Berfikir adalah pekerjaan dasar manusia. Apa yang akan kita kerjakan diolah dalam alam pikiran. Karenanya pemikiran seseorang sangat berpengaruh pada tindakan atau pandangan terhadap realitas kehidupan.
Pembebanan syariat juga ditujukan untuk orang yang berakal atau baligh. Islam mendorong kita untuk mengaktifkan akal. Karena berfikir dan berakal adalah instrumen memahami agama dengan lurus.
Di dalam Al-Qur’an disebut berulang kali menunjukkan pentingnya berfikir maupun berakal. Dalam bentuk fi’il atau kata kerja, ta’qilūn dan ya’qilūn disebutkan 24 dan 22 kali. Maupun dengan gaya istifhām inkari, ‘afalā ta’qilūn diulang 13 kali.
Kita akan menemukan banyak padanan ayat berbicara semesta alam dikaitkan dengan berfikir serta berakal. Melalui tadabbur semesta alam merupakan jalan memahami tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. (lihat QS. Ali ‘Imran: 190)
Beriman dan berfikir satu paket. (lihat QS. Ali ‘Imran: 191). Artinya kecerdasan logika merupakan standar berfikir bagi orang beriman. Tentu berfikir yang dimaksud semakin menambah keimanan bukan keraguan. Berfikir sejatinya menghasilkan al-khasyah, rasa takut kepada Allah. Bukan justru berfikir sebebas-bebasnya dan menabrak syariat. Islam merupakan jalan pertengahan antara golongan yang ghulūw atau berlebih-lebihan dalam berfikir dengan kaum yang tidak menggunakan akal pikirannya.
Ketika kita ingin memahami Al-Qur’an tentu dibutuhkan akal pikiran dan kemampuan berfikir. Kadangkala ada yang tidak ingin memakai akal karena dianggap menyimpang. Padahal yang membuat melenceng dan tersesat dari syariat karena akalnya lebih dipengaruhi hawa nafsunya.
Adapun golongan yang mengatasnamakan kebebasan berfikir tetapi justru melampaui batasan syariat sesungguhnya hanya mengedepankan hawa nafsu. Kalau akal digunakan dengan baik memahami Islam, dengan metode yang tepat maka akan menjadi jalan sampai pada kebenaran.
Berfikir adalah hal yang paling dihindari bagi sebagian orang sehingga malas berfikir dan tidak berusaha meningkatkan kapasitasnya. Padahal kemampuan berfikir merupakan modal utama bagi seseorang sebelum melakukan penemuan dan membuat realita. Segala bentuk penemuan yang kita saksikan hari ini seperti barang, peralatan, maupun teknologi merupakan produk imajinasi alam pikiran.
Dulu orang menulis dengan tulisan tangan (naskh), lalu orang mulai berfikir bagaimana sebuah gagasan bisa ditulis, dicetak dan disebar luaskan maka jadilah buku. Segala yang kita pikirkan hari ini kemungkinan besar akan menjadi kenyataan di kemudian hari sebagaimana karya hari ini merupakan imajinasi para penemu di masa lalu.
Pikiran juga merupakan akar dari peradaban. Disebut peradaban suatu umat maupun bangsa sesungguhnya hasil kreativitas dan buah pikiran masyarakatnya. Orang yang tidak memiliki kemampuan berfikir akan sulit melahirkan karya kecuali hanya menjiplak ide orang lain. Karena untuk berkarya harus melalui proses berfikir yang tepat.
Pikiran atau mindset sangat mempengaruhi seseorang dalam memimpin dan melakukan tindakan apa saja. Sebutlah seorang pemimpin yang ingin meningkatkan kapasitas maupun kualitas lembaga yang dipimpinnya. Jika dia tidak memahami pikiran merupakan akar peradaban, maka cara yang paling mudah ditempuh dengan mengadopsi konsep, mekanisme serta gagasan orang lain.
Rasulullah dalam merencanakan setiap langkah dan strategi sulit ditebak oleh musuhnya. Bahkan Nabi punya perhatian secara khusus mengasah kemampuan berfikir para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar. Coba kita lihat bagaimana kemampuan berfikir Khalid bin Walid dalam perang Mu’tah membuat strategi mengelabui musuh.
Khalid bin Walid tahu jumlah kaum muslimin kalah dengan jumlah pasukan Romawi. Maka dia merumuskan strategi tipu daya musuh dengan membuat ilusi, reposisi pasukan kanan-kiri dan depan-belakang. Lalu sebagian pasukan rambutnya dicat agar terlihat muda dan musuh menyangka pasukan baru bertambah.
Adapun pasukan di belakang berusaha mengaduk-ngaduk pasir untuk menimbulkan suara kuda dan debu bertebangan seakan-akan ada tambahan pasukan. Padahal jumlah kaum musliman tetap tiga ribu dan berhasil diselamatkan.
Pengalaman membuat strategi Khalid bin Walid ini kelak menjadi inspirasi Sa’ad bin Abi Waqqash memenangkan perang Yarmuk. Dalam sejarah ada banyak pengalaman para pemimpin hebat yang pikirannya penuh dengan ide, gagasan dan strategi.
Kita ingin melahirkan generasi yang mampu berkarya dengan kecerdasan akal pikirannya. Bukan semata modal semangat tetapi isi pikirannya kosong. Membangun peradaban dimulai dari meng-upgrade kapasitas berfikir sehingga bisa menghasilkan ide yang segar dan gagasan yang matang.
Oleh: Muhammad Scilta Riska
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi