Saat mengenang peristiwa qurban. Saat mengambil pelajaran dan hikmah Idul Adha. Saat menapak tilas rangkaian ibadah haji. Saat menyebut kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail alaihimassalam. Ingatlah juga perjuangan dan pengorbanan Sayyidah Hajar!
Sejarah Makkah yang mendunia sampai sekarang. Air mukjizat bernama zamzam bermula dari keyakinan, harapan, dan kerja kerasnya yang amat sangat mengagumkan.
Keyakinannya akan janji Rabbul ‘alamin yang menjamin kehidupan adalah keyakinan yang tak tergoyahkan. Beliau mampu mengalahkan rasa sepi, takut, marah dan tersia-siakan, lantaran ditinggalkan di lembah tandus tanpa pepohonan, air, dan kerumunan orang. Hanya berdua dengan bayinya yang masih dalam gendongan.
Perasaan halusnya kepada sesama perempuan membuatnya rela pergi menjauh demi menjaga perasaan Sarah yang mulia dan dihormatinya tak runtuh, dan perkawinannya dengan Ibrahim tetap utuh.
Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Karena ia telah membuktikan salahnya stigma bahwa perempuan itu penggoda dan mudah tergoda. Sayyidah Hajar sebaliknya. Ia sangat digdaya menghadapi rayuan maut setan yang tak henti menggoda agar tak menyerahkan anak semata wayang yang dikasihinya yang telah dengan susah payah dibesarkannya. Sayyidah Hajar yang digdaya tak mempan godaan setan yang memanfaatkan naluri keibuan untuk menolak perintah Tuhannya yang tak bisa dimengerti nalar kebanyakan, yaitu mengorbankan putra tersayang, bahkan anak satu-satunya.
Pengorbanannya yang tak terperi diabadikan dalam wajib haji yang paling mengharuskan mawas diri yaitu melempar tiga Jumrah.
Sayyidah Hajar adalah wanita simbol kesetaraan ras dan kedudukan sosial. Sayyidah Hajar yang mulanya sahaya telah menjadi inspirasi abadi bagi dunia kekuatan imannya, kedahsyatan lakon hidupnya, dan keluarbiasaan karakternya. Bukan karena keturunan dan kebangsawanannya.
Tanpa keikhlasan, kepasrahan, keberanian, dan kesabarannya Ibrahim takkan sempurna menjalankan perintah Tuhannya. Tanpa pengorbanan, kasih sayang, dan pendidikan rabbaniyahnya, Ismail kecil mungkin tak menjadi anak yang berbudi dan berbakti di usia belia.
Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Kota suci Makkah yang penuh berkah yang di dalam buminya tertampung sumber air Zamzam yang terus melimpah. Sa’i dan lempar Jumrah sampai kelahiran Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. adalah tak lepas dari keberadaannya.
Jangan pernah lupakan Sayyidah Hajar! Melupakannya adalah melupakan peran seorang hamba Allah, perempuan tangguh yang menemani perjuangan dan dakwah kekasih Allah. Melupakan Sayyidah Hajar adalah melupakan separuh peradaban.
Disarikan dari penjelasan Sekjen MUI Bidang Perempuan, Remaja, Badriyah Fayumi di media muidigital
Baca juga: Adab dan Sunnah pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
Oleh: Faisal Mursila
Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi