Ilustrasi perbandingan kehidupan dunia dan akhirat

Berapakah perbandingan kehidupan dunia dan akhirat? 1 Hari: 1000 Tahun atau 1: 50.000 Tahun?.

Allah Azza wa jalla banyak menyebutkan angka-angka di dalam Al-Qur’an. Angka itu biasanya disebutkan untuk menentukan jumlah suatu zat, kadang juga disebutkan dalam bentuk penjumlahan dan pengurangan atau perkalian dan perbandingan terhadap sesuatu.

Dari satu sisi, ayat-ayat yang menyebutkan angka itu memberi isyarat agar kaum muslimin mempelajari ilmu matematika. Karena mereka tidak akan mampu mengetahui hasil penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian bilangan-bilangan itu, kecuali dengan mempelajari ilmu tersebut.

Di sisi lain, ayat-ayat itu juga memberi pesan kepada siapapun yang hendak mempelajari Al-Qur’an, agar fokus dalam mengamati angka-angka itu. Sebab, kadang Allah Jalla wa’ala menyebutkan dua masalah atau kejadian berbeda yang memiliki kemiripan hingga nampak seperti satu masalah, dengan menyebutkan angka yang berbeda pula. Jika tidak dicermati dengan baik, maka Al-Qur’an akan dianggap memiliki kontradiksi di dalamnya.

Salah satu contoh dalam masalah ini adalah perbandingan hari pada hari kiamat dengan hari pada kehidupan dunia. Sebagian orang menganggapnya sebagai ayat-ayat yang kontradiksi, karena disebutkan dengan angka yang berbeda.

Allah Azza wajalla berfirman:

وَيَسۡتَعۡجِلُونَكَ بِٱلۡعَذَابِ وَلَن يُخۡلِفَ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥۚ وَإِنَّ يَوۡمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلۡفِ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ٤٧ 

“Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. Al-Hajj: 47)

Allah Azza wa jalla juga berfirman:

يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ٥ 

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. As-Sajadah: 5)

Allah Azza wajalla juga berfirman:

تَعۡرُجُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٖ ٤ 

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”. (QS. Al-Ma’arij: 5)

Jika diamati dengan baik, ketiga ayat tersebut hakikatnya tidak menunjukkan adanya kontradiksi sedikitpun. Sebab masing-masing ayat menyebutkan peristiwa yang berbeda.

Firman Allah Azza wa jalla dalam surah al-Hajj ayat 47 (yang artinya): “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”, menunjukkan bahwa silih bergantinya waktu di dunia selama seribu tahun hanya terhitung sehari bagi Allah.

Ayat ini tidak menjelaskan perbandingan kehidupan dunia dan akhirat. Ia hanya menjelaskan adanya perbedaan perhitungan waktu manusia dengan perhitungan Allah, dimana seribu tahun bagi manusia hanya terhitung sehari bagi Allah.

Hal ini ditunjukkan oleh ayat ini sendiri, dimana Allah mengabarkan bahwa Dia tidak akan menyelisihi janji-Nya berupa pemberian azab terhadap orang-orang kafir. Adapun permintaan mereka untuk disegerakan azabnya, maka ia harus melalui sunnatullah yang telah Allah tetapkan, yaitu melewati kehidupan dunia, dengan perbandingan 1 hari berbanding 1000 tahun, 1 hari bagi Allah sama dengan seribu tahun bagi manusia.

Firman Allah Azza wajalla dalam surah as-Sajadah ayat 5 (yang artinya): “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”, juga tidak menjelaskan tentang perbandingan waktu kehidupan dunia dan akhirat.

Ayat ini menjelaskan hikmah adanya perbedaan perhitungan waktu manusia dengan perhitungan Allah, yaitu adanya pengaturan Allah dari langit ke bumi, lalu diangkat kembali untuk dilaporkan pencatatannya oleh malaikat kepada Allah, dengan jarak sehari perjalanan menurut perhitungan Allah dan seribu tahun perjalanan menurut perhitungan manusia.

Firman Allah Azza wajalla pada surah al-Ma’arij ayat 4 (yang artinya): “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”, inilah ayat yang menunjukkan perbandingan waktu dunia dan akhirat yang sebenarnya, yaitu sehari berbanding 50.000 tahun. Itupun hanya berlaku untuk orang-orang kafir dan tidak untuk orang-orang yang beriman.

Hal ini ditunjukkan oleh konteks ayat pada permulaan surah al-Ma’arij, dimana Allah Azza wajalla mengabarkan adanya seorang hamba yang bertanya perihal azab yang pasti menimpa orang-orang kafir. Maka Allah mengabarkan bahwa azab itu tidak ada yang mampu menolaknya. Allah memiliki tempat yang bertingkat-tingkat, dimana para Malaikat naik menghadap kepada Allah dalam sehari setara dengan 50.000 tahun perjalanan.

Atsar yang sahih dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma memperkuat hal ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilnya dalam tafsirnya dari Ikrimah dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah (yang artinya), “Dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”, maksudnya adalah hari kiamat. (Tafsir Ibnu Katsir: 4/3620)

Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad Mukhtar asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Sepantasnya diperhatikan bahwa hari pada masing-masing ayat berbeda-beda. Surah al-Ma’arij menunjukkan hari naiknya ruh dan malaikat kepada Allah, sedangkan surah as-Sajadah menunjukkan hari naiknya (pelaporan) perkara kepada Allah”. (Adhwaul Bayan67: 8/20)

Ringkasnya, seluruh hari yang disebutkan pada masing-masing ayat menunjukkan hari yang berbeda-beda. Mengenai perbandingan hari kehidupan dunia dan kehidupan akhirat yang berbanding 1 berbanding 50.000 tahun, hanya berlaku bagi orang-orang kafir dan tidak berlaku pada orang-orang beriman, berdasarkan firman Allah:

“Maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit, bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah”. (QS. Al-Mudatstsir: 9-10)

Mafhum mukhalafah ayat ini menunjukkan bahwa kemudahan itu diberikan kepada orang-orang beriman. Wallahu a’lam.

Demikianlah artikel tentang perbandingan kehidupan dunia dan akhirat. Anda juga dapat membaca artikel lainnya terkait Al-Qur’an.

Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi