Rasul pun Bercanda dan Senda Gurau, Tapi…

Pahami betapa pentingnya tawa dalam hidup, tapi juga waspadai bahayanya. Rasulullah pun bercanda, namun dalam batas-batas yang benar. Simak lebih lanjut!

Menjelang perpisahannya dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam, Nabi Khidir ‘Alaihissalam memberi nasihat, “Hai Musa, janganlah terlalu banyak bicara, dan jangan pergi tanpa perlu, dan jangan banyak tertawa, juga jangan menertawakan orang yang berbuat salah, serta tangisilah dosa-dosa yang telah kamu perbuat, wahai putra Ali ‘Imran.” (Tanbighul Ghafilin: 192-193).

Tertawa, tentu saja, bukanlah sesuatu yang dilarang. Siapa saja boleh tertawa selagi ingin. Dengan tertawa menunjukkan, bahwa seseorang sedang dalam keadaan senang, bahagia.

Bahkan tertawa bisa menjadi ilham bagi seorang penulis untuk membuat sebuah buku. Akan tetapi, tertawa dalam pengertian mengeluarkan suara gelak tawa, terbahak atau istilahnya sampai ngakak apalagi jika mengandung unsur menghina seseorang, ini akan lain ceritanya.

Tidak didapati panduan di luar Islam yang cukup lengkap mengatur tata hidup, hingga masalah tertawa sekalipun. Mari sejenak membahasnya!

Rasul pun bercanda dan senda gurau

Hidup terasa hambar dan datar tanpa humor dan canda bagaikan masakan tanpa garam. Namun hanya dalam kadar kuantitas, kualitas dan penyajian tertentu akan menjadi penyedap kehidupan. 

Memang bercanda kadang diperlukan untuk memecahkan kebekuan suasana sebagaimana yang dikatakan Said bin Al-’Ash kepada anaknya. “Kurang bercanda dapat membuat orang yang ramah berpaling darimu. Sahabat-sahabat pun akan menjauhimu.” Namun canda juga bisa berdampak negatif, yaitu apabila canda dilakukan melampaui batas dan keluar dari ketentuan Allah dan RasulNya. Canda yang berlebihan juga dapat mematikan hati, mengurangi wibawa, dan dapat menimbulkan rasa dengki.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, Artinya: “Dan sesungguhnya Dia-lah yang membuat orang tertawa dan menangis” (QS An-Najm: 43).

Menurut Ibnu ‘Abbas, berdasarkan ayat ini, canda dengan sesuatu yang baik adalah mubah (boleh).

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya saya (Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) suka bersenda gurau dan saya tidak akan mengatakan kecuali yang benar-benar.” (al Hadits)

Seperti kisah Rasullullah bersama seorang nenek yang menanyakan apakah si dia (nenek) akan masuk surga.

Imam Tirmidzi dalam Asy Syamail Muhammadiyah pada Bab “Sifat Candaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Dari Al Hasan, ada seorang sepuh datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Seorang nenek tua pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, berdo’alah pada Allah agar Dia memasukkanku dalam surga.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua.”

Nenek tua itu pun pergi sambil menangis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Kabarilah dia bahwa surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37). (Hadits Tirmidzi dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 2987)

Artinya, memang yang masuk surga tidak ada yang tua. Karena semua ketika itu kembali muda.

Pada hadits tersebut dan hadits-hadits yang lain, banyak menceritakan bagaimana Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda, dan sesungguhnya bercanda yang benar saja yang diperbolehkan. Beberapa dai banyak yang menggunakan bahan candaan atau yang biasa disebut sebagai banyolan-banyolan dalam penyampaian dakwahnya, terkadang sudah keterlaluan. Padahal Islam adalah agama yang serius, bukan untuk dijadikan bahan tertawaan. 

Masyarakat yang mendengar dai-dai ini melucu layaknya Stand Up Comedian, hanya akan mendapatkan ketawanya saja, sedangkan ilmunya hilang terbawa gelak tawanya. Dan sesungguhnya Allah dan juga rasul-Nya tidak menyukai pada sesuatu yang berlebihan, termasuk tertawa. 

Di dalam riwayat hadits lainnya dijelaskan bahwa Rasullulllah tak pernah terlihat langit-langit tenggorokannya bila beliau sedang ketawa, hanya senyumanlah yang selalu menghiasi pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak pernah tertawa, kecuali hanya tersenyum, dan beliau tidak menoleh kecuali dengan wajah penuh (maksudnya: tidak melirik). (Al Hadits)

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa, ….” (HR. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu) .

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Barangsiapa tertawa disaat berbuat maksiat, maka akan bercucuran tangis di neraka.” Tertawa yang berlebihan, termasuk di antara tiga perkara yang menyebabkan hati seorang menjadi bebal dan membatu. Sedang dua penyebab yang lainnya yaitu: belum lapar sudah makan lagi dan gemar omong kosong (bicara ke sana kemari yang tak berguna). Terkadang kita mendapati seseorang yang kesibukannya membuat orang tertawa-tawa, sehingga bukan semata menjadi hiburan hati, tapi sudah mengarah pada membuat orang menjadi lengah dan lupa.

Kepada yang berbuat seperti ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan: “Celakalah orang yang berdusta supaya ditertawakan orang lain. Celakalah dia, celakalah dia!” (HR. Tirmidzi)

Secara sadar atau tidak banyak juga kita jumpai perkataan yang menjurus kepada mencaci, menghina, merendahkan, mengejek dan mempermainkan nama Allah, sifat-sifat-Nya, rasul-rasulNya, kitab-kitab-Nya, ayat-ayat-Nya dan hukum-hukumNya serta hukum-hukum yang diterangkan oleh rasulNya. Dan juga perkataan yang menolak, menafikan dan mengingkari segala perkara dari ‘alim ulama’ dimana semua orang tahu bahwa perkara itu dari agama.

Misalnya seperti perkataan mengenai  hukum Islam:

“Berzina jikalau suka sama suka apalah haramnya?”

“Minum arak kalau dengan tujuan hendak menyehatkan badan untuk beribadat apalah salahnya?”

“Berjudi kalau masing-masing sudah rela menerima untung ruginya apa salahnya?”

“Ini perbuatan tidak beradab’ – sebagai reaksi ketika diceritakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasalam setelah makan: menjilat sisa makanan di jarinya.”

Untuk itu Imam Al Bashri mengemukakan bahwa lidah orang berakal itu terletak di belakang akalnya. Jika ia hendak berkata, dipikirkannya lebih dahulu. Kalau perkataan itu kira-kira bakal bermanfaat baginya, ia akan mengucapkannya,. Kalau dirasakannya akan membahayakan dirinya, ia memilih diam.

Sedangkan hati orang dungu terletak di belakang lidahnya. Jika ia mau berkata, langsung saja diucapkannya. “Apalagi mengatakan yang tidak pernah dikerjakan, dan membungkus keburukan hati dan keculasan perangai dengan ucapan indah yang berbunga-bunga. Barangkali manusia dapat dikelabui, tetapi apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat ditipu?.[]

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening