Mukjizat di Atas Mukjizat
LAZISWahdah.com 
– Muhammad. Nama itu sesuai dengan maknanya, terpuji. Beliau adalah orang yang paling terpuji, di langit dan di bumi, di dunia dan di akhirat. Pujian kepada beliau bahkan diberikan oleh Allah dari langit ke tujuh, “Sungguh, engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (Al-Qalam: 4). Salah satu kemuliaan akhlak dan pekerti terpuji beliau adalah ketika penggalian parit dalam perang Khandaq. Sebuah kisah yang menegaskan bahwa beliau adalah pelayan terpuji bagi umatnya, di dunia dan di akhirat.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Ketika parit digali, aku melihat Nabi Shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan lapar yang sangat. Lalu aku pulang menemui istriku, dan berkata, “Adakah engkau mempunyai sesuatu? Sungguh aku melihat adanya kelaparan yang sangat dalam diri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.” Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang di dalamnya ada segantang gandum, dan kami juga mempunyai anak kambing yang jinak. Aku kemudian menyembelih anak kambing itu sementara istriku menumbuk gandum. Istriku telah selesai pekerjaannya, begitupula dengan aku. Lalu aku potong di dalam periuk.

Aku pun kembali menuju tempat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, tetapi istriku berpesan, “Janganlah kamu mempermalukan aku dengan kedatangan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan orang-orang yang bersamanya.”

Selanjutnya aku mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan membisikinya, “Ya Rasulallah, kami menyembelih seekor kambing kecil kami, dan kami juga telah menumbuk segantang gandum yang kami miliki. Karenanya, silahkan Anda datang ke rumah bersama beberapa orang saja yang akan menyertai Anda.”

Tiba-tiba Nabi Shallallahu alaihi wasallam berteriak, dan bersabda, “Yâ ahlal khandâq, inna Jâbiran qad shana’a sûran fa hayya halan bikum…., Wahai semua penggali parit! Sesungguhnya Jabir telah membuat suatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Maka mari kita pergi ke rumahnya, bersama-sama.”

Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Jabir, “Janganlah sekali-kali kamu turunkan periukmu dan jangan pula adukan gandummu dijadikan roti sampai aku datang.” Aku datang ke rumah dan nabi Shallallahu alaihi wasallam juga datang sembari menyuruh orang-orang banyak datang pula ke situ. Begitulah, sampai akhirnya aku menemui istriku.

Istriku berkata, “Bika wa bika…., ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu.”

Aku berkata, “Qad fa’altul ladzi qulti…., aku hanya mengerjakan apa yang engkau katakan kepadaku.”

Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kami, lalu Nabi saw meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya, kemudian beliau mendekati tempat periuk kami, dan meludah di situ juga, serta mendoakan keberkahannya. Setelah itu beliau bersabda kepada istri Jabir, “Panggillah seorang tukang pembuat roti, supaya ia datang membantu membuat roti bersamamamu.” Lalu beliau mengatakan, “Ciduklah dari periukmu, dan jangan diturunkan.”

Jabir melanjutkan, “Orang-orang yang datang pada saat itu berjumlah seribu orang. Aku bersumpah dengan nama Allah, sungguh mereka semua dapat makan, sehingga mereka meninggalkannya dan pergi dari rumahku, padahal periuk kami masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana sebelumnya dan juga adukan roti kami tetap sebagaimana asalnya –tidak berkurang sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari: 13/485 dan Muslim: 6/117).

Di dalam hadits ini terdapat mukjizat Nabi saw, dan keutamaan para shahabatnya yang membersamai beliau dalam menghadapi kelaparan dan peperangan. Sehingga Allah memberikan pahala kepada mereka dengan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, mengokohkan agamanya, dan mengganti ketakutan dengan keamanan. Di samping itu, Allah juga sudah mempersiapkan pahala di surga kepada mereka.

Lebih dari itu, mu’jizat ini memang mengagumkan, tapi apa yang dilakukan Rasulullah dengan menjaga kebersamaan dalam suka dan duka, terlebih lagi bagaimana beliau melayani para shahabat dengan tangannya sendiri adalah lebih menakjubkan. Inilah Nabi, penghulu alam semesta. Maka beliaupun menjadi pelayan yang paling rendah hati bagi sesama.

Hatta kelak di akhirat, di perjalanan seluruh manusia antara kebangkitan dan penghimpunan, beliau akan bersiaga di tepi sebuah telaga yang lebih harum dari kasturi. Beliau menyambut ummatnya, melayani mereka minum dari airnya yang lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Tapi wajahnya mendung tiap kali beberapa manusia dihalau dari Al Kautsar. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga Shana’a di Yaman. Di sisinya ada gelas sebanyak bilangan gemintang. Dan inilah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sang pelayan yang paling menakjubkan, di dunia dan juga di akhirat kelak.

————————————————-
Sumber: Air Minum dari Langit
Akhukum fillah Ibnu Abdil Bari

Tinggalkan Balasan