Kekuatan Cinta
LAZISWahdah.com
– Ada banyak definisi cinta yang kerap terdengar. Apa pun itu tentang cinta, yang terpenting ialah bagaimana cara kerja cinta dalam berumah tangga. Maka yang pertama harus diperhatikan adalah rasa ikhlas. Ikhlas mencintai dan dicintai oleh pasangan apa adanya. Sebab dengan keikhlasan, memunculkan ketahanan (stamina). Sederhananya, kenapa ibu bertahan selama sembilan bulan membawa anaknya dalam rahim. Kenapa bapak bertahan membanting tulang untuk makan keluarganya di rumah. Jawabnya, karena ikhlas yang terpatri lalu –sekali lagi- menghasilkan ketahanan, dan itulah kekuatan cinta!

Kekuatan cinta tak berdaya apabila dalam proses mencintai dan dicintai, tak ada motif (dorongan) dan pikiran positif sesama pasangan. Bukan sekadar menjalani, tetapi semestinya, rasa menikmati hari-hari berumah tangga, meski tak dipungkiri kerap muncul konflik, sebagai bumbu-bumbu cinta yang menguatkan cinta itu sendiri. Maka cinta memiliki sifat mementingkan kepentingan orang lain (pasangan) dan mengalahkan diri sendiri, selanjutnya disebut sebagai pengorbanan, yang membentuk kekuatan diri.

Agar kian cinta, beberapa hal yang patut diperhatikan dalam membangun hubungan psikologi cinta pada suami di antaranya: suami bagian dari istri (pun sebaliknya). Seyogyanya, setiap pasangan senantiasa menerima masukan, kritikan, dan nasihat untuk keutuhan keluarga.

Selanjutnya, mengedepankan hukum syariat, bukan keinginan dan kepentingan pribadi. Ketika suami istri tunduk pada aturan Allah, tentu akan meringankan hati untuk menerima kebenaran yang disampaikan oelh suami atau istri, sekalipun bertentangan dengan keinginan pasangan.

Ketiga; memperlakukan pasangan secara makruf. Fastabiqul khairat untuk saling memperlakukan pasangan dengan sebaik-sebaik pelayanan. Ini adalah kerja keras! Buahnya, kebahagiaan akan merasuk sukma sesama pasangan, meski mengorbankan kesenangan sendiri.

Mendudukkan pasangan sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan (keempat). Kesadaran tersebut, membantu pasutri untuk menerima kesalahan pasangannya, namun tidak membiarkan berlarut-larut dalam kesalahan. Tentu disikapi dengan sikap saling menasihati, juga sabar menghadapi kekurangannya. Sebab, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah[2]:216).

***
Oleh: Ummu Afif Abdurrahman
Sumber : Majalah Sedekah Plus

Tinggalkan Balasan