Muda Foya-foya, Mati Masuk Surga?

Oleh : Azwar Iskandar

LAZISWahdah.com – Masa muda, kata sebagian orang adalah masa untuk bersenang-senang, hidup foya-foya. “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga”, kata sebagaian lainnya.  Wallahul-musta’an.

Namun sayangnya, ini hanyalah bualan semata. Bagaimana mungkin, foya-foya di waktu muda, tanpa amalan shalih, lalu mati bisa masuk surga? Mustahil. Ingat, surga adalah “barang dagangan” Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak murah kawan! Ia hanya dapat diraih dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebab utama beramal shalih dan bertaqwa kepada-Nya. Tidak dengan foya-foya, lalai membuang waktu. Apalagi hidup dengan gelimang maksiat dan durhaka kepada-Nya, oh tidak.

Wahai Pemuda, Hidup di Dunia Hanyalah Sementara!
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu masih berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memegang pundaknya lalu bersabda, “Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara” (HR. Bukhari). Sungguh, nasehat yang agung dari Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada sahabat yang masih belia. Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia, sedangkan negeri tujuan dan kampung sesungguhnya adalah akhirat (surga). Hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga tidak berpanjang angan-angan, terus mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal shalih.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita, “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari).

Manfaatkan Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tua
Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menilai shahih hadits ini).

Al-Munawi rahimahullah mengatakan, “Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah betul-betul diketahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang” (Lihat At-Taisir Bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shagir, 1/356).

Ya, betul kawan! Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.

Pemuda Shalih, Naungan Baginya di Hari Kiamat
Para pemuda/pemudi muslim, kebanggaan agama. Ingat kawan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan tujuh golongan yang mendapatkan naungan ‘Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari Kiamat kelak, di mana tidak ada naungan di hari itu kecuali naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Salah satu dari tujuh golongan yang beliau sebutkan adalah “pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali hafizhahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan keutamaan pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabb-nya, dimana dia tidak mau mendekati kemaksiatan dan tidak juga mengerjakan perbuatan keji” (Lihat Bahjatun Nazhirin, penjelasan hadits no. 376).

Taqwa di Masa Muda, Bermanfaat di Masa Tua
Taqwa di masa muda adalah kekuatan untuk taat di masa tua nanti. Dalam buku Fiqh Madzhab Syafi’i, Matan Abi Syuja’ diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al-Qadhi Abu Syuja’. Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qadhi (hakim) pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidak punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya (meskipun ini juga penting tentunya). Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan.

Diceritakan juga bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” Wallahul-musta’an.

*****

Oleh karena itu,  usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal, kawan! Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya! Janganlah disia-siakan! Jika engkau masih berada di usia muda, beramallah sekarang! Jangan ditunda lagi!

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah ini. Semoga Allah senantiasa  memberi taufik dan hidayah-Nya kepada kami dan mereka ke jalan yang lurus.

Wallahu A’lam.[]

Sumber : MAJALAH SEDEKAH PLUS

Tinggalkan Balasan