Kejujuran Membawa Kemujuran

Artikel ini akan membahas membahas mengenai hukum kejujuran, jenis kejujuran, kedudukan dan keutamaan kejujuran dan hal-hal yang diperbolehkan untuk tidak jujur. Baca artikel berikut selengkapnya!

Kejujuran: Suatu Kewajiban

Kejujuran kadang menyakitkan. Demikian salah satu ungkapan kejujuran yang selalu didengungkan, namun tak bisa dipungkiri bila kejujuran hati, tutur kata dan perilaku adalah modal utama bahagianya kehidupan manusia meski dalam kondisi tertentu terkadang menyakitkan. Lantaran urgennya sikap jujur ini dalam setiap langkah hidup setiap insan, Islam pun mewajibkannya kepada seluruh manusia tanpa terkecuali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan ini dalam sabdanya: Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga”.(HR. Muslim: 2607).

Tidak hanya itu, bahkan demi tersebarnya sifat jujur ini dan mencegah menjangkitnya virus kedustaan dalam komponen suatu masyarakat, Islam mewajibkan umatnya untuk memilih teman bergaul yang jujur sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At Taubah: 119).

Ayat ini tidak hanya menunjukkan wajibnya berlaku jujur atau wajibnya berteman dengan orang-orang yang jujur, namun lebih dari itu juga menunjukkan tingginya kedudukan sifat jujur ini dihadapan Allah Ta’ala sehingga Dia menyandingkannya dengan perintah taqwa. 

Pada dasarnya, sifat jujur ini merupakan fitrah manusia yang telah terpatri dalam hatinya sejak ia dilahirkan, hal ini bisa dibuktikan, ketika seseorang berucap atau berlaku jujur, hatinya akan tenang dan jiwanya tentram sebab sangat pas dengan tabiat asli manusia yang Allah fitrahkan pada dirinya. Hal ini berbeda bila ia berdusta, ia akan dihantui perasaan bersalah, kegalauan dan kebimbangan. Hanya saja, entah karena adanya motif tertentu, manusia kadang lebih cenderung menggunakan kedustaan demi memuluskan keinginan hawa nafsunya.

Jenis-Jenis Kejujuran

Kejujuran dalam kehidupan ini memiliki ragam dan jenis, diantaranya:

  1. Kejujuran niat dan tekad. Ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan keikhlasan, karena ia adalah lambang kejujuran hati yang tidak nampak oleh manusia lainnya. Bila hati telah ikhlas, maka kejujuran hati telah tercapai dan seorang hamba akan terjauhkan dari sifat nifaq yaitu mengerjakan perbuatan dan amal shalih dengan ambisi riya’ dan ingin dipuji.
  2. Kejujuran tutur kata. Kejujuran jenis inilah yang seringkali dibahas dalam hadis-hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, sebab setiap tutur kata mengandung salah satu dari dua unsur yaitu kejujuran atau kedustaan. Barometer kejujuran seseorang biasanya dilihat dari ukuran kejujuran tutur kata ini, sebab menilai kejujuran dari sisi ini lebih relatif mudah.
  3. Kejujuran perilaku atau perbuatan. Jenis kejujuran dari sisi ini banyak, termasuk memenuhi janji, dan menunaikan amanat. Hanya saja inti dari kejujuran perbuatan ini adalah adanya keseimbang antara sisi lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan niat batin.

Kapan saja seorang hamba mampu merealisasikan kejujuran dalam tiga pilar ini dengan sempurna dan paripurna maka dia tercatat di sisi Allah sebagai orang-orang jujur (shiddiiqiin), dan di akhirat kelak ia akan meraih surga Allah Ta’ala dengan bersanding bersama para nabi, rasul, para syuhada’, dan orang-orang shalih.

Kedudukan dan Fadhilah Jujur

Kedudukan akhlak jujur dalam Islam sangatlah mulia, ini terbukti dengan banyaknya keutamaan dan fadhilah yang Allah tetapkan dan janjikan bagi orang yang memiliki sifat jujur ini, diantaranya:

  1. Sanjungan Allah Ta’ala terhadap kejujuran para nabi, dan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana dalam ayat: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (jujur) lagi seorang Nabi.” (Terjemahan QS. Maryam: 41)
  2. Kejujuran salah satu modal utama meraih surga Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, artinya: Allah akan berfirman: “Ini adalah hari di mana kebenaran akan mendatangkan manfaat kepada orang-orang yang benar (jujur). Bagi mereka surga yang di bawahnya sungai-sungai yang mengalir mereka kekal selamanya di sana. Allah telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Itulah kesuksesan dan keberuntungan yang agung.” (Terjemahan QS. al-Maidah 119)
  3. Kejujuran adalah pilar dan fondasi amal shalih dan kebajikan, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan: Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim: 2607).
  4. Jujur senantiasa mendatangkan keberkahan, dalam hadis “Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”  (HR. Ibnu Hibban: 4904, shahih).
  5. Kejujuran menyebabkan ketenangan hidup dan ketentraman. Dalam hadis: “Sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.” (HR Tirmidzi: 2518, shahih).

Orang yang selalu jujur dan menjadikan kejujuran sebagai akhlak dan tabiat kepribadiannya, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya akan selalu menunjukkan kejujuran pula. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran dan kejujuran sebagaimana firman Allah, yang artinya:“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar (jujur) dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar (jujur) dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (Terjemahan QS. al-Isra’: 80)

Dusta: Antonim Dari Sifat Jujur

Adapun lawan dari sifat jujur ini adalah sifat dusta yang merupakan salah satu dosa besar dalam Islam. Dalam hadits-hadits di atas disebut bahwa kedustaan itu mendatangkan keraguan pada hati, bahkan ia “membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Juga ia merupakan tanda kemunafikan, sebagaimana dalam hadis: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari: 32)

Tiga tanda kemunafikan dalam hadis ini semuanya merupakan bentuk kedustaan terhadap orang lain, sehingga pantas bila kedustaan tersebut merupakan asas dari suatu kemunafikan, sebaliknya sifat jujur itu merupakan asas dari suatu keimanan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

Bolehnya Berdusta dalam Tiga Perkara

Pada dasarnya, Islam mengharamkan sikap dusta, namun islam membolehkannya dalam tiga kondisi saja, tentunya karena adanya maslahat yang besar didalamnya. 

Meskipun boleh namun para ulama lebih mengutamakan cara ta’riidh/sindiran atau tauriyah (mengucapkan suatu ucapan tapi dengan maksud yang lain), hal ini tentunya tidak termasuk dusta, meskipun mendekatinya. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang nampak dari hadits ini adalah bolehnya berdusta dalam tiga kondisi ini, namun melakukan ta’ridh (sindiran) itu lebih utama.”(Al-Minhaj: 12/45)

Adapun mengenai dusta sang suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya, maka terbatas pada pemenuhan hak-hak masing-masing, bukan dengan tujuan menzalimi salah satunya atau menjatuhkan hak atau kewajiban masing-masing pasutri, sebagaimana yang dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul-Bari (5/300).

Berdusta juga dibolehkan bila dalam kondisi darurat, Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Semua ulama sepakat bolehnya berdusta ketika dalam kondisi darurat, semisal bila seorang yang zalim ingin membunuh seseorang, sedang orang itu bersembunyi di tempat orang lain, maka ia harus berdusta dengan menafikan keberadaannya ditempatnya dan boleh bersumpah atas itu, dan ia tidak berdosa.” (Fathul Bari: 5/300).

Demikian pembahasan singkat tentang kejujuran ini, marilah kita bertekad untuk selalu jujur dalam niat, ucapan, perbuatan, dan muamalah. Dengan menjauhi kedustaan, kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksaan yang disediakan Allah bagi para pendusta. Wallaahu a’lam.[]

Baca juga: Berani Jujur, (Memang) Hebat!

Oleh: Ustadz Maulanan La Eda

Yuk gabung di grup WhatsApp Sahabat Inspirasi

Home
Donasi
Hitung Zakat
Rekening