rahasiaku rahasiamu

Oleh: Maryam Ilda

 Sekumpulan ibu-ibu tengah berbagi tentang kehidupan rumah tangga masing-masing. Awalnya dengan pembicaraan umum seputar perkembangan anak. Tapi karena keasyikan dan mungkin merasa ‘kurang kerjaan’ cerita pun menjurus pada hal yang lebih khusus rasanya; bertemakan suami (atau sebaliknya bagi pembicaraan suami).

Yah, tak jarang fenomena tersebut seakan nyaris melekat dalam keseharian di kehidupan ini. Menceritakan yang berhubungan dengan suami mulai kebiasaannya, kelebihannya, kekurangannya, seolah tak malu mengumbarnya pada sebuah ‘majelis terbuka’ yang boleh saja setiap kuping hinggap menangkap isi pembicaraannya. Apalagi perihal yang sifatnya sangat sensitif, yang sepantasnya tidak diobral bebas.

Tentu niat atau apa yang menjadi tujuan pembicaraan hendaknya diperhatikan sejak awal. Sebab kita tak ingin orang lain seperti mengenali jelas sosok pasangan kita.

Awas, Terendus Keluar

Adalah manusiawi jika kekhilafan pasangan itu terjadi. Sebab memang, memutuskan untuk berkomitmen membina rumah tangga, barulah sebenarnya rasa cinta akan diuji. Justru perjuangan cinta sejati bukan bagaimana kita menemukan seseorang yang sempurna, melainkan bagaimana bertahan dalam hubungan dengan segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita masing-masing. Maka salah satu unsur yang dapat menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga ialah pasutri saling menjaga rahasia masing-masing.

Berbesar jiwa dan berlapang hati untuk mengakui kesalahan merupakan tindakan utama bila masalah intern terjadi. Iya, harus berani memulai! Sebab ruh keluarga adalah menjaga komunikasi. Juga tidak perlu membesar-besarkan kesalahan pasangan. Karena sudah pasti tidak mungkin ada pasangan yang tidak memiliki kekurangan atau kesalahan.

Pun jika sekiranya masalah rumah tangga kian mendera, tidak mengapa melebarkan bingkainya seminimal mungkin, dengan menyampaikan persoalan itu kepada orang yang terpercaya dalam menjaga rahasia, menjaga kehormatan, dan pastinya orang yang bertaqwa.

“Siapa yang melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan yang sangat dari kesusahan dunia niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan di hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan nanti di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya….” (HR. Muslim).

Sebagai Contoh

Kita sepakat bahwa rumah tangga paling sempurna di dunia ini ialah rumah tangga manusia terbaik, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meski tanpa dihiasi harta. Artinya, kebahagiaannya bersifat hakiki, bukan karena motivasi dunia. Oleh karena itu, suami istri hendaknya fastabiqul khairat dalam memperbaiki akhlak, misal berlomba untuk berkata jujur atau terus terang, peka terhadap pasangan, saling mengingatkan untuk menjaga ibadah mahdhah, sehingga tercipta nuansa cinta penuh kebahagiaan. Insya Allah!

Bersabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (artinya), “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi).

Mari mengutamakan prinsip silihwangi; saling menjaga dan mengharumkan pasangan sebagai panduan ideal dalam sebuah rumah tangga. Dengan cara tersebut, tidak ada ruang egoisme plus buruk sangka yang merupakan akar keburukan. Sebaliknya terwujud budaya saling jaga dan saling bela antara suami istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat saat ijab qabul kian terpatri rapat di hati seiring perjalanan waktu, hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.

Sumber: Majalah SEDEKAH PLUS edisi 4 Tahun 1436 H

Tinggalkan Balasan