Fenomena penyimpangan seksual yang saat ini dikenal dengan LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) bukan lagi hal baru. Hal semacam ini sudah menjadi kecanduan pada kaum Nabi Luth’alaihi salam yang menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala murka kepada mereka. Dan kabar ini disampaikan oleh Allah dalam kitab suci al-Qur’an untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia. Bukan untuk diikuti, tetapi untuk dihindari.
Namun ada saja pewaris-pewaris dari kemaksiatan ini dari zaman ke zaman. Dan pada zaman yang semakin modern ini, kemaksiatan ini malahan dipromosikan dalam bentuk polesan yang secantik mungkin. Dan para promotornya tidak tanggung-tanggung mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan dana, demi memproklamirkannya sebagai sesuatu yang baik, dan tidak menyimpang dari kesusilaan maupun agama.
Tidak terlepas keluarga kita menjadi sasaran promosi mereka. Mulai dari suami, istri, terlebih anak-anak kita. Maka sudah seharusnya kita membentengi keluarga kita dari propaganda mereka. Lalu apa yang harus dilakukan?
Yang pertama adalah membangun keharmonisan dalam keluarga -Ini tentu setelah kita memilih pasangan suami atau istri yang baik agama dan akhlaknya. Karena ini merupakan anjuran Rasulullah -Suami tidak boleh merasa aman dengan istrinya.
Betapa banyak suami yang abai memberikan perhatian terhadap istri, sehingga istri lebih senang mencari perhatian dan kesenangan bersama orang lain. Dan siapa pernah menyangka bahwa ini bisa menjadi awal terjadinya kemaksiatan. Sebaliknya, istri harus menjalankan fungsinya sebagai tempat suami mencurahkan segala kasih dan cintanya. Menyepelekan fungsi ini juga akan memberi peluang bagi suami untuk mencari tempat curahan lain.
Jika hal di atas telah dilakukan, berarti benteng pertama telah kita bangun. Maka selanjutnya adalah membentengi anak-anak kita. Ini perlu perhatian khusus lagi. Dan bukan hanya menjadi tugas ibu, tapi kedua orang tua bertanggung jawab dalam hal ini.
Tugas ayah sebagai pemimpin harus membuat aturan yang baik dalam keluarga. Dan ibu harus membantu mengatur jalannya peraturan tersebut. Aturan itu tentu mempertimbangkan maslahat dengan pertimbangan syariat.
Selain membuat aturan, orangtua juga memberikan perhatian dan kasih sayang terhadap anak-anak. Perlu dicatat bahwa kebutuhan anak terhadap perhatian dan kasih sayang orangtua jauh lebih besar daripada kebutuhannya terhadap harta. Ini sangat penting karena banyak orangtua yang menyangka bahwa kebahagiaan anak terletak pada fasilitas. Dan hanya sedikit yang menyadari bahwa justru fasilitas yang banyak itulah yang kadang menjerumuskan anak ke dalam hal negatif.
Selanjutnya, jauhkan keluarga dari berbagai media yang akan membawanya pada pengaruh yang buruk. Baik itu media cetak berupa majalah, novel, cerpen, komik dan lain sebagainya, maupun media elektronik berupa televisi, playgames, dan gadget, yang bisa menjadi media anggota keluarga membaca, melihat dan menonton adegan-adegan yang tidak dibolehkan dalam syariat Islam, yang akhirnya akan menjerumuskan pada pengaruh buruknya. Perbanyak bacaan dan tontonan, dan mainan yang positif, mengandung nilai edukasi dan nasihat yang akan mengingatkan kepada Allah.
Hendaknya kita memperhatikan dan menerapkan adab-adab Islam dalam umah tangga kita. Misalnya; memisahkan tempat tidur anak-anak laki-laki dan perempuan, tidak membiarkan anak-anak tidur dalam satu selimut, memberikan pakaian dan mainan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.
Bangun komunikasi yang efektif dan intens bersama keluarga. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat paling nyaman untuk berbagi dan mencari solusi berbagai masalah dalam keluarga. Hal ini juga akan membangun kepercayaan antar keluarga; suami terhadap istri maupun sebaliknya, dan juga anak terhadap orang tua.
Sehingga setiap anggota keluarga akan menjadikan rumah adalah tempat berbagi dan konsultasi yang paling baik. Terkadang masalah seberat gunung bagi istri, bisa diatasi hanya dengan satu elusan dari sang suami. Pun demikian sebaliknya. Begitu pula dengan anak, kadang masalah yang berat bagi anak, selesai hanya karena orang tua mendengarnya dengan seksama.
Apa yang telah dijabarkan di atas merupakan upaya-upaya manusiawi kita. Adapun pada akhirnya, Allah juga yang menentukannya. Maka point terakhir namun paling penting adalah do’a. Jangan pernah tinggalkan do’a untuk kebaikan diri dan keluarga kita.[]
Oleh: Ummu Fauzan