Buya Hamka pernah menolak undangan Menteri Agama untuk menghadiri acara di Istana Negara dalam rangka menyambut Paus Johannes yang berkunjung ke Indonesia. Beberapa orang datang menemui Buya di rumahnya, Jalan Raden Fatah, guna membujuknya agar mau hadir dalam acara ramah-tamah dengan Paus di Istana.
“Bagaimana saya bisa bersilaturahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan rayuan, beras, uang, dimurtadkan oleh perintahnya?” kata Buya kepada tamunya. “Dalam masa usia saya yang saat ini 50 tahun, masa ‘kan lalu saya harus terbungkuk-bungkuk bersalaman dengan beliau dengan wajah manis?” tambahnya.
Jauh sebelum Buya Hamka, Abad ke-16 di Jerman, seorang Kristen taat bernama Martin Luther, juga menolak otoritas Paus dan Gereja. Ia juga mengkritik penjualan surat pengampunan dosa. Perempuan-perempuan para penghuni rumah bordil tinggal membeli surat pengampunan itu, dan dosanya diampuni. Para pendeta makan dan membangun rumah tuhan dari uang-uang pelayan rumah bordil. Luther yang juga seorang pendeta, memaku 95 tesisnya pada pintu gereja istana di Wittenberg. Dari aksi protes Luther ini muncul golongan yang disebut Protestan. Konflik Katolik dan Protestan kemudian melahirkan Perang Tiga Puluh Tahun di Eropa.
Paus sebagai sosok penting bagi umat Katolik yang diyakini sebagai wakil Tuhan di muka bumi malah menjadi manusia haus darah melalui Mahkamah Inkuisisi-nya. Masyarakat Spanyol (Andalusia) di antara mereka yang sangat menderita karena ulah mahkamah tersebut. Andalusia bertahun lamanya menjadi contoh kerukunan hidup umat Islam, Kristen, dan Yahudi di bawah pemerintahan Islam. Baik Kristen maupun Yahudi diberi kebebasan menjalankan agama mereka. Bahkan ada Yahudi diberi tempat istimewa di pemerintahan karena ilmunya. Hasdai bin Saphrut contohnya, menjadi diplomat masa Abdurrahman An-Nashir Al-Umawi di Kordoba.
Inkuisisi di Spanyol
Pada 1480, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, Spanyol memulai Inkuisisi yang kelak akan melambangkan kekejaman fanatik yang melekat dalam agama. Awalnya Inkuisisi Spanyol diberlakukan pada orang-orang Yahudi yang telah menjadi Kristen dan diyakini telah kembali ke Yahudi. Padahal di masa pemerintahan Islam Spanyol, Yahudi tidak pernah mengalami penganiayaan sebagaimana yang mereka alami masa kekuasaan Kristen. Pada 1482 saja tercatat, Inkuisisi Spanyol membakar 2000 orang terdakwa. Tindakan membakar dianggap sesuai dengan perintah Alkitab untuk tidak menumpahkan darah (karena itu mereka dibakar).
Pada 1499, ketika Granada telah menjadi negeri Kristen, umat Islam dipaksa masuk Kristen jika tidak mereka akan menghadapi Mahkamah Inkuisisi. Beratnya cobaan tersebut membuat seorang mufti di Afrika Utara mengeluarkan fatwa yang mengizinkan Muslim Spanyol secara lahiriah mengikuti aturan Kristen.
Contoh kekejaman Inkuisisi oleh petinggi Gereja dicatat Henry Charles Lea dalam History of The Inkuisisi of Spain. Ia menceritakan seorang perempuan muda yang sedang hamil bernama Elvira del Campo yang ditahan karena dianggap sebagai Yahudi. Dia melahirkan bayi di penjara sebelum dibawa ke hadapan pengadilan Toledo pada tahun berikutnya.
Para saksi mata yang melihat Elvira adalah dua orang pekerja laki-laki yang tinggal di rumahnya. Mereka berkata bahwa perempuan itu tidak makan daging babi dan mengganti pakaian dalamnya pada hari Sabtu. Karena melaporkan sikap yang mencurigakan tersebut kepada Inkuisisi, mereka diberi hadiah pengampunan dosa selama tiga tahun.
Elvira protes dan memperjuangkan ketidakbersalahannya. Dia adalah orang Kristen. Suaminya adalah orang Kristen. Ayahnya orang Kristen tetapi, tampaknya, ibunya punya beberapa leluhur Yahudi. Sejak berumur 11 tahun, ia sudah tidak makan daging babi. Ketika ia mencoba memakannya, daging itu membuatnya sakit. Ibunya telah mengajarkan kepadanya untuk mengganti pakaian dalamnya pada hari Sabtu, tetapi dia tidak melihat adanya makna religius di dalamnya.
Pengadilan memperingatkannya bahwa dia akan disiksa jika tidak mengatakan yang sebenarnya tapi dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Akhirnya ia ditelanjangi dan lengannya diikat. Tali diputar sampai ia berteriak karena lengannya patah. Pada putaran keenam belas, tulang-tulangnya bergemeretak. Lalu ia diikat di atas meja yang di atasnya diberi palang-palang yang diruncingi. Sang Paus mengikatnya lebih kuat lagi. Dalam penderitaan mendalam dan putus asa, ia berteriak mengakui bahwa ia melanggar hukum.
Tapi ketika tak mampu memberikan detail tentang hukuman Tuhan yang telah ia langgar, sepotong kain dicekokkan ke dalam tenggorokan dengan sebuah balok dan penyiksaan air dimulai. Ketika berakhir, perempuan itu tidak mampu berbicara, sehingga penyiksaan itu berlangsung selama 4 hari, yang selama itu ia ditahan dalam kurungan tersendiri.
Yang bisa Elvira lakukan hanya memohon agar tubuh telanjangnya ditutup sebelum ia mati. Akhirnya, ia mengakui bahwa ia Yahudi dan memohon ampun. Hakim bermurah hati. Mereka menyita harta bendanya dan menghukumnya tiga tahun penjara. Tapi dia dilepaskan 6 bulan kemudian setelah menjadi gila.
Inkuisisi di Spanyol berlangsung selama lebih dari tiga abad. Mahkamah keji itu tetap berlangsung hingga tahun 1808, ketika Raja Prancis Napoleon Bonaparte menginvasinya. Di bawah biara Dominikan di Madrid, pasukan Prancis dipimpin Kolonel John Jacob Lehmanowski menemukan kamar penyiksaan bawah tanah yang penuh dengan tawanan, semuanya telanjang dan sebagian besar jadi gila. Hal ini membuat pasukan Prancis mengeluarkan para tawanan bawah tanah itu kemudian meledakkan biara.
Baca juga: Perang Salib Mengubah Eropa
Oleh: Mahardy Purnama
Referensi:
- Nigel Cawthorne, Rahasia Kehidupan Seks Para Paus
- Karen Armstrong, Field of Bloods
- wikipedia.org
- Irfan Hamka, Ayah