MENCEMBURUI
Aku cemburu pada dia yang fasih beramal, tapi gagap berbicara tentang keshalihan dirinya.
Dokumentasinya hanya ada di catatan amal. Tidak ada di sosial media
Aku cemburu pada mereka yang rajin bersedekah. Infaknya dimana-mana, wakafnya apalagi. Tapi sekalipun tak kudapatkan dirinya menjadi jumawa. Bersombong ria, dihadapan manusia-manusia
Aku sangat cemburu, pada pribadi-pribadi salih, yang diawal pagi sudah berjalan teduh ke pusat-pusat masjid. Langkahnya tegak, berada di saf paling depan, pakaiannya rapih, dan begitu ikhlas dalam menjalani
Aku cemburu, pada mereka yang masih punya orangtua. Masih bisa berbakti, masih bisa mengasihi dan membanggakan keduanya. Setidaknya, surga Allah yang paling tengah itu masih ada, masih bisa disempatkan, sebagai peluang mendapatkan surga dimasa mendatang
Aku cemburu, pada mulut-mulut yang begitu masih menyenandung tilawah Al-Qur’an. Tak ada hari yang ia lewatkan tanpa bertadarrus, menghafalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an. Merak adalah keluarga Allah di dunia, manusia mulia, manusia yang telah dipilih
Semuanya
Aku cemburu kepada mereka
Jika dibandingkan dengan diri ini yang penuh nista dan dosa
“Tidak ada (sifat) iri (yang terpuji) kecuali pada dua orang: seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang al-Qur-an kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari, lalu salah seorang tetangganya mendengarkan (bacaan al-Qur-an)nya dan berkata: “Duhai kiranya aku diberi (pemahaman al-Qur-an) seperti yang diberikan kepada si Fulan…” (HR Bukhari)
@wahdahinspirasizakat | www.wiz.or.id | www.sedekahplus.com