Pada zaman modern yang dipenuhi dengan tuntutan akan spesialisasi, kisah Thalut dalam Al-Qur’an menjadi inspirasi bagi pemilihan pemimpin berdasarkan kualifikasi dan keahlian. Kisah ini tidak hanya menyoroti pentingnya kepemimpinan yang berbasis pada pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mengingatkan kita akan nilai-nilai yang relevan dalam konteks zaman sekarang. Dalam tulisan ini, kita akan menjelajahi makna dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Thalut dalam perspektif kontemporer.
وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكٗاۚ قَالُوٓاْ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةٗ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةٗ فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٤٧
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah 247)
***
Islam adalah agama yang sesuai dengan realita. Ayat-ayat al-Qur’an yang datang sejak 1439 tahun yang lalu sebagai pedoman hidup manusia, senantiasa selaras dengan realita kehidupan manusia pada setiap zamannya sebagai aturan kehidupan itu.
Islam sangat menganjurkan spesialisasi dalam bekerja. Islam tidak membenarkan seseorang bekerja pada satu bidang, kecuali dia adalah seorang yang memikili spesialisasi dalam bidang itu. Hal ini bisa dilihat dari firman Allah Azza wa Jalla:
وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكٗاۚ قَالُوٓاْ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةٗ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةٗ فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ٢٤٧
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (Terjemahan QS. Al-Baqarah 247)
Ayat ini menjelaskan bahwa pada saat itu kaum Bani Israil meminta pada Nabi mereka agar diangkatkan seorang raja yang dapat menjadi pemimpin mereka. Allah kemudian mengangkat Thalut sebagai pemimpin mereka, yang merupakan seorang laki-laki berilmu luas lagi dikarunia tubuh kuat dan perkasa.
Dari ayat ini dipahami bahwa hendaklah seorang yang diangkat menjadi pemimpin suatu kaum adalah seorang ahli, yang memiliki spesialisasi dalam bidang pemerintahan. Allah menjadikan Thalut sebagai pemimpin Bani Israil saat itu, sebab mereka hidup pada zaman perang, sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang handal, mampu membuat siasat perang dengan kecerdasannya dan kuat lagi berani dalam pemerintahannya.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dari sini dapat kita pahami bahwa hendaklah seorang yang menjadi raja adalah seorang yang memiliki ilmu, memiliki postur tubuh yang baik, sehat pada jiwa dan badannya, kuat lagi pemberani”. ( Tafsir Ibnu Katsir: 1/275)
Syaikh Prof. Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar mengatakan: “Tidak boleh bagi manusia mengangkat pemimpin kecuali seorang yang memiliki keistimewaan dalam kekuatan, yang dapat beramal dan memberi pengaruh pada reaksi mereka”. (Liyaddabbaru Ayatih: 107)
Orang-orang yang jahil tidak akan memahami hal ini. Karena kejahilan mereka, kekayaan dan banyaknya harta menjadi tolok ukur kepemimpinan dalam benak mereka, namun mereka tidak menyadari kalau sifat ini adalah diantara sifat-sifat orang-orang Yahudi. Sebagaimana Allah menjelaskan sifat mereka (yang artinya): “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Oleh karenanya, menjadikan tolok ukur kepemimpinan dari kekayaan, bukan dari sisi keahlian dan kemampuannya, akan menjadi pintu malapetaka dan awal kehancuran bagi suatu kaum. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Apabila amanah telah dilalaikan, maka tunggulah kiamat terjadi. Para sahabat bertanya, “Bagaimana amanah itu dilalaikan?” Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila suatu perkara diserahkan pada selain ahlinya, maka tunggulah kiamat”.” ( HR. Bukhari)
Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim tidak mengikuti sifat-sifat buruk Bani Israil, dimana mereka menncari pemipin hanya karena berdasarkan banyaknya harta, kekayaan, tingginya pangkat atau karena baiknya nasab atau keturunan.
Imam Ibnu ‘Asyur rahimahullah berkata:
وموضع العبرة هو التحذير من الوقوع في مثل حالهم
“Pada ayat ini ada ibrah (pelajaran) yaitu peringatan agar tidak terjatuh seperti keadaan kaum Bani Israil”. (Tafsir Ibnu Asyur: 2/484)
Ayat di atas juga memberi isyarat kepada setiap orang yang hendak mencari pemimpin, yaitu hendaklah mereka tidak menjual suara-suara mereka pada orang-orang yang mewarisi sifat-sifat Yahudi yang amat tamak ingin menjadi seorang pemimpin. Sebab ketika mereka menjual suara mereka untuk mengangkat pemimpin yang tidak memiliki spesialisasi dalam pemerintahan, maka akan melahirkan pemimpin buruk yang dapat membuka pintu-pintu kebinasaan untuk diri mereka sendiri, disebabkan kejahilan pemimpin mereka.
Ayat di atas hakikatnya dapat menjadi bantahan terhadap orang-orang Syiah yang gemar menyebar syubhat. Salah satu syubhat mereka yaitu bahwa Mu’awiyah mengangkat anaknya Yazid bin Mua’wiayah sebagai pemimpin setelahnya karena hawa nafsunya, sehingga dia meninggalkan orang-orang yang lebih mulia dari anaknya seperti Ibnu Umar dan sahabat lainnya demi memuaskan perasaannya.
Padahal, sebagaimana perkataan para ulama, tidaklah Mu’awiyah mengangkat Yazid sebagai pemimpin saat itu melainkan dia mengetahui bahwa Yazid lebih pantas untuk menjadi pemimpin saat itu. Sebab mereka hidup di zaman perang, sedangkan Yazid telah tumbuh dalam asuhan ayahnya untuk menjadi seorang prajurit perang yang menguasai siasat dan teknik berperang. Adapun yang lainnya, mereka tidak memiliki kelebihan itu. Demikian ungkapan Syaikh Dr. Ahmad Muhammad Mursi al-Tukhi dalam satu daurahnya.
Wallahu a’lam bishshawab. []
Baca juga: Persiapkan Pemimpin Sejak Waktu, Ini Kurikulum Nabi
Oleh: Muhammad Ode Wahyu, SH.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi