LAZIS Wahdah -Majalah Sedekah Plus Edisi 51

LAZISWahdah.com – Suatu saat Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam naik mimbar, tiba-tiba beliau mengucapkan “aamiin, aamiin, aamiin”. Kemudian beliau ditanya oleh para sahabatnya: “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tatkala menaiki mimbar mengucapkan “aamiin, aamiin, aamiin?”. Beliau pun menjawab: “Sesungguhnya tadi (saat saya menaiki mimbar), Jibril ‘alaihissalam mendatangiku, lalu berdoa: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni niscaya ia masuk neraka dan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya). Katakanlah (Wahai Muhammad): aamiin.” Lalu aku pun mengucapkan: “aamiin.” Ia lalu berdoa lagi: “Barangsiapa yang mendapati kedua orangtuanya atau salah satunya (masih hidup) namun ia tidak berbakti pada keduanya lalu ia wafat, niscaya ia masuk neraka dan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya). Katakanlah (wahai Muhammad): aamiin.” Lalu aku pun mengucapkan: “aamiin.” Ia lalu berdoa lagi: “Barangsiapa yang disebutkan namamu padanya namun ia tidak bershalawat atasmu lalu ia wafat, niscaya ia masuk neraka dan dijauhkan oleh Allah (dari rahmat-Nya). Katakanlah (wahai Muhammad): aamiin.” Lalu aku pun mengucapkan: “aamiin.” (HR Ibnu Hibban: 907, hasan).

 

Hadits ini mengisyaratkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang mesti dijadikan sebagai momentum untuk meraih ampunan Allah Ta’ala, karena raihan ampunan dan ridha Allah merupakan janji Allah bagi seorang muslim yang bersungguh-sungguh dengan berbagai amalan shaleh di dalamnya, sehingga pantas bila bulan ini dikenal juga sebagai bulan pengampunan dosa. Dalam fadhilah puasa Ramadhan sendiri, Allah Ta’ala menetapkan adanya pengampunan dosa ini, sebagaimana dalam hadis: “Antara satu Ramadhan dengan ramadhan yang lain adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim: 233). Juga dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (Muttafaq’alaih). Iman dalam hadis ini bermakna keyakinan akan adanya pahala dan ampunan Allah, dan ihtisab bermakna mengharapkan adanya pahala dan ampunan dari puasanya tersebut, serta tidak beramal untuk dipuji.

 

Pengampunan dosa ini juga Allah tetapkan bagi amalan-amalan lain yang mengiringi hari-hari Ramadhan, semisal shalat tarawih, atau qiyamullail di malam-malam Ramadhan dan saat Lailatul-Qadr, sebagaimana dalam hadis: Barangsiapa yang beribadah (shalat) pada Lailatul-Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni  dosanya yang telah berlalu“. (HR Bukhari: 35, dan Muslim: 760). Juga hadis: “Barangsiapa yang beribadah (shalat) pada malam-malam Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah berlalu“. (HR Bukhari: 37, dan Muslim: 759).

 

Bahkan lebih dari itu, doa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam terbaik Ramadhan yaitu Lailatul-Qadr adalah doa agar diri kita mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Pembahasan selengkapnya bisa anda baca di Majalah Sedekah Plus Edisi 41 yang telah terbit.

📞 Info & Pemesanan Tlp/SMS/WA 085315900900

🌷 Begabunglah dengan para Muhsinin yang telah menjadi Donatur Rutin LAZIS Wahdah Se-Indonesia. Donasi Anda untuk Dakwah, Tahfizh, Yatim dan Dhuafa. Silahkan SMS/WA ke 085315900900 Ketik: DB/Nama/Alamat/Transfer atau Tunai/Jumlah Donasi

🎁 Insya Allah bagi para Donatur akan Majalah Sedekah Plus tiap bulan yang berisikan; Info Aneka Kegiatan LAZIS Wahdah, Laporan donasi, Artikel Islami, Konsultasi syariah, dll. Anda juga akan mendapatkan BC WA; layanan pesan-pesan nasehat setiap hari.

📻 Info Kegiatan & Program LAZIS Wahdah kunjungi
Web : www.laziswahdah.org
Facebook : https://goo.gl/a2Xkh0
Instagram : https://goo.gl/nBbvTv
Twitter : https://goo.gl/lkt51n
Telegram : https://goo.gl/53rp3E

💌 Silahkan dishare

Tinggalkan Balasan