Kalimatnya pendek saja: Iqra dulu, Al-Qur’an kemudian.
Itulah logika dasar belajar mengaji. Dan logika itu pula yang dibawa ke Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sabtu lalu (27/6). Tujuannya jelas: Pondok Pesantren Al Hikam.
Turatea adalah bumi yang tangguh. Ponpes Al Hikam adalah tempat menempa jiwa. Di sana, para santri bergulat dengan waktu dan huruf hijaiyah setiap hari. Ada yang baru mengeja Alif-Ba-Ta, ada yang sudah fasih melantunkan ayat suci.
Masalahnya klasik: sarana. Mengaji butuh modal fisik—kitab yang layak. Selama ini, kekurangan itu disiasati dengan kreativitas. Atau dengan kesabaran. Bergantian.
Maka, ketika tim Program Tebar Al-Qur’an Nusantara datang, suasananya berubah. Tidak ada upacara bertele-tele. Langsung pada esensinya.
Logistik diturunkan. Anda sudah tahu jumlahnya: 30 eksemplar Al-Qur’an dan 20 buku Iqra. Pas. Kombinasi yang proporsional untuk santri tingkat dasar dan lanjutan.
Mengapa harus ada Iqra di sebuah pondok pesantren?
Banyak yang lupa, pondok di pelosok sering kali merangkap menjadi benteng pertama anak-anak desa mengenal huruf Arab. Iqra adalah jembatannya. Tanpa Iqra yang baik, jalan menuju kelancaran membaca Al-Qur’an akan tersendat.
Hari itu, penyerahan berlangsung cepat. Tertib. Lancar. Pihak Al Hikam menerima bantuan dengan mata yang berbicara—penuh rasa syukur. Kitab-kitab baru itu langsung berpindah tangan dalam kondisi prima.
Harapan dari program ini juga sederhana saja, tidak muluk-muluk: agar santri lebih bersemangat. Agar nafas keagamaan di Turatea terus berkesinambungan.
Dari sela-sela perbukitan Jeneponto, sepasang tangan kecil kini memegang mushaf baru. Mereka siap mengaji lagi nanti malam. Kali ini, tanpa harus mengantre.
Luaskan manfaat sedekah Anda!