Berbakti kepada Orangtua

Di suatu majelis taklim, saat pada sesi tanya jawab kajian.

Seorang pria bertanya : “Wahai Syaikh, Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku dan terjadi masalah antara Beliau dengan istriku.”

Syaikh : “Ulangi pertanyaanmu..!”

Pria itu mengulangi : “Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.”

Syaikh : “Coba ulangi pertanyaanmu..!”

Pria tersebut mengulangi lagi : “Ibuku tinggal menumpang bersamaku di rumahku.”

Syaikh : “Ulangi lagi pertanyaanmu..!”

Pria tersebut mengulangi : “Ibuku tinggal menumpang bersamaku.”

Syaikh : “Ulangi sekali lagi pertanyaanmu..!

Penanya : “Wahai Syeikh, tolong biarkan aku menyelesaikan dulu pertanyaanku, jangan Anda potong.”

Syaikh : “Pertanyaanmu salah, yang benar engkaulah yang hidup menumpang pada ibumu, meski rumah itu milikmu dan atas namamu!”

Penanya : “Iya Syaikh, kalau demikian selesai sudah permasalahannya.”

———–

Kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak dibatasi oleh pernikahan. Seorang wanita tetap punya kewajiban untuk berbakti kepada kedua orangtuanya di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga. Seorang laki-laki wajib tetap berbakti kepada kedua orangtuanya di tengah kesibukan mencari nafkah untuk keluarganya. Meski tingkat kewajiban antara suami dan istri berbeda. Seorang wanita harus mendahulukan kewajibannya terhadap suaminya dibanding kewajibannya terhadap orangtuanya, namun seorang laki-laki harus mendahulukan kewajibannya terhadap kedua orangtuanya dibanding kewajibannya terhadap istri atau keluarganya, sebagaimana kasus dalam kisah di atas. 

Suami yang baik adalah yang membantu istrinya untuk tetap berbakti kepada kedua orangtuanya. Istri yang baik adalah yang mendorong dan tidak menghalangi suaminya untuk tetap berbakti kepada ayah dan ibunya meski ada hak yang ia korbankan. Sebab apa yang dimiliki oleh suaminya, sang mertua tetap punya hak atasnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang laki-laki, “Engkau dan semua hartamu adalah milik Ayah Ibumu”. (HR. Ibnu Majah no. 2291).

Pasangan yang sukses adalah yang tidak hanya bisa menjaga keharmonisan antara mereka sebagai suami istri, tapi yang bisa menjaga kerukunan antara dua keluarga besar. Seorang suami selayaknya menganggap mertuanya sebagai kedua orangtuanya sendiri. Begitupun sebaliknya seorang istri harus menganggap Ibu dan Ayah suaminya sebagai orangtua kandungnya sendiri. Mereka berbakti kepada mertua selayaknya berbakti kepada kedua orangtuanya sendiri. 

Semoga kita bisa menjaga keharmonisan rumah tangga serta keluarga besar kita dengan menjalankan prinsip dan ketentuan yang telah digariskan Islam. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *