bersamamu mengarungi badai

 

Oleh: Maryam Ilda

Bukan karena salah dalam memilih pasangan yang se-level, lantas konflik rumah tangga bertubi-tubi menimpa. Sebab dengan siapapun kita menikah, tak ada jaminan bakal terbebas dari konflik. Disebutkan dalam sebuah sumber: karena karakter seseorang sudah terbentuk hingga ia dewasa dan menikah. Selain itu, setiap orang mempunyai hak untuk menjadi dirinya sendiri.

Iya, rumah tangga seperti kapal yang sedang berlayar mengarungi samudera kehidupan menuju pantai kebahagiaan; tentunya di dunia, terlebih di akhirat. Dalam pelayarannya, ‘rupa-rupa’ kejadian ditemui. Ada angin semilir sepoi-sepoi yang nikmat dan menyenangkan. Ada pula angin kencang bak badai mengguncang. Yah, itulah gambaran kehidupan yang suatu saat akan berakhir mendarat.

Maka ibadah yang berlangsung panjang ini, pernikahan, hakikatnya ialah penyatuan dua pribadi yang berbeda. Berasal dari latar belakang budaya keluarga yang berbeda, bahkan visi menikah pun, meski ‘sepemahaman’, boleh jadi juga berbeda. Contoh sederhana, suami ingin anaknya kelak jadi penghafal al-Quran, sedang istri menginginkan anaknya menjadi dokter yang islami. Lanjut, dengan banyaknya perbedaan itulah yang dapat saja memicu konflik terjadi.

Konflik suami istri pun biasanya disebabkan oleh kurangnya rasa ‘saling’ antara keduanya. Kurang saling pengertian terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kurang saling percaya. Kurang saling terbuka. Kurang saling komunikasi yang efektif. (klikpsikologi.htm/manajemen konflik keluarga).

Maka di antara penyelesaian konflik rumah tangga ialah kuatkan niat dan visi berumah tangga (pertama). Ibadah adalah niat yang menggerakkan bahtera kehidupan rumah tangga. Bahkan sanggup meredam banyaknya potensi konflik. Lalu “siapa jati diri keluarga Anda” menjadi visi yang memandu arah bahtera rumah tangga berlabuh. Dan sejatinya visi menikah ialah mendapatkan surga di dunia dan surga di akhirat.  Menjadi keluarga perindu surga!

Kedua; belajar memahami banyak hal. Cara memandang hidup, memandang pernikahan, memandang pasangan dan anak; sebagai sarana mendulang pahala, insya Allah! Sebuah obsesi akhirat yang hendaknya dijaga baik-baik. Bersama saling menggenggam erat-erat!

Termasuk pula memandang kesalahan sendiri dan pasangan. Enyahkan berpikir hitam putih! Tidak terpaku pada pemikiran pembuktian siapa yang salah dan siapa yang benar. Win-win solution. Mencoba mencari solusi dengan semua pihak dimenangkan. Justru kesalahan kita dan konflik adalah mekanisme baku untuk mengenalkan kita dan pasangan, serta memperkuat diri dan keluarga untuk menjaga hubungan dengan Allah. Inilah seni hidup hamba beriman!

Katakan: badai pasti berlalu! Jangan biarkan kapal karam terhantam badai! Tapi arungi badai bersama nahkoda (suami) dan awak kapal (istri dan anak) yang saling bahu membahu membawa kapal selamat sampai ke tujuan![]

Sumber Rubrik Sakinah Majalah SEDEKAH PLUS edisi 5.

Info dan Pemesanan Majalah : 085315900900

Tinggalkan Balasan