Khalid Bin Walid, Pedang Allah yang Terhunus

Tulisan ini adalah bagian kecil dari biografi seorang tokoh terkemuka umat ini. Dia salah seorang pahlawan dan kesatria umat ini. Dia salah seorang tokoh sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dan dari perjalanan hidupnya ini kita akan menggali berbagai pelajaran dan ibrah. Dia adalah Khalid Bin Walid

Beliau masuk Islam pada tahun ke delapan hijriyah dan telah terjun dalam puluhan peperangan.

Para sejarawan mencatat, dia tidak pernah kalah dalam satu peperanganpun baik pada saat jahiliyah atau setelah masuk Islam.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggelarinya dengan sebutan pedang Allah yang terhunus, dan beliau memberitahukan bahwa dia adalah salah satu pedang Allah terhadap orang-orang musyrik dan kaum munafiq.

Dia adalah seorang kesatria, Khalid bin Walid bin Al-Mugiroh Al-Qurasy Al-Makhzumy Al-Makky, anak saudari ummul mukminin Maimunah binti Al-Harits radhiallahu ‘anha.

Dia seorang lelaki yang kekar, berpundak lebar, bertubuh kuat, sangat menyerupai Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu.

Khalid memiliki sikap kepahlawanan besar yang mencerminkan dirinya sebagai seorang pemberani dalam membela agama ini.

Di antara cerita tentang kepahlawanan beliau adalah apa yang terjadi pada perang Mu’tah, pada tahun ke delapan hijriyah, pada tahun dia memeluk Islam. Jumlah tentara kaum muslimin pada saat itu sekitar tiga ribu personil sementara bangsa Romawi memilki dua ratus ribu personil.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan agar pasukan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan jika dia terbunuh maka kepemimpinan berpindah kepada Ja’far bin Abi Thalib, dan jika terbunuh maka kepeminpinan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.

Semua pemimpin di atas mati syahid pada peperangan ini, lalu bendera diambil alih oleh Tsabit bin Aqrom, dan dia berkata kepada kaum muslimin: “Pilihlah seorang lelaki sebagai pemimpin kalian”, 

Maka mereka memilih Khalid bin Walid. Pada peristiwa inilah tampak jelas keberanian dan kejeniusannya. Dia kembali mengatur para pasukan, kemudian dia merubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebaliknya pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan.

Kemudian sebagian pasukan diposisikan agak mundur, setelah beberapa saat mereka datang seakan pasukan bantuan yang baru datang. Hal ini guna melemahkan semangat berperang musuh kemudian kesatuan tentara kaum muslimin terlihat menjadi besar atas pasukan kaum Romawi sehingga menyebabkan mereka mundur dan semangat mereka melemah.

Selain itu, dengan keahliannya dan kecerdasannya dia mulai mengarahkan pasukan kaum muslimin untuk mundur secara teratur dengan cara yang unik, dan cukuplah dengan pukulan yang seperti itu. Beliau melihat agar pasukan kaum muslimin tidak terserang pada sebuah peperangan yang tidak sebanding.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hal itu sebagai kemenangan. Beliau bersabda pada saat menyebut ketiga komandan yang gugur syahid bahwa bendera akan diambil oleh salah satu pedang Allah sehingga Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin atas musuhnya.

Khalid mengisahkan dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, “Sembilan pedang di tanganku telah patah. Tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.”

Hal ini membuktikan tentang keberaniannya yang brilian dan kekuatan besar yang telah dianugerahkan baginya oleh Allah pada jasadnya. Beliau adalah komando pasukan kaum muslimin pada perang yang masyhur yaitu perang Yamamah dan Yarmuk. Beliau telah melintasi perbatasan  negeri Iraq menuju ke Syam dalam lima malam bersama para tentara yang mengikutinya.

Semua peperangan yang dia pimpinan meraih kemenangan gemilang. Namun kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memecatnya sebagai panglima.

Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu berkata: “Tidak, aku akan memecat Khalid sehingga orang-orang mengetahui bahwa sesungguhnya Allah membela agamanya tidak dengan Khalid.”

Sang ksatria ini pun membuktikan bahwa ia berperang bukan untuk meraih jabatan atau kekuasaan tapi demi meninggikan kalimat laa ilaha illallah. Meski dia kembali menjadi prajurit biasa tapi ia tetap gigih berperang dalam barisan kaum muslimin.

Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu mengatakan “tidaklah sebuah malam di mana aku bersama seorang pengantin yang aku cintai lebih aku sukai dari sebuah malam yang dingin lagi bersalju dalam sebuah pasukan kaum muhajirin guna menyerang musuh.”

Dia pernah menulis sebuah surat kepada kaisar Persia yang mengatakan, “Sungguh aku telah telah datang kepada kalian dengan pasukan yang lebih mencintai kematian sebagaimana orang-orang Persia menyenangi minum khamr.”

Qais bin Hazim berkata, “Aku telah mendengar Khalid berkata, ‘Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim.’” Betapa agungnya udzur ini!

Pada saat Khalid akan meninggal dunia dia menangis dan berkata, ‘Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkalpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.”

Sungguh Khalid mengharapkan mati syahid dan semoga Allah menyampaikannya pada derajat yang dicita-citakannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat orang-orang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya.”

Saat wafatnya Khalid bin Walid tidak meninggalkan kecuali kuda, senjata dan budaknya yang dijadikannya sebagai sedekah di jalan Allah. Pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al-Kattab dia berkata, “Semoga Allah memberikan rahmatnya kepada Abu Sulaiman, sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan.”

Khalid bin Walid wafat pada tahun 21 H. di Himsh pada usia 52 tahun, semoga Allah memberikan kepada Khalid balasan yang lebih baik dan semoga Allah mempertemukan kita dengannya surga yang mulia.[]

Referensi:

Islamhouse.com

Islamstory.com

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening