LAZISWahdah.org – BENGKULU TENGAH – Salah satu desa yang menyumbang daftar korban jiwa terbesar pada bencana Banjir dan Longsor di Provinsi Bengkulu beberapa waktu silam adalah Desa Komering yang terletak Kecamatan Merigi Sakti, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu.

Tanah longsor yang cukup luas melanda perkebunan warga di desa ini, yang mayoritasnya adalah petani Kopi, pada Jumat (26/04/2019) lalu.

Tercatat sebanyak tujuh orang warga desa ini menjadi korban longsor, yang berasal dari dua keluarga dan satu korban yang merupakan tulang punggung keluarga.

Tiga korban pertama berasal dari satu keluarga yang berdomisili di Dusun III yakni seorang Suami bernama Idil Adha (32), Istri bernama Mira Sasmita (20) dan anak satu-satunya bernama Kanilo Al-Faris (13 bulan).

Ketiga korban ini meninggal dunia akibat longsor yang melanda perkebunan kopi mereka ketika sedang bermalam di pondok untuk menjaga kebun, Jumat (26/04/2019) lalu.

Menurut penuturan keluarga korban Indrajaya, ketiganya sudah menginap di pondok kebun sejak sepekan yang lalu.

“Warga disini memang begitu pak, untuk menjaga kebun, apalagi sedang musim panen, mereka tinggal di dalam kebun yang kemudian mendirikan sebuah pondok atau rumah kecil,” tutur Indrajaya.

Pria berusia 43 tahun ini mengatakan, pada malam kejadian, keluarga kecil ini sedang menghuni pondok tersebut dan akhirnya ikut terseret longsor dan terbawa arus sungai.

Almarhum Idil Adha ditemukan warga dalam kondisi sudah tak bernyawa di bawah jembatan perlintasan Desa Talang Boseng Kecamatan Pondok Kelapa yang terletak sejauh 30 kilometer dari titik perkebunan mereka, pada hari Sabtu (27/04/2019) pukul 17.00 waktu setempat.

Informasi penemuan korban ini diperoleh warga dari pengumuman penemuan jenazah yang dimuat Pemerintah Daerah di Media Sosial, khususnya jenazah yang ditampung di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Bengkulu.

“Dari informasi tersebut, kami mengenali bahwa itu adalah keluarga kami. Jadi kami lanjutkan mencari istri dan anaknya yang kemungkinan berlokasi sama dengan jenazah Aidil,” ujar Eto (29), keluarga korban.

Sementara itu, Jenazah istri korban yang bernama Mira Sasmita ditemukan dua hari kemudian, yakni Senin (29/04/2019) terletak 2 kilometer dari posisi jenazah sang suami.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah anak kedua korban masih belum ditemukan.
“Kami masih berusaha mencari jenazah anak semata wayang korban di tempat yang sama, mudah-mudahan bisa ketemu,” ungkap Eto kepada Relawan LAZIS Wahdah, Rabu (1/5/2019).

Jenazah pasangan Suami dan Istri ini kemudian dikebumikan di pemakaman umum desa Komering, dekat kediaman korban.

Sementara keluarga yang lain yang ikut menjadi korban dari Desa yang sama adalah warga Dusun II atas nama Suami Berlian (27), Istri bernama Lola Novita (24) dan sang anak semata wayang, Arkan (2,5).

Kisah korban satu keluarga ini juga sama dengan kisah korban yang disebutkan lebih dulu, yakni tertelan longsor yang melanda kebun kopi milik mereka saat sedang bermalam di pondok penjagaan, yang berjarak 7 kilometer dari pemukiman.

Jenazah ketiganya ditemukan 200 meter dari lokasi kebun, tepatnya di tepi Sungai Ringkis dekat Desa Komering, Sabtu (27/04/2019) sore.

Ketiganya kemudian dimakamkan secara bersamaan di pemakaman umum Desa setempat.

Satu korban terakhir adalah seorang Pemuda berusia 19 tahun, atas nama Bambang Adi Saputra, warga Dusun II Desa Komering, yang juga meninggal dunia pada saat sedang berjaga di kebun kopi miliknya.

Relawan LAZIS Wahdah yang melaporkan informasi ini, Muhammad Syukri Turusi mengatakan, di rumah para korban, masih berdiri tenda biru yang dipadati oleh keluarga dan tetangga korban.

Oleh Relawan LAZIS Wahdah, mereka kemudian mendapatkan santunan sederhana berupa sembako untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. (*rls)

Tinggalkan Balasan