Kaum Muhajirin keluar dari negeri mereka, Makkah, menuju Madinah hanya membawa sedikit dari harta mereka. Di antara mereka ada yang hanya membawa pakaian yang menempel di badan. Mereka meninggalkan ternak-ternak, harta benda, rumah-rumah mereka yang telah mereka tinggali sejak lama, berikut keluarga yang mereka cintai. Mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan atas penindasan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy.
Ceritanya berbeda ketika mereka telah menetap di Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatukan kekuatan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Kini mereka telah diizinkan untuk mengangkat senjata menghadapi musuh. Dan pertempuran besar pertama kali terjadi antara pihak kaum Muslimin dengan orang-orang Quraisy adalah yang terjadi di bulan Ramadhan tahun kedua pasca hijrah. Ia adalah Perang Badar.
Perang Badar adalah perang yang sama sekali tidak direncanakan sebelumnya baik oleh kaum Muslimin di Madinah maupun kaum Quraisy di Makkah. Awalnya, kaum Muslimin hanya ingin menakut-nakuti dan menyergap kafilah Quraisy yang membawa barang-barang dagangan dari Syam. Di antara barang-barang itu ada milik sebagian kaum Muslimin yang dirampas oleh orang-orang Quraisy ketika mereka hijrah ke Madinah. Mereka ingin mengambil kembali barang milik mereka tersebut. Selain itu, mereka juga ingin membuat takut orang-orang kafir Quraisy.
Akan tetapi, Allah berkehendak lain. Yang terjadi adalah kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan perang Quraisy. Abu Sufyan selaku pemimpin kafilah merasa terancam dengan keberadaan kaum Muslimin. Maka ia mengirim seseorang bernama Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk menyampaikan berita kepada orang-orang Quraisy yang berada di Makkah bahwa Muhammad dan sahabatnya menghadang mereka di Badar. Mendengar berita tersebut, maka keluarlah pasukan Quraisy menuju Badar. Semua tokoh Quraisy seperti Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abi Mu’aith, Utbah dan Syaibah bersaudara, menuju Badar untuk berperang. Kecuali Abu Lahab yang tidak turut serta. Sebagai gantinya, ia mengutus Al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah.
Pada Jumat, 17 Ramadhan bertemulah dua pasukan di Badar. Pasukan kaum Muslimin berjumlah 314 orang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilengkapi dengan dua ekor kuda dan 70 ekor unta. Pemegang panji utama adalah Mush’ab bin Umair Radhiyallahu anhu. Dari pihak kaum musyrikin berjumlah 950 orang dilengkapi dengan 100 ekor kuda, 700 unta, dan 600 baju besi untuk perang. Mereka dipimpin oleh Abu Jahal laknatullah alaih.
Pertempuran Berlangsung
Kebiasaan di masa itu, sebelum memulai perang terlebih dahulu diadakan duel dari pasukan yang dipilih oleh kedua belah pihak. Saat itu Rasulullah meminta tiga orang Anshar untuk maju berduel sementara dari pihak Quraisy diwakili tiga orang tokoh yang kuat; Utbah dan Syaibah putra Rabi’ah serta Walid putra Utbah. Pihak Quraisy menolak berduel dengan orang yang tidak mereka kenal. Mereka meminta kepada Rasulullah untuk memilih tiga orang yang mereka kenal berasal dari Makkah. Maka Rasulullah memilih tiga orang ksatria dari keluarga dekat beliau; Ali dan Ubaidah bin Harits serta Hamzah. Dua nama pertama adalah sepupu Nabi, dan yang ketiga adalah paman beliau. Dalam tugas berbahaya, Rasulullah tidak segan menunjuk keluarga dan orang-orang tercinta beliau.
Ali berhasil memenangkan duel melawan Walid, Hamzah menumpas Syaibah. Adapun Ubaidah meskipun berhasil membunuh Utbah, ia terkena sabetan pedang Utbah. Ia sempat bertahan, namun karena banyaknya darah yang keluar membuatnya syahid. Tewasnya tiga orang tokoh mereka membuat moral pasukan Quraisy runtuh.
Tak lama setelah itu perang pun berkecamuk. Banyak peristiwa luar biasa dalam pertempuran ini. Kaum Muslimin ikut perang ini ingin mencari kesyahidan dan mendambakan surga seperti kisah Umair bin Humam yang melempar kurma di tangannya, mengambil pedangnya, lalu terjun bertempur hingga syahid. Demikian juga Auf bin Harits yang melepaskan baju besinya kemudian berperang hingga menemui syahidnya. Adapun pasukan kafir Quraisy terjun ke medan pertempuran membawa kebencian dan dendam dalam dada mereka.
Malaikat-malaikat Allah juga turun membantu kaum Muslimin di Badar. Dikisahkan bahwa seorang dari Bani Ghifar menceritakan, awan mendekat kepada mereka. Di awan tersebut mereka mendengar ringkikan kuda dan teriakan pasukan. Kisah lainnya, seorang pasukan kaum Muslimin ketika membuntuti seorang pasukan musuh untuk menebasnya tiba-tiba saja kepala musuh tersebut jatuh ke tanah tanpa diketahui siapa yang menebasnya.
Peperangan dimenangkan kaum Muslimin. Jumlah korban dari pihak kaum Muslimin berjulah 14 orang; 6 dari Muhajirin dan 8 dari Anshar. Sedangkan dari pihak Quraisy berjumlah 70 orang. Termasuk tokoh-tokoh mereka seperti Abu Jahal, Uqbah bin Abi Mu’aith, dan Umayyah bin Khalaf.
Kunci Kemenangan Kaum Muslimin
Tentu saja kemenangan kaum Muslimin di Badar terjadi berkat pertolongan Allah Jalla wa ‘Alaa. Namun, ada beberapa faktor kemenangan atas pasukan Quraisy, seperti disebutkan dalam “An-Nur Al-Khalid”, yaitu: Pertama, Rasulullah mampu melakukan mobilisasi pasukan perang dengan baik. Di perang Badar, Rasulullah terjun ke medan pertempuran bersama pasukan yang tunduk di bawah satu komando. Mereka hanya akan bergerak berdasarkan perintah beliau. Kedua, setiap prajurit Muslim memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap semua perintah yang disampaikan Rasulullah kepada mereka.
Ketiga, kaum Muslimin memiliki pasukan yang tangguh serta jejaring intelejen yang sangat baik. Dari tenda yang menjadi pusat komando pasukan Muslim, Rasulullah dapat menyampaikan semua instruksi ke bawah dengan mudah. Dan faktor keempat adalah kesempurnaan strategi yang diterapkan Rasulullah dalam pertempuran. Pada Perang Badar, pasukan muslim terbagi menjadi pasukan sayap kanan, sayap kiri, tengah, dan pasukan cadangan. Strategi yang diterapkan Rasulullah dalam perang Badar ini menjadi puncak kehebatan taktik perang yang ada pada masa itu.
Terlepas dari semua faktor disebutkan, jangan lupa bahwa malam sebelum perang meletus. Rasulullah berdoa kepada Allah dengan penuh harap, “Ya Allah, jika Engkau binasakan kelompok ini (Muslimin) pada hari ini, Engkau tidak akan disembah.” Abu Bakar menegur beliau, “Wahai Nabiyullah, cukuplah munajatmu. Sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu.”
Oleh: Mahardy Purnama
Bacaan:
Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah
Muh. Fethullah Gulen, An-Nur Al-Khalid Muhammad
Ibnu Abdil Barr, Ad-Durar fi Sirah Ar-Rasul