Menghadiri dan Makan di Pernikahan Non-Muslim

Artikel ini adalah artikel Q&A terkait menghadiri dan makan di pernikahan non-muslim. Adapun pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya kita makan di acara pernikahan non muslim?

Andi Hendra Ahmad – sidrap

Jawaban:

Waalaikumussalam warahmatullah..

Sebelum menjawab, kita merinci terlebih dulu antara hukum menghadiri acara pernikahan non-muslim, dan hukum memakan hidangan mereka.

Untuk yang pertama mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak wajib menghadiri undangan non-muslim. Tapi pendapat yang terkuat adalah bolehnya menghadiri undangan mereka jika diniatkan untuk dakwah dan memperlembut hati mereka. Dengan syarat dalam acara tersebut tidak ada hal-hal yang diharamkan. Seperti pembacaan sesuatu tentang kekufuran mereka, nyayian dan musik, minuman keras, bercampur baur antara laki-laki dan wanita, dan tabarruj (berhias untuk diperhatikan).

Yang kedua, tentang hukum memakan hidangan mereka. Jawabannya adalah boleh jika makanan itu berupa sayuran, buah-buahan atau sesuatu yang tidak disembelih (hewan). Adapun jika makanan itu dari hewan yang disembelih, jika itu adalah makanan ahlu kitab, nasrani dan yahudi maka makanan mereka halal bagi kaum muslimin. Adapun selain ahlu kitab, maka makanan tersebut haram bagi kaum muslimin.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pernah menghadiri undangan makan seorang wanita Yahudi setelah perang Khaibar. Dan pada saat itu makanan yang dihidangkan berupa kambing.

“Bahwasanya seorang wanita Yahudi datang memberikan Rasulullah hidangan kambing yang telah diracun, lalu beliau makan darinya.” (HR. Muslim)

Pada kisah ini Nabi shallallahu alaihi wasallam diracun. Namun poinnya adalah Nabi memakan hidangan seorang wanita Yahudi untuk menjelaskan hukumnya bahwa itu boleh.

Dalam hadits yang lain disebutkan, bahwa seorang laki-laki yahudi mengundang Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk makan roti gandum, lalu Nabi memenuhi undangannya. (HR. Ahmad, Syeikh al-Arnauth: Shahih sesuai Syarat Imam Muslim)

Demikianlah artikel tentang menghadiri dan makan di pernikahan non-muslim. Anda juga dapat membaca artikel lainnya terkait konsultasi syariah.

Dijawab Oleh Muhammad Istiqamah, Lc.

(Alumni Fak. Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah dan Anggota Komisi Aqidah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah)

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening