Ketika Ramadhan berpisah tentu orang yang beriman akan merasa sangat kehilangan. Mereka kehilangan rasa bahagia yang tidak tergantikan ketika melakukan berbagai ibadah dan amal kebaikan selama bulan Ramadhan. Tidak sedikit dari para ulama dan orang shalih yang mengungkapkan kesedihan dan tangisan karena perpisahan dengan Ramadhan

Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air matanya ketika berpisah dengan Ramadhan, sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi.”
.
Kita tak bisa percaya begitu saja dengan kualitas amalan kita selama 30 hari ini. Meski pun tiap malam kita tak pernah luput dari ibadah tarawih, tilawah al-Qur’an, atau kebiasaan mendaras kitab-kitab ulama tak pernah dilewatkan, tapi tak ada jaminan jika semua itu adalah amalan-amalan terbaik kita

Sebab, hati tak pernah kita tahu. Kadang disangka ikhlas, namun nyatanya ada riya’ terselubung di dlamnya

Ramadhan telah berada di penghujung waktu. Tak ada kesempatan lagi untuk melakukan amalan-amalan khusus. Sisa menunggu. Beberapa bulan lagi. Semoga Allah memberikan kita usia panjang yang diberkahi, agar Ramadhan tahun depan kita masih bisa bersua dalam kondisi yang aman dan tanpa ketakutan, aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *