wiz.or.id – Ramai media sosial membicarakan tentang kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menimpa salah seorang artis berinisal LK. Beragam argumen mengisi kolom komentar di jagat maya, bak sedang menyaksikan sinetron berseri, para netizen pun tampak antusias menuliskan kekesalannya pada sosok yang mereka kagumi itu.
Ada yang menulis ‘Dari dulu kan gue sudah bilang, ngapain pada mau dijodoh-jodohkan ama si netizen” “Suami tinggal di rumah, istrinya yang kerja, asik banget kan hidup si doi”. “Emang dari dulu gw rasa si RB ini ga begitu cinta ama istrinya,” dan sejumlah perkataan serupa lainnya.
Pembaca yang budiman, KDRT itu muncul diantaranya disebabkan ego laki-laki yang sewenang-wenang, seolah mendapat legitimasi kuat sebagai penguasa, pemimpin bagi kaum wanita. Para oknumnya merasa dirinya adalah si paling tinggi kekuasaannya dalam rumah tangga, dan merasa berhak untuk melakukan aksi polisionil terhadap pasangannya.
Meski kenyataannya memang tak semua laki-laki seperti ini, ada banyak pria yang memuliakan wanita karena keshalihan pribadinya, namun dalam tulisan ini, secara khusus akan menyoroti oknum laki-laki yang punya kecenderungan negatif ini.
Adanya pemahaman ekstrim seperti ini, membuat oknum tersebut merasa segala kebijakannya tidak boleh diprotes, dibantah, atau diklarifikasi. Lalu saat pasangannya berbuat kesalahan, meskipun itu tidaklah terlalu begitu besar—maka dengan kekerasan itulah yang dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk memberikan sedikit “pelajaran” berharga bagi pasangannya.
Banyak wanita di luar sana yang pada akhirnya tidak berdaya, dan merasa harus melebihkan kesabarannya dalam sebuah pengertian: menerima segala perlakuan tidak adil suami, sebagai bentuk ketaatan. Apalagi jika wanita tersebut, hanya memiliki latar pendidikan yang tidak seberuntung suaminya, atau dalam artian, pekerjaannya hanya sebatas mengurusi rumah tangga, dan tidak punya pemasukan lainnya, kecuali murni dari suami.
Maka di sinilah kadang letak peluang bagi suami yang otoriter untuk memperdaya sang istri. Apalagi jika mereka telah dikaruniai anak, mau bercerai, istri pasti akan berpikir dua kali. Apalagi jika perempuan itu masih sangat percaya suaminya bisa berubah menjadi penyayang. Maka seribu nasihat tidak akan mempan, bahkan korban akan membela pelaku KDRT. Lalu apa yang harus dilakukan?
Kenali Watak Calon Suami
Sebelum menikah, kenalilah terlebih dahulu calon suami, atau calon istri. Karena kadang KDRT bukan hanya dari sisi laki-laki, wanita pun sama.
Lihatlah Cara Dia Memperlakukan Orang Tuanya
Apabila orangtuanya masih hidup, maka coba tanyakan pada orang terdekatnya, bisa tetangga, sepupu, atau siapa saja, bagaimana cara dia memperlakukan kedua orangtuanya. Hal ini pun juga berlaku, pada bagaimana dia memperlakukan orang yang lebih tua darinya. Pun dengan yang lebih muda. Karena sifat dan watak dari seseorang itu akan terlihat saat mereka memuliakan sesama. Tak pandang usia, tak pandang siapa dia.
Ingat, Bahwa Menikah adalah Ajang Mencarikan Sosok Ayah Bagi Calon Anak
Tanyakan pada dirimu sendiri apakah dirimu ridha jika kelak anak lelakimu berlaku seperti calon suamimu itu. Untuk para perempuan: pantaskan dirimu, pertama jadilah perempuan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai bidangnya. Kedua, jadilah perempuan berakhlakul karimah sesuai dengan adab yang berlaku. Ketiga, jadilah perempuan yang mandiri secara ekonomi.
Semoga dengan demikian akan terhindar dari KDRT dan jika tidak mampu menghindarinya. Jika memiliki ketiga perkara tersebut, maka perempuan akan bisa memberi keputusan terbaik bagi masa depannya.
Pembaca yang budiman, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
…Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka…” (Terjemahan QS Al-Baqarah: 187).
Jadikan pasangan kita sebagai sahabat yang saling menjaga. Saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Mencintai karena Allah, untuk kebaikan hidup di dunia dan di akhirat, allahumma aamiin. []
Editor: Faisal
Oleh: Zulkifli Tri Darmawan, S.Si., M.Si.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi