RUANG RINDU
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Pada dasarnya manusia itu makhluk penyayang. Allah telah menitip di dalam raganya sebuah hati. Dengan hati manusia bisa merasakan keberadaan cinta itu. Pada dasarnya manusia itu penyantun. Karena Allah telah menggenapi hati manusia, akal yang dengannya dia bisa menakar segala ambisi keduniaannya
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Dengan begitu, lengkaplah sudah apa-apa yang sejatinya diperlukan oleh manusia. Sebab, keduanya– antara hati dan akal merupakan modal besar merayakan cinta di dunia. Ruang rindu itu ada pada sebuah ruangan yang sempit. Bangunannya koyak oleh lumut sana-sini. Warnanya t’lah memudar
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Keindahannya dilebur oleh zaman dan waktu. Sebab ruang rindu itu unik, tak lagi sama, namun meninggalkan kesan cinta yang sama. Islam adalah wujud kerinduan itu. Usianya sudah lama. Kadang diri merasa Islam selalu ikut campur dengan urusan kita
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Tak bebas melakukan apapun. Selalu dibayang-bayangi. Selalu saja ada larangan. Selalu saja terhalangi berbuat sesuka diri. Apapun pikiranmu soal ruang rindu itu. Sejatinya ia dihadirkan dimasa kini, untuk mengingat masa lalu. Bahwa dulu, ada sesosok manusia yang begitu merindukanmu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Ia tak mau kamu terjerumus. Ia tak ingin umatnya masuk ke neraka. Ia tak ingin kekurangan sesuatu pun. Ia adalah rasulmu, rasulku, rasul kita bersama. Baginda Nabi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia yang lebih layak kita rindukan. Manusia yang lebih layak kita cintai. Sebab kita ada pada dimensi yang sama. Terjebak di ruang rindu baginda Nabi yang mulia
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS Al Ahzab: 6).
@wahdahinspirasizakat | www.wiz.or.id | www.sedekahplus.com