Ilustrasi hidayah

Artikel ini akan membahas pertanyaan mengenai apakah boleh menyebut diri kita sudah mendapat hidayah.

Adapun bentuk pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Pertanyaan

Bolehkah kita menyebut diri kita sudah mendapat hidayah?

(Ginanjar)

Jawaban:

Sebagai bentuk kesyukuran tidak mengapa, sebagaimana Syaikh Bin Baz pernah ditanya wahai Syaikh mengapa terkadang ada orang yang terkenal dengan keistiqomahannya tiba-tiba dia futur, berhenti dari keistiqomahannya dan ketaatannya? Syaikh kemudian menjawabnya : ada 2 kemungkinan, pertama dia tertipu dengan hidayah yang ia telah dapatkan dan kemudian yang kedua dia tidak mensyukuri hidayah tersebut. Pertama ghurur (tertipu); hati-hati, jangan tertipu dengan keimanan yang sudah Allah berikan kepada kita. Kedua, dia tidak mensyukurinya dia selalu mengatakan saya ini belum dapat hidayah. Syukuri apa yang anda sudah dapatkan sekarang (syukuri yang sudah ada),,

Firman Allah Subhanahu waTa’ala :

Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat Berat.”(QS. Ibrahim : 7)

Jadi kalau misalnya Allah sudah memberikan kita taufik, menjaga shalat berjamaah dengan baik,  ditambah lagi puasa-puasa sunnah misalnya, rajin mengikuti pengajian dan ta’lim, perbanyak syukur kepada Allah. Alhamdulillah ya Allah Engkau telah memberi hidayah dan petunjuk kepadaku. Kalau kita mensyukuri maka Allah akan menambahkan kepada kita dan menjaganya untuk kita, tapi kalau misalnya seseorang sudah mulai Ghurur. Misalnya, dia mengatakan kayaknya di kompleks ini hanya saya orang yang mendapat petunjuk, semua orang di sini tersesat kecuali saya. Kalau misalnya dia sebutkan itu untuk bersyukur kepada Allah tidak membuat dia tertipu maka Alhamdulillah, Tapi kalau misalnya membuat ia tertipu maka dia bisa menjadi futur.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam Bersabda:

“Dua orang lelaki yang bersaudara, yang satu sering melakukan kemaksiatan dan yang satu rajin beribadah kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Dia selalu menasehati saudaranya tapi saudaranya ini keras kepala dia tidakmau mendengar nasehatnya sampai suatu ketika dia melakukan kemaksiatan langsung dia berkata kepadanya “demi Allah, Allah tidak akan mengampuni lagi dosa-dosamu”. Ketika keduanya meninggal dunia di hari kiamat keduanya dihadirkan di hadapan Allah Shubhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, siapa gerangan yang meninggikan dirinya di atasku? Siapa mengatakan Aku tidak mengampuni dosa Hamba-Ku? Saya sudah mengampuni dosa Fulan dan Saya memasukkan engkau ke dalam neraka.” (Hadits Shahih)

Begitupula dengan Kisah yang diceritakan oleh seorang Syaikh yang mirip dengan kisah di atas, ada seorang pemuda  rajin bermaksiat dan selalu dinasehati saudaranya tapi dia terus melakukan kemaksiatannya akhirnya saudaranya mengatakan demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu dan kamu ini sudah keterlaluan. Akhirnya dia pun mengatakan, dan demi Allah saya akan menunjukkan kepadamu bagaimana Allah akan mengampuni dosa-dosaku, dia bersumpah atas nama Allah dan ini sebagaimana  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

“Ada diantara hamba Allah kalau dia bersumpah atas nama Allah, Allah akan segera menunaikan sumpahnya.”

Betul, Masya Allah, Allah memberikannya hidayah dan disebuah musim haji dia menunaikan ibadah haji, dia tidak mau naik Bus. Dia jalan kaki ke Arafah dan dia meninggal di sana.

Kalau misalnya dia merasakan dia belum mendapat hidayah dari sisi bahwa masih ada kekurangan dan memicunya untuk terus meminta kepada Allah maka itu tidak mengapa. Namun kalau misalnya untuk meremehkan dirinya maka hendaknya dia hindari dan bisa menjadi pintu bagi syaitan untuk menyesatkan orang tersebut.[]

Baca juga: Bersedekah untuk Berharap Hal Duniawi