Menuju Ramadhan, Siapkan Bekal di Bulan Sya’ban

Kira-kira apa yang akan kita lakukan jika dikabarkan kepada kita bahwa tidak lama lagi akan datang seorang tamu istimewa ke rumah kita? Bagaimana jika tamu itu adalah orang penting yang memiliki jadwal super padat tapi masih mau menyempatkan diri datang ke kota kita, bahkan ke rumah kita? 

Sudah pasti kita akan mempersiapkan diri dengan baik jauh sebelum tamu tersebut datang, baik itu membentuk panitia untuk penyambutan dan seluruh kegiatan, cateringnya diusahakan makanan yang enak, dan dekorasi harus dibuat secantik mungkin. Semua dilakukan agar tamu merasa senang dan agar ia memiliki kenangan yang indah ketika berpisah dengan kita.

Barangkali seperti itulah perumpamaan bagaimana para salaf kita mempersiapkan diri menyambut tamu istimewa, bulan suci Ramadhan. Mereka mempersiapkan diri jauh sebelum Ramadhan tiba. Para sahabat dahulu -radhiyallahu anhum- berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Artinya, enam bulan sebelum Ramadhan mereka telah bermunajat kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan mulia, tamu istimewa tersebut. Di bulan Rajab mereka terbiasa merutinkan doa, “Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya’ban wa ballighnaa Ramadhaan.” 

Kemudian ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka lebih mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Di bulan Sya’ban para salaf kita memperbanyak ibadah dan amal shalih, terkhusus ibadah puasa. Mereka meneladani Rasulullah yang memperbanyak ibadah puasa di bulan ini.

Hal tersebut disaksikan sendiri oleh istri beliau, Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan, kecuali Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan-bulan yang lain melainkan pada bulan Sya’ban.”

Namun ada keutamaan lain dari bulan Sya’ban, dimana ia menjadi salah satu sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak mengerjakan ibadah puasa. Keutamaan itu adalah bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan-amalan manusia kepada Allah Jalla wa ‘Alaa. Sebagaimana yang tercantum dalam hadits dari sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di suatu bulan seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bulan itu, banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

Perbanyak Amal Shalih

Bisa dikatakan bulan Sya’ban, oleh para salaf, dianggap sebagai bulan berbekal dan bulan pemanasan sebelum masuk ke bulan Ramadhan. Pemanasan sebelum masuk ke “pertandingan” sesungguhnya selama sebulan penuh. Mereka banyak beramal shalih di bulan Sya’ban, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak membaca Al-Quran dan berbagai macam ibadah lainnya. 

Mereka memperkuat raga dan ruh mereka agar nanti ketika masuk Ramadhan, mereka lebih bersemangat lagi dalam menjalankan ibadah. Barangkali disinilah letak perbedaan kaum muslimin pada hari ini dengan orang-orang shalih terdahulu. Mereka jauh lebih siap menjamu bulan suci Ramadhan. Adapun kebanyakan dari kaum muslimin pada hari ini, tidak memiliki persiapan ketika berjumpa bulan Ramadhan. 

Dalam kitab “Lathaiful Ma’arif” disebutkan: “Waktu setahun laksana sebuah pohon. Bulan Rajab adalah waktu untuk menumbuhkan daun. Sya’ban adalah waktu untuk menumbuhkan dahan, dan Ramadhan adalah bulan memanen. Pemanennya adalah orang-orang mukmin. Oleh karena itu, mereka yang menghitamkan catatan amal mereka hendaklah bergegas memutihkannya dengan taubat di bulan-bulan ini…”

Bersegera Taubat 

Termasuk juga yang harus dilakukan oleh kaum Muslimin di bulan Sya’ban adalah meninggalkan perbuatan dosa seperti ghibah, berdusta, adu domba, dan aneka jenis dosa lainnya. Dosa-dosa yang terus menerus dikerjakan akan mengakibatkan hati pelakunya akan menjadi hitam, dampaknya ia akan merasa berat untuk melaksanakan ibadah termasuk ibadah di bulan Ramadhan. 

Jika terus dibiarkan maka akan menjadi bahaya bagi orang tersebut. ia akan semakin jauh dari Allah. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk segera bertaubat. Seorang ulama mengatakan, “Sungguh apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditulis dalam hatinya sebuah titik hitam, kemudian jika melakukan dosa kembali maka akan ditulis hatinya sebuah titik hitam, sampai hatinya tersisa menjadi hitam selamanya, ia tidak akan mengetahui kebenaran , ia juga tidak ingkar pada kemungkaran.” 

Sebagaimana diketahui bahwa di bulan Ramadhan, yang berpuasa bukan saja perut kita dari makan dan minum akan tetapi semua anggota tubuh kita berpuasa dari hal-hal yang diharamkan Allah.

Rasulullah bersabda: “Puasa itu bagaikan perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa maka janganlah dia berkata kotor dan juga tidak berlaku kasar. Jika ada orang yang dicaci maki, maka hendaklah ia mengatakan ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa…’” Sabda beliau yang lain, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

Mereka orang-orang yang berpuasa, tidak makan dan tidak minum dari waktu subuh sampai matahari terbenam akan tetapi mereka tidak mendapatkan pahala berpuasa yang sempurna. Sebab mereka tidak menjaga lisan mereka dari berdusta, menggunjing, adu domba, memaki, mencela orang lain, memfitnah, berkata jorok, dan lainnya.

Dosa-dosa seperti ini, bisa saja diminimalisir bahkan ditinggakan jika seseorang telah mempersiapkan diri di bulan Sya’ban. Dan bulan Sya’ban menjadi momen yang tepat untuk bertaubat kepada Allah. Orang-orang shalih sebelum kita senantiasa memperbaharui taubat mereka kepada Allah. Mereka senantiasa beristighfar memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang mereka lakukan. 

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Wallahu a’lam

Oleh: Mahardy Purnama

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening