LAZISWahdah.com – Abdullah bin Rawahah adalah seorang sahabat Rasulullah dari Bani Khazraj. Dia termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam dari golongan Anshar. Abdullah bin Rawahah menyatakan dirinya masuk Islam dan termasuk dalam 12 orang yang dibaiat di Aqabah yang kemudian dikenal dengan peristiwa baiat Aqabah pertama yang terjadi sebelum hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.
Pada saat terjadi peistiwa baiat Aqabah kedua yang melibatkan 73 orang kaum Anshar, Abdullah bin Rawahah pun kembali mengikutinya. Masuknya Abdullah bin Rawahah ke dalam Islam menambah kekuatan umat Islam, karena dia dikenal sebagai orang yang berani berjuang dalam membela agama Allah. Abdullah tidak pernah absen mengikuti berbagai peperangan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abdullahu bin Rawahah berperan menggagalkan rencana busuk pemimpin kaum munafik di Madinah, Abdullah bin Ubay yang selalu berusaha untuk menjatuhkan Islam dengan berbagai cara. Akan tetapi usahanya tersebut selalu berakhir sia-sia berkat keberanian Abdullah bin Rawahah dalam mengikuti segala gerak-geriknya.
Baca juga: Dihyah Al-Kalbi, Pria Tampan dari Madinah
Anti Suap
Abdullah bin Rawahah pernah menerima tanggung jawab dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghitung hasil pertanian kaum Yahudi di Khaibar.
Suatu hari ketika ia hendak melaksanakan tugasnya, orang-orang Yahudi mengumpulkan perhiasan istri-istrinya agar pemeriksaan yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah tidak menghambat perdagangan mereka.
Diberikanlah seluruh perhiasan tersebut kepada Abdullah bin Rawahah agar urusan mereka dipermudah.
Melihat itu Abdullah berkata, “Hai orang-orang Yahudi! Demi Allah. Kamu semuanya adalah makhluk Allah yang aku benci! Meskipun demikian, aku tidak akan mencurangi kalian. Kalian menawarkan kepadaku barang suap, sedangkan barang suap itu haram. Dan kami membenci memakan barang suap!”
Mendengar penolakan Abdullah, orang-orang Yahudi itu berkata, “Dengan sifat itu, langit dan bumi tegak berdiri.”
Penyair, Panglima dan Pemberani
Abdullah bin Rawahah juga seorang yang dikenal pandai membuat puisi. Syair-syair yang dibuat dan keluar dari mulutnya terdengar sangat indah dan Rasulullah sangat menyukai syair-syair yang dibuatnya.
Sebagai sosok yang pemberani sekaligus pandai bersyair, Abdullah bin Rawahah juga ikut mengobarkan semangat juang pasukan muslim dengan syair-syairnya yang indah.
Pada saat Rasulullah memberangkatkan pasukan muslim ke medan perang Mu’tah melawan pasukan Romawi, pada perang tersebut Abdullah bin Rawahah termasuk salah satu panglima diantara tiga panglima perang yang ditunjuk oleh Rasulullah, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abdul Muthalib dan Abdullah sendiri.
Rasulullah berkata: “Jika Zaid bin Haritsah menjadi syahid, maka kepemimpinan perang akan diambil alih oleh Ja’far bin Abu Thalib, jika kemudian Ja’far juga menjadi syahid, maka panglima perang akan beralih kepada Abdullah bin Rawahah.”
Ketika pasukan muslim sampai di negeri Syam, mereka mendengar bahwa Heraklius pemimpin romawi telah mengirimkan pasukan sebanyak 100.000 orang. Kemudian beberapa kabilah Arab juga ikut bergabung bersama pasukan Romawi sebanyak 100.000 pasukan, sehingga jumlah meraka total sekitar 200.000 pasukan. Jumlah yang sangat besar dan tidak berbanding dengan jumlah pasukan Islam yang hanya berjumlah 3.000 orang. Kemudian para panglima ini sepakat untuk bertahan hingga selama 2 hari untuk mengatur strategi, karena perang mu’tah ini merupakan perang pertama kaum muslimin melawan bangsa adidaya yang berkuasa saat itu, yakni bangsa Romawi. Pada saat itu beberapa sahabat mengusulkan untuk menulis surat kepada Rasulullah dan mengabarkan jumlah pasukan Romawi yang jelas jauh lebih besar. Tetapi usulan ini ditolak oleh Abdullah dan kemudian dia berdiri dihadapan pasukan muslim dan berkata:
“Saudara-saudara sekalian! Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala… ! Ayolah kita maju ….! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala… !”
Mendengar seruan dari Abdullah tersebut, pasukan muslim menjadi kembali bersemangat setelah sebelumnya sempat merasa kalah sebelum berperang karena mereka melihat jumlah pasukan Romawi yang demikian besar. Akhirnya berangkatlah pasukan muslim ke medan perang dengan semangat yang tinggi untuk membela agama Allah.
Saat itu panglima perang pertama Zaid bin Haritsah gugur menjadi syahid, kemudian bendera kepemimpinan beralih kepada Ja’far bin Abi Thalib. Setelah kemudian Ja’far gugur di medan perang sebagai syahid, Abdullah bin Rawahah mengambil bendera kepemimpinan dan menggantikan posisi Ja’far. Melihat Ja’far gugur sebagai syahid, pasukan muslim sempat sedikit goyah dan kurang bersemangat. Pada saat itu kemudian Abdullah tampil dengan gagah dan kemudian berkata dengan lantang dihadapan para pasukan muslimin:
‘Aku bersumpah demi Allah,
Akan maju ke medan perang baik suka maupun tidak
Seluruh manusia telah siap bertempur
Tapi kenapa sepertinya engkau, wahai jiwaku, menolak Surga
Telah tiba kesempatan yang aku idamkan
Bukankah engkau ini hanya setetes saja dari lautan
Abdullah bin Rawahah kemudian melanjutkan syairnya:
Wahai jiwaku,
Sekiranya engkau tidak gugur di medan perang, engkau tetap akan mati
Inilah merpati kematian telah menyambutmu
Apa yang kau idam-idamkan telah engkau peroleh
Jika engkau ikuti jejak keduanya (dua panglima sebelumnya)
Engkau beruntung sebagai panglima sejati
Jika engkau mundur pasti sengsara dan rugi.”
(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).
Perkataan ibnu Rawahah tersebut kembali mengobarkan semangat juang kaum muslimin dalam perang. Hingga akhirnya Abdullah bin Rawahah pun menjadi syahid di medan perang. Melihat ketiga panglimanya tewas menjadi syahid, pasukan muslim akhirnya menunjuk Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang menggantikan ketiganya, hingga perang usai.
Pada saat sedang terjadi perang tersebut, Rasulullah beserta beberapa sahabat yang tidak ikut berperang sedang bercakap-cakap tentang para pasukan muslim dan para panglimanya. Di tengah percakapan tersebut, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam sejenak dan kedua mata beliau basah dan berkaca-kaca dan berkata kepada para sahabat disekelilingnya: “Zaid bin Haritsah telah menjadi syahid, kemudian digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib yang akhirnya menjadi syahid, kemudian digantikan oleh Abdullah bin Rawahah yang akhirnya juga menjadi syahid, ketiganya akan diangkat ke surga bersamaku”.[]
Sumber : Majalah Sedekah Plus