Kondisi kerja di kantor

Berikut adalah Pertanyaan dan Jawaban terkait apakah harus resign ketika bekerja dengan non muslim. Berikut pertanyaannya:

Assallamu ‘alaikum ustadz, Saya seorang pria yang bekerja sebagai sales manager di perusahaan swasta, relasi saya hampir sebagian besar non muslim, dan team saya dan atasan semua non muslim.

Tekanan dipekerjaan saya sangat kuat, sehingga membuat saya stress dan ada beberapa hal yang dipekerjaan yang bertentangan dengan hati ana, karena ada syubhat dan maksiat

Saya ingin resign, tapi masih takut karena kalau berhenti bagaimana dengan istri dan anak saya nanti istri agak berat kalau saya berhenti. Hal ini membuat kami sering emosional.

Mohon saran dari ustadz. Jazakallahu khairan.

Levi – Jambi

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.

Selamat datang Pak Levi, semoga Allah senantiasa merahmati antum dan memudahkan segala urusan antum.

Pertama: Dalam tinjauan syariat, bermuamalah dan berinteraksi dengan non muslim adalah perkara mubah, dengan syarat:

1. Pekerjaan atau bisnisnya dalam ruang lingkup yang halal hukumnya, maka tidak boleh bagi kita untuk bekerja di perusahaan khamer (minuman keras), atau di perusahaan yang menerapkan riba misalnya.

2. Kita diberi keluasan untuk menegakkan syariat agama, seperti shalat, puasa dan lain sebagainya.

3. Tidak khawatir untuk terpengaruh dengan lingkungan buruk yang melingkupi mereka.

Abdullah bin Umar mengatakan: “Rasulullah menyerahkan tanah Khaibar kepada orang Yahudi untuk dikerjakan dan ditanami, dan mereka mendapatkan separuh dari hasilnya.” (HR. Al-Bukhari)

Syaikh bin Baz mengatakan: ”Dalam masalah ini –berinteraksi dengan non muslim dalam bisnis- ada perinciannya, jika interaksi ini berakibat kepada tegaknya loyalitas kepada non muslim, atau melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah, atau meninggalkan perintah Allah, maka interaksi ini haram hukumnya disebabkan karena interaksi berakibat kepada kerusakan, namun apabila tidak ada sedikitpun berakibat kepada kerusakan-kerusakan tersebut, dan yang melaksanakan bisnis tersebut atau yang mengawasinya adalah orang muslim agar tidak tertipu, maka hukumnya tidak apa-apa”.

Kedua: Tekanan dalam hidup adalah hal yang lumrah, semua manusia mengalaminya, sebab hidup tidak ada yang “bersih” dari tekanan, atau selamat dari timpaan musibah, atau deraan ujian dan cobaan, ibarat berjalan di atas jalan, maka tidak mungkin jalan yang kita lalui akan senantiasa mulus dan lurus, pasti akan ada onak dan duri yang dilalui, akan ada jalan yang rusak, sempit yang akan dijalani, akan ada jalan menanjak yang harus didaki, atau minimal akan kita temukan tikungan-tikungan tajam yang harus dilewati, yang tentunya cukup untuk memacu andrenalin kita.

Tujuan dari hal tersebut adalah untuk menguji keimanan kita kepada Allah, benarkah iman kita kepadaNya, ataukah dusta? Allah berfirman yang artinya: “Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan :”kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta (dalam pernyataan imannya).” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3)

Ketiga: berdasarkan dari pemaparan diatas, maka saran kami adalah saran kami adalah sebagai berikut:

1. Jika keinginan antum untuk resign dilatarbelakangi oleh relasi antum yang non muslim, maka saran kami untuk memikirkan resign tersebut matang-matang, agar tidak keliru tatkala memutuskan. Sebagaimana kami paparkan diatas bahwa sejatinya berinteraksi dengan mereka hukumnya mubah, dengan syarat-syarat yang telah kami jelaskan.

Adapun jika dilatarbelakangi karena tekanan dalam pekerjaan antum, maka saran kami mirip dengan saran di atas, sebab dimanapun anda bekerja tekanan tersebut akan tetap membuntuti antum, kendati mungkin ada perbedaan volume dari tekanan tersebut, bisa lebih longgar, namun bisa juga lebih parah. Dan kami sarankan untuk berhias dengan sikap sabar dan santun dalam berinteraksi, dan untuk lebih menenangkan andrenalin antum, maka banyak-banyaklah mengingat Allah lewat ibadah yang disyariatkan, khususnya shalat, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an. Ketiga ibadah ini insya Allah akan dapat menjadi solusi bagi tekanan yang antum rasakan, dan dapat juga ditambah dengan mengajukan cuti dan digunakan untuk melaksanakan rihlah dan piknik bersama keluarga.

2. Jika keinginan antum untuk resign disebabkan karena syubhat yang menyelubungi pekerjaan antum, atau sulit untuk menghindar dari belitan maksiat, maka kami cenderung untuk mendukung rencana antum untuk resign dalam kondisi ini, karena perkara ini berkaitan erat dengan syariat.

Tentunya jika antum resign, maka nada konsekuensi “pahit” yang mungkin akan antum kecap, yaitu khawatir dengan rezeki dan nafkah keluarga, dan harus pontang-panting untuk hunting pekerjaan lagi dan berpotensi mewariskan kegalauan di hati, apalagi jika berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Akhi Levi, di saat seperti ini Islam juga mewariskan ibadah yang sangat agung, yaitu Tawakkal kepada Allah dan sikap optimis, ya,, ibadah tawakkal dan optimis.

Tawakkal adalah penyerahan diri kepada Allah dengan mengerahkan upaya dan ide untuk mencari solusi dari ketepurukan kita, dan menyandarkan hati kita kepada Allah semata, dan inilah adalah sifat seorang mukmin yang sejati.

Adapun optimis, maka membuncahkan harapan dan keyakinan bahwa pasti akan ada solusi dari Allah, sangat menyakini bahwa janji Allah yang tersirat di dalam firman-firmanNya akan terwujud, dan sangat optimis bahwa keutamaan yang terkandung di dalam sabda Rasulullah akan hadir, Rasulullah bersabda: “Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu yang haram karena takut kepada Allah, kecuali Allah akan memberikan (sesuatu yang halal) yang lebih baik darinya (dari yang ditinggalkan)”. (HR Ahmad)

Sesungguhnya sikap optimis yang berkualitas adalah optimis yang terbit ketika kita berada di dalam keadaan yang sudah sangat berputus asa dari makhluk, tidak ada tanda-tanda solusi dari problem kita di bumi, namun setitik cahaya hati masih meyakini akan turunnya solusi dari Dzat yang berada di langit. Maka hendaknya optimisme ini senantiasa berdenyut di dada orang-orang yang beriman, sebab mereka memiliki Allah, yang pintunya tidak pernah tertutup untuk memberikan pertolongan. Wallahu A’lam bis Shawab.

Demikian artikel tentang bagaimana bermuamalah dengan non muslim di kantor. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang fiqh.