Ada tiga gelar Nabi Ibrahim bisa menjadi inspirasi bagi para pemimpin membangun peradaban. Tiga gelar ini (abul anbiyā, ulul azmi dan khalīlullah) memiliki makna yang mendalam bagaimana seharusnya menjadi pemimpin.
Abul Anbiyā (Bapak Para Nabi)
Tugas para Nabi membawa risalah dan Nabi Ibrahim menjadi bapak para Nabi. Mereka melanjutkan risalah dakwah yang dirintis Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim ditakdirkan lahir di tempat yang penuh kesyirikan. Kaumnya termasuk ayahnya sendiri membuat dan menyembah berhala.
Meskipun Nabi Ibrahim hidup di lingkungan yang toxic karena penyimpanan segi akidah, dia tidak pernah sekalipun melakukan praktik kesyirikan.
إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةٗ قَانِتٗا لِّلَّهِ حَنِيفٗا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
“Sungguh, Ibrahim adalah umat (seorang imam yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hānīf. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),”[QS. An-Nahl: 120]
Nabi Ibrahim sejak awal sudah membawa misi tauhid dan seluruh Nabi yang Allah utus terjaga dari berbagai penyimpangan akidah. Nabi Ibrahim disebut ummat padahal dia seorang diri berdakwah. Tidak ada guru yang membimbing maupun buku panduan yang dibaca.
Nabi Ibrahim disebut ummat karena berkaitan kapasitas diri. Seorang diri tetapi sebanding dengan satu ummat. Dia membawa risalah, menjadi pemimpin, ada manusia berkumpul berjuang bersama dan melahirkan sejarah.
Ini juga yang dilakukan Rasulullah selama 23 membangun manusia. Manusia yang punya kapasitas satu orang sebanding seribu orang. Abu Bakar misalnya, menjadi khalifah dalam kurun dua tahun. Tetapi selama dua tahun itu dia memerintah seperti pekerjaan orang biasa memerintah selama bertahun-tahun. Kapasitas diri seseorang sangat menentukan pencapaian targetnya.
Kaidahnya, membawa risalah dakwah tauhid adalah misi para Nabi dan pewaris para Nabi. Sunnatullah kehidupan, seorang pemimpin juga harus punya narasi, visi yang akan diperjuangkan.
Baca juga: Keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
Ulul Azmi
Nabi Ibrahim sejak muda menjadi Da’i. Keteguhan hati Nabi Ibrahim menghadapi ujian yang begitu dahsyat menjadi alasan disebut Ulul Azmi. Dakwahnya menghadapi pertentangan yang demikian berat. Mulai dari level keluarga, masyarakat dan negara.
Begitupula Nabi Ibrahim menempuh perjalanan dakwah yang panjang. Dari Irak, Palestina, Mesir hingga Makkah. Tekad dan sabar menjadi energi Nabi Ibrahim melewati ujian dakwah yang berat maupun perjalanan yang panjang. Ada tiga fase dakwah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Berdakwah kepada keluarganya. (QS. Maryam: 41-48).
Sekalipun ayahnya bagian dari kemusyrikan, Nabi Ibrahim tetap mengajak tetapi dengan cara yang beradab. Disini terdapat konsep bagaimana strategi berdakwah kepada orang yang lebih dulu berilmu, lebih senior dan kepada orang tua.
Ketika ada penyimpangan yang mereka lakukan, cara menyampaikan nasihat harus beradab. Membangun komunikasi yang baik, menggunakan bahasa yang tidak terkesan menggurui, memperhatikan diksi dan momen yang tepat. Kalau sudah terbangun komunikasi yang harmoni, barulah pesan dakwah disampaikan.
Mengajak keluarga adalah prioritas utama dalam membawa misi tauhid. Dari keluarga kita bisa membangun loyalitas dan menjadi pendukung utama atau penghalang misi.
Berdakwah pada kaumnya dengan kecerdasan logika. (QS. Al-An’am: 75-78)
Nabi Ibrahim berdakwah pada kaumnya dengan kecerdasan logika. Kecerdasan logika merupakan standar berfikir bagi seorang muslim. Kemampuan berfikir ini dibangun di atas bimbingan Al-Qur’an. Proses berfikir bagi seorang muslim dilandasi keimanan yang kuat, melahirkan ide dan gagasan. Sehingga ia semakin yakin akan kebenaran, bukan sebaliknya.
Berdakwah pada penguasa tiran. (QS. Al-Anbiyā: 51-70).
Nabi Ibrahim sudah berusaha berdakwah di hadapan Raja Namrudz. Berusaha semaksimal menyampaikan risalah dakwah adalah kemenangan. Tugas seorang mukmin adalah berdakwah menyampaikan risalah.
Dakwah yang paling berat adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang tiran. Diantara para Nabi tidak sedikit ditolak oleh kaumnya, ada yang jumlah pengikutnya sedikit. Menurut ukuran manusia dianggap ‘gagal’ tetapi bagi Allah mereka adalah pemenang.
Sunnatullah, dakwah yang membawa kebenaran akan mendapat perlawanan. Resiko terbesar dalam tablīgh ar-risālah berupa ancaman intimidasi secara fisik. Tetapi ancaman ini tidak membuat mereka berhenti.
Tiga level dakwah Nabi Ibrahim (keluarga, masyarakat, negara) menjadi alasan dia termasuk bagian dari Ulul Azmi. Para Nabi yang disebut Ulul Azmi karena keteguhan hati mereka menghadapi ujian pertentangan yang dahsyat kala berdakwah terutama pada kaumnya.
Kisah Nabi Ibrahim merupakan inspirasi Rasulullah dalam berdakwah. “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati,…” [QS. Al-Ahqaf: 35]
Kaidahnya, tekad dan kesabaran adalah energi utama dalam perjuangan. Tekad yang kuat dan kesabaran, membuat Nabi Ibrahim bisa menjalani semua fase terberat dalam perjalanan yang panjang. Dakwahnya ditolak keluarga, hanya sedikit menjadi pengikutnya dan diintimidasi secara fisik oleh kaumnya.
Pemimpin juga demikian, menjalankan risalah tauhid, membawa narasi, diperjuangkan dengan tekad dan sabar. Tetapi dua energi ini saja belum cukup.
Khalīlullah (Kekasih Allah)
Sangat manusiawi seseorang mencintai apa yang paling ditunggu. Ketika lahir anak yang paling dinanti, Nabi Ibrahim diperintahkan membawa anak beserta istrinya ke tempat yang tidak ada tumbuhan tetapi disana sumber kehidupan dimulai.
Setelah dewasa, Allah memerintahkan menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim harus mengorbankan apa yang dicintainya karena Allah. Inilah makna cinta, seorang pemimpin akan berjuang secara totalitas.
Dari ketiga gelar Nabi Ibrahim ini kita belajar ada tiga unsur yang harus dimiliki seorang pemimpin:
1. Abul Anbiyā: Membawa risalah, maknanya memiliki visi.
2. Ulil Azmi: maknanya punya energi berupa tekad dan sabar
3. Khalīlullah: Maknanya cinta dan pengorbanan.
Kaidahnya, peradaban dibangun diatas narasi, tekad dan sabar jadi energi, diperjuangkan penuh cinta dan pengorbanan.
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi