Lanjutkan Kebaikan, Istiqomah Meskipun Ramadhan Telah Berlalu

Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan keutamaan telah berlalu. Ia akan menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala perbuatan dan penyambutan setiap hamba di hari-harinya. Tak ada yang tersisa dari bulan tersebut kecuali apa yang telah disimpan pada catatan amalan yang akan diperlihatkan pada hari akhirat kelak. Seyogyanya, kita banyak memohon dengan sungguh-sungguh kiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima amal kebaikan kita dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelumnya, kita juga berdoa agar Allah Ta’ala mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Mengapa kita patut berdoa? 

Hal ini agar kita tidak termasuk golongan yang celaka dan merugi. 

Siapa mereka? 

Mereka adalah orang-orang yang pernah disebut oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya, 

“Celakalah seorang hamba yang merasakan bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? 

Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan kebaikan tersebut? 

Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? 

Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu memudar setelah puasa berakhir? 

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang penting dan patut untuk kita renungkan bersama.

Janganlah ada anggapan bahwa Idul Fitri dan Syawal ini dijadikan sebagai kesudahan dari ibadah yang telah kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Tentu saja ini adalah sebuah kesalahan besar dan tidak sesuai dengan nilai tujuan ibadah Shiyam Ramadhan. 

Kebiasaan ibadah di bulan Ramdhan kita lanjutkan. Kebiasaan hidup kita yang sudah membaik di bulan Ramadhan masih membekas. Meski kita telah melewati hari kemenangan namun kemenangan sejati dari bulan Ramadhan adalah bagaimana kita bisa menjadi insan yang lebih baik setelahnya.

Belum terlambat. Belum berhenti untuk kita berhenti sejenak dan merenungkannya. 

Jangan sampai kita seperti pemintal benang yang mengurai kembali benangnya setelah dipintal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai-berai kembali” (QS. An-Nahl: 92). 

Perumpamaan ini menggambarkan kondisi sebagian kita yang begitu cepat kembali kepada perbuatan dosa dan maksiat secepat berlalunya Ramadhan. Padahal, selama sebulan penuh, mereka shalat, puasa, menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berdo’a, dan bersembunyi di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan itu semua, mereka telah mengumpulkan kebaikan-kebaikannya, hingga mampu meraih kelezatan dalam ibadah dan ketaatan. Akan tetapi, seketika mereka mengurai dan menghapus semua itu seiring dengan berlalunya Ramadhan.

Sikap seperti ini memunculkan kekhawatiran kita bahwa segala amalan di bulan suci tersebut, jangan sampai tidak membawa manfaat dan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, Wallahul-Musta’an. Meskipun tentu saja, semuanya adalah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala semata-mata untuk menilai dan menghitung amalan seorang hamba.

Mengapa mesti khawatir? Hal ini karena seorang hamba yang menerima amalannya, akan memiliki tanda. Apa tandanya? Imam Ibnu Rajab Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shalih setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf) bahwa ganjaran perbuatan baik adalah (taufik) dari Allah Ta’ala untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barang siapa yang melakukan amal kebaikan, lalu dia melakukan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barang siapa yang melakukan amal kebaikan, lalu dia melakukan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya kebaikan hati tersebut” (Lihat Kitab Latha-iful Ma’aarif, hal. 311). Dan ternyata, tanda ini, bertolak belakang dengan fenomena pemintal benang di atas.

Apalagi agama ini mencela mereka yang telah diberi taufik sehingga mampu menghidupkan sebuah amalan shalih kemudian meninggalkannya. Sebuah ibadah tidak harus dilakukan hanya sewaktu-waktu pada suatu waktu. Seperti ini bukanlah sikap yang baik. Bahkan para ulama sampai mengeluarkan statement yang agak keras kepada orang yang rajin beribadah hanya pada bulan Ramadhan saja, sedangkan pada bulan-bulan lainnya amalan tersebut ditinggalkan. 

Para ulama mengatakan, “Sejelek-jelek orang adalah yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang yang shalih adalah orang yang rajin beribadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun”. Ibadah tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun.

Begitu pula amalan suri tauladan kita, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam contohkan kepada kita. ‘Alqamah radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu anha mengenai amalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ”Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab, “Tidak, amalan beliau adalah amalan yang kontinyu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lakukan” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Semoga ibadah Ramadhan kita membawa peningkatan ketaqwaan, sehingga kita mampu meraih hidup bahagia dalam iman dan terlindungi dari godaan setan yang tak henti-hentinya menawarkan kesenangan yang menipu. Sebab, selama Ramadhan kita telah menjalani latihan pengendalian hawa nafsu dan penangkalan tipu daya setan. Semoga ibadah puasa kita tak hanya berujung pada lapar dan dahaga semata, namun berhenti dengan meraih derajat ketaqwaan disisi Allah Subhanahu Wata’ala, Aamiin. 

Taqabbalallahu minna waminkum.

Wallahu’alam.[FM/MH]

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening