Persiapkan Pemimpin Sejak Waktu, Ini Kurikulum Nabi

wiz.or.id – Salah satu misi manusia di muka bumi adalah menjadi khalifah (Khalifatun fil Ardh). Khalifah maksudnya menjadi perwakilan Allah untuk mengatur, memimpin di muka bumi. Misi ini seharusnya senantiasa menyertai setiap langkah kita dalam berkontribusi.

Kalau dalam Al-Qur’an menyebut, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya“. Maka manusia yang paling sempurna untuk kita jadikan teladan itu adalah Rasulullah. Perjalanan hidup Nabi setidaknya terbagi menjadi tiga bagian, Masa muda (0-40 tahun), Fase Makkah (40-53 tahun), Fase Madinah (53-63 tahun). 

Seluruh rangkaian kehidupannya merupakan bagian dari Sunnah. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi baik berupa perkataan, perbuatan, sifat fisik psikis, taqrir dan sirah merupakan (lima bagian) dari Sunnah. 

Sirah Nabawiyah menjadi inspirasi terbaik dalam melahirkan pemimpin. Rasulullah adalah role model yang paling ideal soal kepemimpinan. Nah, bagaimana kurikulum Nabi hingga diangkat menjadi pemimpin umat?

Masa muda Nabi dari lahir hingga usia 40 tahun menjadi kurikulum kepemimpinan terbaik. Perjalanan hidup Rasulullah tentu bukan peristiwa kebetulan, tetapi ini ada hikmah terbesar yang Allah ingin ajarkan kepada kita ummatnya terutama masa muda Nabi terdapat kurikulum terbaik mempersiapkan generasi terbaik.

Puncaknya ketika menjelang diangkat menjadi Nabi, di usia 37-40 tahun merupakan masa perenungan hidup. Masa persiapan seorang pemimpin menjadi pemikir strategis. Dimulai dari keresahan memikirkan kondisi. Keresahan merupakan inspirasi lahirnya solusi. Seperti resahnya seseorang dengan kegelapan, maka ia berusaha menemukan cahaya penerang. Semisal resahnya burung Hud-hud menjadi sebab Islamnya satu negeri Saba’. 

Pelajarannya, modal utama seorang pemimpin adalah pemikir strategis. Setiap kali akan melakukan kebijakan maka selalu didahului dengan pemahaman ilmu dan pemikiran yang matang. Pemimpin sesungguhnya adalah pabrik pemikiran. Tidak harus ia pandai mengeksekusi semua bidang. Namun mampu mengolah potensi dari setiap yang dipimpinnya. Mampu menganalisis setiap tantangan dan peluang.

Jika ia hanya memiliki potensi sumber daya yang melimpah tanpa pengelolaan kepemimpinan yang baik, ibarat seorang yang memiliki emas batangan namun dijual dengan harga timbangan besi.

Masa Kecil di Kampung 

Kebiasaan orang Arab elite membawa anak bayi mereka dididik tinggal di kampung. Sejak kecil Muhammad tinggal di perkampungan Bani Sa’ad disusui oleh Halimah as-Sa’diyah.  Kondisi ekstrim gurun perkampungan, tutur bahasa masyarakat yang masih fasih dan interaksi sosial ini turut membentuk materi dasar pendidikan kepemimpinan Rasulullah; Pendidikan adab, bahasa dan alam. Seharusnya tiga inti pendidikan ini didapatkan generasi kita di usia balita. 

Belajar Adab Lebih Banyak Sebelum Ilmu

Di kampung, Rasulullah banyak belajar adab dari alam interaksi. Adab sesungguhnya menjadi perhiasan bagi seseorang. Jika ia hilang, tiadalah sempurna ilmu yang didapatkan. Imam Az-Zarnuji mengungkapkan banyak penuntut ilmu di zamannya, sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Akan tetapi mereka tidak memperoleh manfaat dan faedah dari ilmu berupa pengamalan dan semangat menyebarkan. Disebabkan karena adab atau cara yang salah dalam menuntut ilmu.

Dimulai dari niat yang keliru dalam mencari ilmu. Tujuan mencari ilmu seharusnya mengharap ridha Allah dan akhirat, menghilangkan kejahilan pada dirinya sendiri maupun orang-orang jahil, menghidupkan dien dan eksisnya Islam. Begitupula seorang guru perlu meluruskan niat dalam mengajarkan ilmu. Bukan mengajar jadi pekerjaan sambilan atau memang tidak ada lagi pekerjaan lain.

Sebelum menuntut ilmu yang lebih dalam seharusnya seorang harus kenyang dengan pendidikan adab. Pendidikan adab sangat penting kita mulai dari peran keluarga. Jadikan rumah kita seperti -permisalan Al-Qur’an- rumah lebah. Dimana setiap anggota keluarga punya peran dan fungsi masing-masing. Dan jangan seperti rumah yang rapuh, yaitu permisalan rumah laba-laba.

Belajar Berbahasa Fasih dan Berkomunikasi dengan Baik

Interaksi sosial masyarakat perkampungan turut membentuk kefasihan bahasa Muhammad di masa muda. Orang-orang kampung tutur bahasanya masih terjaga. Berbeda dengan Makkah yang saat itu menjadi kota dengan interaksi berbahasa yang beragam, tidak terkendali. 

Ide, gagasan pemikiran sang pemimpin akan lebih mudah diserap jika memiliki kefasihan berbahasa dan berkomunikasi (public speaking). Influencing skill merupakan modal utama pemimpin saat akan mempengaruhi apa yang dipimpinnya. 

Ada sahabat Nabi yang diutus seorang diri ke Madinah membawa risalah dakwah dan berhasil mengislamkan penduduknya. Setiap kita adalah da’i yang ingin membawa perubahan yang lebih baik di tengah masyarakat. Maka seharusnya memiliki kemampuan bahasa dan komunikasi publik yang mempengaruhi.

Dalam level peradaban, orang-orang yang memiliki kelebihan terutama kemampuan mempengaruhi itulah yang akan eksis. “Manusia akan terpengaruh” kata Muhammad Ahmad Ar-Rasyid. “Oleh orang yang memiliki magnet kekuatan yang lebih (Al-Quwwah Al-Jadzibiyyah)” sebut pemikir dari Irak ini.

Pendidikan Alam

Kondisi alam perkampungan menempa Nabi menjadi lebih kuat fisiknya dan tajam pemikirannya (mutsaqqaful fikri). Menjalin chemistry dengan alam penting diajarkan sejak kecil seperti membaca arah mata angin, melihat hilal, memahami pergantian waktu, mensyukuri nikmat hujan dsb. Jangan pisahkan anak kita dari suasana yang alami.

Alam yang Allah ciptakan sesungguhnya sarana, tempat pendidikan yang terbaik. Meluaskan pandangan, membangun ketajaman berfikir dan terbiasa untuk berdamai dengan segala keadaan merupakan pendidikan dasar seorang pemimpin.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening