Bersatu Dalam Perbedaan

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu dengan tegas menyatakan bahwa seorang musafir, afdhalnya ialah shalat qashar, tidak tamm (sempurna), jika ada musafir yang shalatnya sempurna 4 rakaat, beliau mengatakan itu adalah mukhalafatul-aula (menyelisih pendapat yang utama).

Akan tetapi dengan rela ia meninggalkan pendapatnya dan ikut shalat sempurna 4 rakaat di belakang Utsman bin Affan yang memandang berbeda dengannya dalam masalah ini. lalu Ibnu Mas’ud ditanya: “kau mengkritik Utsman, tapi kenapa kau mengikutinya shalat 4 rakaat?”. Ibn Mas’ud menjawab: “berselisih itu buruk!”.[ Fathul-Baari 2/564]

Karena beliau tahu bahwa jika ia menonjolkan perbedaan itu depan umum yang tidak semuanya paham masalah tersebut hanya akan menyebabkan perpecahan di tengah kaum muslimin. Karenanya Ibnu Mas’ud memilih untuk tetap mengikuti Utsman walaupun itu menyelisihi pandangannya sendiri.

Inilah diantara teladan dari sahabat dalam menjaga persatuan kaum muslimin. Perbedaan pendapat dalam hal cabang (furuiyyah) dalam agama adalah hal yang dimungkinkan. Namun terkadang untuk menjaga keutuhan persatuan kita harus mengalah dan mengikuti pendapat orang lain.

 

Perbedaan yang ada tidak boleh menjadi penghalang untuk saling bersaudara dan bersatu. Kita adalah umat yang telah Allah tetapkan sebagai saudara, sepanjang kita beragama Islam. Meskipun berbeda mazhab, organisasi, suku, warna kulit, bahasa, dll.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri menyuruh menghargai perbedaan, saling mengenal dan memahami, semua setara tidak ada yang lebih baik diantara kita kecuali tingkat ketaqwaan yang membedakannya.

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal . (QS. Al-Hujuraat :13)

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan justru perbedaan itu akan menjadi kekuatan besar jika kita mampu menyatukannya.

 

Sejak awal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa umat Islam itu satu umat yang utuh meski berbeda bangsa dan suku.  Dalam Piagam Madinah (watsîqotul madînah) disebutkan :

“Inilah piagam tertulis dari Muhammad SAW di kalangan kaum mukminin dan muslimin yang berasal dari Quraisy dan Yatsrib (Madinah), dan orang-orang yang mengikuti mereka, mempersatukan diri dan berjihad bersama mereka.  Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummatan wahidah), yang berbeda dengan manusia lainnya.” (Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, II, hal. 119 – 133).

Lebih gamblang lagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa umat Islam itu laksana satu tubuh.  Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling sayang menyayangi dan saling bersimpati adalah seperti satu tubuh.  Apabila ada salah satu anggota tubuh yang mengaduh kesakitan maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari & Muslim)

 

Sungguh indah perumpamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.  Melalui hadits tadi tergambar bahwa umat Islam diperintahkan untuk menyatu laksana tubuh. Siapapun yang mentafakuri tubuhnya maka ia akan menemukan bahwa satu anggota tubuh merasakan penderitaan anggota tubuh yang lain, suatu anggota tubuh membantu anggota tubuh yang lain meskipun secara fungsi mereka berbeda.

Untuk bersatu kita pun harus siap menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita samakan. Tidak siap menerima perbedaan hanya akan menimbulkan perselisihan yang berakibat perpecahan. Wallahu a’lam.[]

Tinggalkan komentar

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening