Ilustrasi Perjuangan Bangsa Palestina

Tak harus jadi Ummat Islam, cukup jadi manusia yang sehat nuraninya maka kita akan merasakan keprihatinan dan empati yang mendalam kepada bangsa Palestina yang terjajah. Konstitusi kita pun mengatur bahwa menghilangkan nyawa tanpa sebab, adalah pelanggaran berat. Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Lihatlah mereka yang ikut mendukung perjuangan rakyat Palestina dari  berbagai kalangan, suku, ras dan agama di berbagai belahan dunia. Sekecil apapun bentuk dukungannya, hal itu menunjukkan keberpihakan mereka pada sisi kemanusiaannya.

Sekali lagi, cukup tanyakan sisi kemanusiaan kita saja, maka kita akan menyadari bagaimana selayaknya memahami kondisi mereka di Palestina.

Dalam kacamata ajaran Islam, keterlibatan umat Islam dalam perjuangan tersebut jelas menjadi cermin dari keimanan yang tak diragukan, kita ibarat satu tubuh. Keterlibatan aktif umat Islam dalam perjuangan ini juga mengharapkan keberkahan dari Baitul Maqdis, tanah suci ummat Islam sedunia.

Ironinya, ada saja beberapa gelintir manusia, yang seolah paling paham soal agama ini namun justru tak benar-benar menunjukkan rasa empati. Mereka bahkan memojokkan para pejuang kemerdekaan tersebut dengan tuduhan macam-macam.

7 Oktober 2023 sejatinya adalah sebuah momentum langkah strategis yang menunjukkan bahwa perjuangan Palestina masih ada. Ruh perjuangannya masih terjaga, semangatnya masih menggelora, desiran darahnya masih terus terpompa. Lalu muncullah komentar aneh bahwa; “Kalau bukan gara-gara Hamas, mungkin 12 ribuan (data per tanggal 18 November 2023) tak akan meninggal dunia. Kalau bukan karena serangan di pagi buta itu, mungkin sekarang Gaza masih tetap  aman-aman saja,” demikianlah kata sebagian mereka yang tak mendukung.

Padahal kalau kita ambil sudut pandang atau logika sederhana saja, orang mana yang tak marah jika tanah dan rumahnya dirampok paksa. Orang waras mana yang sudi melihat anak dan istrinya mengalami penderitaan hebat akibat penjajahan, pun dengan orang tua mereka yang mati tergeletak di depan laras senapan penjajah. Siapapun dirinya, jika melihat ketidak adilan di depan mata—pasti mereka akan bangkit melawan—spontan tanpa harus menawar-nawar, ataupun menimbang “menang kalahnya mereka”. Maka wajar adanya jika mereka melawan dan terus berjuang selama 75 tahun dijajah. Anehnya, sehari saja melawan malah dicap teroris dan sumber masalah.

Para pejuang itu juga tahu resiko yang akan mereka hadapi. Mereka paham akan banyak sekali korban berjatuhan. Namun siapa yang baru tahu, bahwa ternyata serangan balik kepada penjajah juga menjadi pembuka mata publik dunia yang kemarin-kemarin terbuai, mereka dipaksa bangun dari tidurnya. Di sana ada negeri yang terjajah selama 75 tahun, namun tak satupun negara di dunia yang berani secara terang terangan membantu untuk melawan. Sekarang, setelah mereka mencoba bangkit untuk melawan, barulah mata dunia membelalak. Dari sana terbukalah pula, siapa sajakah yang munafik, siapa yang masih konsisten mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.

Saat ini bukan lagi waktunya kita mematikan api yang sudah dikobarkan. Perjuangan yang sementara berjalan dengan kalimat-kalimat menyudutkan. Jika tak bisa membantu minimal jangan menjadi “hama perusak”. Jika tak bisa menolong paling tidak berhentilah mencela. Karena musuh sudah nyata, hitam dan putih sudah sangat jelas dalilnya. Ini bahkan soal kemanusiaan, ini soal siapa yang dijajah, siapa yang menjajah. Maka kita memastikan diri untuk mendukung yang terjajah. Dalam perspektif keimanan, sudah jelas pula, lawan kita adalah musuh yang nyata, bukan lagi abu-abu, jelas lagi dalilnya.

Pembaca yang budiman, seruan boikot produk pendukung Zionis Israel misalnya, ia adalah salah satu bentuk tindakan konkret guna mengekspresikan perlawanan terhadap penjajahan tersebut. Gerakan solidaritas ini bukan hanya sekadar wujud simpati, akan tetapi menjadi panggilan hati nurani demi mengakhiri penjajahan dan genosida yang terus berlangsung di Palestina.

Boikot adalah langkah strategis. Apalagi kita sudah punya landasan yang kuat. Arahan sekaligus fatwa yang lahir dari diskusi panjang oleh para ulama dan cendekiawan kita di Majelis yang mulia, MUI.

Sadar akan kekuatan nilai tawar yang dimiliki sebagai konsumen, masyarakat internasional dapat berperan aktif dalam memberikan tekanan ekonomi dan politis yang dapat memaksa pihak-pihak terkait untuk merumuskan ulang kebijakan mereka yang tak manusiawi.

Kenapa harus memboikot? Bukankah ini juga bisa menjadi masalah baru? Apalagi masih banyak saudara muslim kita yang mencari nafkah di tempat itu? Tentunya tak sesederhana itu menyimpulkannya. 

Proses boikot itu dapat berpengaruh dan memberi tekanan ekonomi kepada negeri penjajah. Jika ekonomi mereka benar-benar terdampak, maka pasokan persenjataan mereka akan terbatasi. Artinya apa? Kekuatan mereka akan melemah hingga tak punya daya lagi untuk terus berkoalisi membantai saudara kita di Palestina. Lalu bagaimana dengan mereka yang masih bekerja, mencari nafkah lewat produk yang dimaksudkan, jawabannya adalah syariat itu mudah. Silakan cari alternatif pekerjaan lain, jika masih belum mendapatkan pekerjaan dan ada kewajiban nafkah bagi mereka yang berada dalam tanggungan—maka tetaplah di tempat itu. Sembari berdoa, mudah-mudahan Allah bukakan jalan rejeki-Nya. Yakini, bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berusaha meninggalkan sesuatu yang mudharat bagi diri dan saudaranya secara langsung maupun tidak, maka lakukanlah semata karena Allah saja.

Adapun kepada mereka yang masih nyinyir dengan aksi solidaritas di jalan. Ketahuilah saudaraku, bahwa seekor semut di zaman Ibrahim pun tetap berusaha membawa setetes air guna memadamkan api yang membakar jasad kekasih Allah yang mulia itu. Ada yang mencibir seraya menyebut langkah yang dilakukan oleh semut itu akan sia-sia. Tapi ketahuilah, ini bukan soal berhasil tidaknya—namun yang dinilai adalah niat dan apa usaha kita hari ini. 

Jangan sampai, kita tak punya jawaban membela diri kelak di akhirat tatkala Allah tanyakan, apa bentuk usaha kita menolong ribuan saudara Muslim seakidah yang teraniaya hari ini. Sungguh kasihan mereka yang hidupnya disia-siakan untuk mencari-cari kesalahan kepada pejuang Palestina. Mereka yang menghardik, mencela para pendemo di jalanan, atau sekadar mengatakan, bahwa yang memboikot adalah manusia-manusia tega yang membunuh mata pencaharian orang sekitarnya.

Persoalan Palestina juga menuntut jawaban kita hari ini:

Siapa yang munafik, siapa yang benar-benar beriman

Siapa yang pura-pura peduli, dengan mereka yang benar-benar ikhlas berjuang menjaga kiblat pertama ummat ini dan menuntut kemerdekaannya di tengah keterbatasan, wallahu ta’ala a’lam.

Jika saja mereka yang nyinyir hari ini hidup di zaman Belanda dan Jepang, kira-kira, apa pandangan mereka soal perlawanan Diponegoro di pulau Jawa, perlawanan Sultan Hasanuddin di Sulawesi Selatan, perlawanan Teuku Umar di tanah rencong, perlawanan I Gusti Ngurah Rai di pulau Bali, perlawanan Sultan Tidore dan Ternate di Maluku, perjuangan Pangeran Antasari di Kalimantan, dan setiap pahlawan yang berjuang untuk tanah kelahirannya?

Baca juga: Tak Perlu Menjadi Muslim Untuk Membela Palestina, Cukup Kamu Menjadi Manusia

Oleh: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si., M.Si.

Editor: Faisal