Ada berbagai alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah. Ada yang beralasan karena jatuh cinta pada pandangan pertama, dijodohkan, merasa diburu usia, kesepian dan alasan lainnya.
Sebuah harapan mulia yang dapat diwujudkan lewat pintu pernikahan adalah lahirnya generasi pelanjut, berupa anak tentunya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
“(Allah) pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan cara itu….” (Terjemahan QS Asy Syura: 11).
Cita-cita ideal di atas sayangnya tak banyak dibahas dalam perbincangan sehari hari dan juga obrolan dengan berbagai pasangan, jarang saya mendengar alasan utama mereka menikah adalah untuk memiliki anak. Meski demikian, secara sadar pasangan-pasangan tersebut memandang bahwa pernikahan akan menjadi satu paket dengan lahirnya anak.
Kebanyakan dari pasangan tersebut yang merupakan pasangan usia muda, milenial lebih berfokus pada bagaimana menjalani kehidupan setelah menikah sudah punya anak, lalu berusaha mendapatkan posisi finansial yang baik untuk membesarkan anak-anak. Jarang sekali di antara kita yang berpikir jauh, bahwa ada satu hal yang sangat urgen dibandingkan mendapatkan harta dalam membesarkan anak, hal urgen yang dimaksud adalah bagaimana menjalani sebuah proses mendidik anak dalam rangka taat kepada Tuhannya! Berbicara tentang pernikahan sebagai sebuah ibadah (baca: menghamba kepada Allah).
Sebagian besar pasangan milenial tampaknya lebih cenderung berpikir bahwa melahirkan anak, membesarkan dan mendidiknya adalah proses alamiah. Hanya sebatas itu. Proses tersebut mengalir begitu saja bagai air, tanpa strategi perencanaan, dan terjadi apa adanya. Jikapun ada perencanaan, ia lebih ke soal pemenuhan hak-hak lahiriah seperti makan, minum, seputar fasilitas tempat tinggal.
Memang benar bahwa proses mengandung dan melahirkan adalah proses alamiah, namun tidak demikian dengan proses membesarkan, merawat dan mendidiknya. Hal yang lebih memprihatinkan adalah bahwa sebagian besar pasangan juga berpikir bahwa mengasuh anak adalah kewajiban utama ibu saja sehingga menyepelekan peranan ayah dalam pola pengasuhan. Ibu di rumah mengasuh anak dan ayah bekerja memenuhi fasilitas tadi, sesederhana itu. Padahal, dalam buku ‘Fatherman’ karya pemerhati pendidikan anak, ustaz Bendri Jaisyurrahman dikatakan bahwa peranan ayah dalam mendidik anak sangat besar.
Sebagai gambaran, di dalam Al-Qur’an diisyaratkan adanya pola interaksi lisan antara ayah dan anak yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan ibu. Bagaimana interaksi Lukmanul Hakim dengan anaknya. Nabiyullah Ibrahim ‘Alaihissalam dengan anaknya, Ismail.
Orang tua perlu memiliki pemahaman dan keterampilan khusus tentang hal-hal yang berkaitan dengan pola asuh dan mendidik anak terlebih dalam era millenial saat ini. Tantangannya tentu berbeda dengan generasi tua di mana teknologi digital khususnya internet belum berkembang sepesat hari ini.
Banyak tantangan baru yang bermunculan dan harus dihadapi. Apabila tantangan terbesar generasi 90-an adalah lingkungan pergaulan sekitar, maka di era sekarang musuh terbesar justru berada di dalam rumah, seperti dampak tayangan program TV dan permainan di layar HP. Bagaimana cara mendidik anak sementara musuh tersebut justru sangat akrab dengan kita?
Beberapa tips ringkas berikut layak kita perhatikan:
1. Buatlah aturan yang tegas, mendisiplinkan diri dan anggota keluarga dengan membuat anak takut untuk melanggarnya, lalu bangun komitmen bersama untuk menaatinya.
2. Tegas terhadap anak, sikap ini bukan berarti kaku mengeluarkan aturan sepihak dan menutup pintu dialog. Tapi bagaimana kita bisa Istiqomah dan konsisten menegakkan aturan walaupun banyak tantangan, mungkin akan ada pembangkangan dari anak ataupun anak tidak mau disuruh apapun.
3. Sampaikan aturan tersebut dengan penuh kesabaran. Berikan waktu kepada anak untuk bisa beradaptasi dengan aturan tersebut, dan gunakan bahasa yang mudah dipahami anak.
4. Jangan marah sambil melotot, apalagi sampai menggunakan tindakan verbal yang menyakiti seperti sumpah serapah, caci maki dan lainnya. Jikapun ada hukuman fisik, maka usahakan hukuman itu lebih cenderung dipahami sebagai bentuk pendidikan, bukan sekadar pelampiasan kekesalan yang kosong tanpa makna. Mari periksa contoh teladan kita (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pastinya) dalam hal ini.
Sebagai kesimpulan, para pasangan milenial ini memang tidak mudah jalannya. Di samping usia mereka masih terbilang sangat muda, akses teknologi juga bisa menjadi salah satu faktor penghambat sulitnya menanamkan nilai-nilai moralitas kepada anak untuk masuk ke nalar mereka. Apalagi dampak negatif penggunaan benda seperti HP dan TV sudah sangat sulit untuk dihindari.
Hal paling penting sekarang ini adalah bagaimana kita sebagai pasangan muda kembali, menyadari perlunya terus belajar jadi orangtua yang baik. Tidak perlu malu untuk memulai. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (Terjemahan HR. Muslim)
Bukankah cita-cita tertinggi keluarga kita sebagai seorang yang beriman adalah masuk surgaNya? Kalau begitu, yuk pasangan milenial, mari kita belajar lagi.
Oleh: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si., M.Si.
Editor: Faisal
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi