Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata:
.
“Jika anda melihat waktu berjalan dan umurmu berkurang sementara engkau tidak menghasilkan hal yang bermanfaat, juga tidak mendapati keberkahan dalam waktu, maka berhati-hatilah
Khawatir engkau masuk dalam firman-Nya : “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (Al-Kahfi [18]: 28)
Maksudnya, urusannya acak-acakan tidak ada keberkahan di dalamnya. Banyak yang diberi umur, namun tak bisa menghasilkan apa-apa. Waktu yang diberikan tiap orang sama, namun ternyata masing-masing individu punya cara untuk memanfaakan waktu tersebut
Contoh ringannya, jika Anda melihat orang kaya dan orang miskin Anda akan melihat dua sisi manusia yang berbeda. Mengapa ada yang kaya? Karena yang kaya bisa memaksimalkan usia produktifnya, sehari 24 jam. Sementara yang miskin, diluar dari perdebatan masalah takdir, kita akan lihat, bahwa 24 jam yang ia miliki kurang dimaksimalkan
Jika kita meninjau perbedaan mendasar antara enterpreneur dengan pedagang biasa, maka nyatalah bagi kita bahwa dalam berbisnis keduanya punya cara yang berbeda. Mengapa enterpreneur bisa kaya-nya dipercepat, itu karena dalam memulai bisnisnya, ia punya cara yang tak lazim. Seorang enterpreneur akan punya segudang inovasi untuk memajukan usahanya
Jika pedagang, ia hanya fokus menjual barang saja. Yang penting terjual, tanpa mau berepot-repot untuk berinovasi selama ia berusaha
Sama halnya dengan konteks amaliah, kita pun dituntut oleh Allah untuk memaksimalkan usia kita, sehari 24 jam. Mengapa ada yang sudah hafal Al-Qur’an sementara ada yang masih belum, padahal usianya sama-sama 25 tahun. Salah satu jawabannya adalah karena ada yang bisa memanej semua kegiatannya dengan baik, dan ada yang tidak. []
@wahdahinspirasizakat | www.wiz.or.id | www.sedekahplus.com