PAKSA DEMI KEBAIKAN
“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri (agar terbiasa melakukan kebaikan). (Abdullah bin Mubarak Rahimahullah)
.
Siapapun pasti ingin sukses, kebiasaan baik adalah kuncinya. Ibnu Athaillah Rahimahullah berkata, “Bagaimana mungkin engkau mendapat hal luar biasa, sementara engkau belum mengubah kebiasaan burukmu?”
.
.
Dalam hal menuntut ilmu apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Al-Abhari Al-Muhaddits layak diteladani. Ia berkata, “Aku membaca mukhtashar Ibnu Abdul Hakam 500 kali, Kitab Al-Asadiyah 75 kali, Al-Muwatha’ 45 kali, dan Mukhtasar Al-Barqi 70 kali, serta Al-Mabsuth 30 kali.” Sementara itu, khusus di Bulan Ramadhan, Imam Syafi’i tidak pernah lepas dari 60 kali menghatamkan al-Qur’an
Lebih jauh dari masa tabi’in adalah masa sahabat Rasulullah ﷺ. Para sahabat Nabi itu memiliki kebiasaan yang sangat sederhana tetapi sangat mengagumkan. Kala mempelajari al-Qur’an, para sahabat Nabi ini tidak serta merta membaca dan mengkaji semua ayat
Tetapi mereka mempelajari al-Qur’an sepuluh ayat demi sepuluh ayat. Setelah memahami dan mengamalkannya, barulah mereka menambah pelajaran al-Qur’annya
.
Sudah pahamkan? Mengapa mereka dikatakan generasi terbaik? Salah satunya adalah karena mereka berani bertaruh waktu untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. Mereka paksakan kebaikan itu, meski awalnya memang sulit.
@wahdahinspirasizakat www.wiz.or.id www.sedekahplus.com