Kisah Kesabaran Abu Qilabah Yang Mengagumkan

Abu Qilabah, namanya adalah Abdullah bin Zaid Al-Jarmi. Seorang ahli ibadah dan ahli zuhudnya penduduk Bashrah. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik yang merupakan salah satu dari tujuh shahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. 

Di dalam kitab Ats-Tsiqqat Ibnu Hibban meriwayatkan sebuah kisah menakjubkan, yaitu tentang kesabaran Abu Qilabah di dalam menghadapi berbagai musibah yang menimpanya. Berikut ini kisah yang disebutkan oleh Ibnu Hibban dari Abdullah bin Muhammad:

Abdullah bin Muhammad menceritakan:

“Suatu hari, aku pergi ke tepi pantai dengan dalam rangka menjaga wilayah perbatasan. Waktu itu, kami berjaga-jaga di perkemahan di Mesir. Tiba di ujung pantai ada sebuah kemah yang dihuni oleh seorang lelaki yang sudah buntung kedua tangan dan kedua kakinya. Sementara pendengaran dan penglihatannya juga lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisannya.

Dengan lisannya itu, ia senantiasa berdoa, “Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhoi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19).

Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi, ada apa gerangan?”

Kemudian orang tersebut berkata, “Wahai hamba Allah. Demi Allah, seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini.” Kemudian dia berkata, Sungguh, sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku?”

Aku berkata, “Demi Allah, tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu.” Kemudian, aku meninggalkannya untuk  mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati, “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini? Aku mulai berpikir. Maka, aku teringat kisah Nabi Ayyub ‘alaihis salam.

Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya. Dia berkata, “Bukankah engkau temanku?” 

Aku katakan, “Benar.” Dia bertanya lagi, “Apa yang selama ini dikerjakan anakku?”

Aku berkata, “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”

Dia menjawab, “Ya.”

Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat dengannya?”

Dia berkata, “Allah menguji dirinya dan hartanya.”

Aku katakan, ”Bagaimana dia menyikapinya?”

Dia berkata, “Ayyub bersabar.”

Aku katakan, “Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?”

Dia menjawab, “Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya.”

Lalu aku berkata, “Bagaimana dia menyikapinya?”

Dia berkata, “Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?”

Lalu aku berkata, “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit pasir.”

Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka.” Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.

Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Lalu aku kafani dia dengan sorbanku. 

Tiba-tiba saja ada empat orang lelaki masuk ke kemah. Mereka bertanya, “Wahai hamba Allah, apa yang terjadi denganmu? Bagaimana kabarmu?” kemudian aku menceritakan kepada mereka tentang diriku dan lelaki ini. Mereka bertanya, “Bolehkah kami melihat wajahnya, siapa tahu kami kenal?”

Aku membuka wajahnya, keempat orang itu memperhatikan dengan seksama, kemudian menciumi mata dan tangannya. Aku pun bertanya, “Sebenarnya, siapakah orang ini?”

Mereka menjawab, “Abu Qilabah Al-Jarmi, teman dekat Ibnu Abbas. Orang ini sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Lalu kami memandikannya, mengafaninya dan menguburnya.[]

 (Ats-Tsiqqât, Ibnu Hibban: 5/2-5).

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening