak untuk bersegera dalam kebaikan, nikmat besar mana lagi yang akan mampu mengubah keadaan kita?.

Wallāhu a’lam.

Azwar Iskandar, S.E., M.Si., M.A.P., CBPA. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar)

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening