Ilustrasi perang salib

Perang Salib (The Crusades) tidak selalu soal senjata, pedang, darah, dan nyawa. Perang Salib juga berkaitan dengan budaya, ekonomi, sampai ilmu pengetahuan. Perang Salib yang berlangsung sekitar dua abad (1096-1291 M) merupakan salah satu faktor sampainya budaya kaum Muslimin dan peradaban Islam kepada orang-orang Eropa. Pra Perang Salib,orang-orang Barat (Eropa) buta terhadap Islam dan dunia Islam. Para penganut Kristen Ortodoks (Byzantium) yang berpusat di Konstantinopel mungkin memiliki pengetahuan lebih baik tentang Islam. Namun tidak dengan Romawi Barat yang berpusat di Roma, mereka benar-benar tidak tahu apa itu Islam selain dugaan-dugaan tidak mendasar.

Awalnya orang-orang Kristen Eropa menyerbu negeri Islam untuk membebaskan Tanah Suci (Yerusalem) dari orang-orang “kafir” bangsa Arab dan Turki. Paus Urbanus II di Clermont pada 1095, berpidato dengan berapi-api mengajak orang-orang Kristen untuk membebaskan Tanah Suci atas nama Tuhan. Bagi mereka yang bergabung akan mendapatkan pengampunan dosa. Jika mereka mati di medan pertempuran maka surga tempatnya. Demikian isi dari pidato Paus Urbanus II.

Berangkatlah mereka -dikenal dengan sebutan Pasukan Salib- dari Eropa menuju Tanah Suci di Timur Tengah. Mereka membantai setiap Muslim yang mereka temui. Ketika sampai di Yerusalem, pembantaian paling mengerikan dalam sejarah kitapun terjadi. Jalanan di Kota suci penuh dengan genangan darah kaum Muslimin dan Yahudi, perempuan maupun laki-laki, dewasa juga anak kecil. Dalam tiga hari saja sebanyak 30 ribu jiwa terbunuh. (Armstrong, 2017: 287) Mereka kemudian menempati Yerusalem dan mengubah Al-Aqsha menjadi gereja. 

Orang-orang Eropa adalah bangsa yang jauh dari peradaban maju. Mereka tidak tahu cara membersihkan diri dan bersuci. Mandi bukan tradisi mereka. Ash-Shallabi mengutip perkataan pendapat seorang sejarawan Eropa, “Mereka -salibis- hidup seperti binatang. Mereka tidak mau mandi, dan tidak mau mencuci pakaian. Bahkan mereka baru menanggalkan pakaian mereka setelah robek-robek.” (Ash-Shallabi, : 772)

Setelah berbaur dengan kaum Muslimin mereka terbiasa dengan tradisi mandi. Banyak di antara mereka pergi ke tempat pemandian umum yang banyak terdapat di Syam dan Mesir. Kebiasaan ini bahkan juga dilakukan oleh para biarawan dan biarawati. Seorang pendeta senior sampai menganjurkan para biarawati keluar dari biara mereka untuk pergi ke tempat pemandian umum meski harus melanggar ajaran syariat mereka. (Ash-Shallabi, 2016 : 772)

Akan tetapi kebiasaan mereka perlahan berubah. Di luar peperangan, mereka tetap menjalin kontak dan bermuamalah dengan orang-orang Islam di sekitar mereka sehingga mereka bisa merasakan peradaban musuh mereka itu jauh lebih tinggi dari peradaban mereka. Mulailah mereka mengikuti gaya hidup orang-orang Islam. Armstrong menulis hal tersebut dalam The Fields of Blood, “Kaum Frank (Kristen Eropa) yang tinggal di Tanah Suci menyadari bahwa kelangsungan hidup mereka bergantung pada kemampuan mereka untuk hidup berdampingan dengan tetangga Muslim dan prasangka fanatik mereka segera memudar. Mereka berasimilasi dengan budaya lokal dan belajar untuk mandi, berpakaian dalam gaya Turki, dan berbicara bahasa lokal; mereka bahkan menikahi wanita Muslim.” (Armstrong, 2017: 290)

Di luar Yerusalem, seperti di Sisilia yang merupakan salah satu markas Pasukan Salib disaksikan sendiri oleh pengembara Muslim bernama Ibnu Jubair, perempuan-perempuan Kristen Sisilia memakai pakaian tertutup dan mengenakan jilbab bahkan cadar. Pemimpin-pemimpin Sisilia juga hidup dengan gaya ala Islami serta mengangkat sarjana Muslim di antaranya adalah Al-Idrisi sebagai menteri di kerajaan mereka.

Ukiran vintage dari tahun 1876 dari aslinya. Menampilkan Bongkar Muat tentara salib di Damietta.
Ukiran vintage dari tahun 1876 dari aslinya. Menampilkan Bongkar Muat tentara salib di Damietta. Sumber: istockphoto.com

Faktor Ekonomi

Selain gaya hidup, orang-orang Kristen juga memperoleh keuntungan ekonomis dari Perang Salib. Orang-orang Italia khususnya paling banyak memperoleh keuntungan. Kota-kota di Italia menyediakan transportasi untuk para Pasukan Salib yang menuju Yerusalem dan negeri Islam lainnya. Mereka juga diuntungkan dengan bertambahnya perdagangan dengan orang-orang Timur. Perang-perang Salib merangsang para saudagar Barat dan kapten-kapten laut untuk memperluas cakrawala mereka dengan membawa para peziarah, prajurit Salib, dan barang-barang dagangan di antara pelabuhan-pelabuhan barat dan Timur Dekat (Timur Tengah), yang memperkuat kontak-kontak budaya di antara Timur dan Barat. (Perry, 2014: 238)

Turner menulis, “Segera setelah Perang Salib pertama, Genoa, Pisa, dan Venezia mengirimkan armada mereka ke timur serta sebagai ganti atas penyediaan transportasi laut juga perlindungan, mereka memperoleh konsesi komersial di beberapa kota yang telah diduduki dan hak menjarah muatan kapal manapun yang bisa mereka dapatkan. Sebuah skuadron Venezia yang menyeberangi Ascalon pada 1123 M, menawan armada kapal milik pedagang Mesir yang kaya raya, serta menjarah muatannya yang sarat lada, kayumanis, dan rempah-rempah lainnya.” (Turner, 2019: 114)

Komoditas-komoditas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya mereka angkut dari Timur ke Barat. Pakar Perang Salib Carole Hillanbrand mengatakan bahwa kontak dengan Dunia Islam memberi orang-orang Eropa cita rasa tentang segala macam komoditas, termasuk gading, barang logam yang berlapis dan benda-benda mewah lain yang datang dari dunia Arab. Di antara benda-benda ini yang paing penting adalah tekstil. (Fuller, 2014: 144-45)

Baca juga: Barbarossa Mujahid di Laut Mediterania Abad ke-16

Ilmu Pengetahuan

Tidak diragukan lagi bahwa Perang Salib membuka jalan bagi orang-orang Eropa untuk lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan. Islam memberi pengaruh besar terhadap Barat dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan antara lain ilmu kedokteran, farmasi, matematika, biologi, kimia, geografi, astronomi, dan lainnya. 

Dikisahkan bahwa Frederick II pada tahun 1228 M mengirim surat kepada penguasa Dinasti Ayyubiyah bernama Sultan Al-Kamil Nashiruddin. Ia menanyakan beberapa masalah seputar teknik dan matematika yang tidak ia ketahui. Sultan Al-Kamil mengajukan pertanyaan dari Frederick II kepada ulama sekaligus ilmuwan terkemuka dalam bidang matematika lalu mengirim kembali jawabannya kepada Raja Frederick II.

Buku-buku berbahasa Arab diterjemahkan dengan tekun oleh para penerjemah Eropa. Buku-buku itu kemudian menjadi rujukan utama di sekolah-sekolah di Eropa. Buku Ibnu Sina berjudul Al-Qanun fi Ath-Thibb menjadi buku yang paling sering dicetak dan dijadikan rujukan di universitas-universitas Eropa pada Abad Tengah. Al-Qanun bahkan masih dipelajari di Brussel, Belgia pada tahun 1909. Selain buku-buku Ibnu Sina banyak buku-buku sarjana muslim lainnya yang dipelajari di kampus-kampus Eropa pada masa itu seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Al-Haitsam, Jabir bin Hayyan dan masih banyak lagi.

Demikianlah artikel tentang perang salib ini. Anda juga dapat membaca artikel lainnya tentang sejarah islam.

Bacaan:

Karen Armstrong, Fields of Blood

Ali Ash-Shallabi, Bangkit dan Runtuhnya Dinasti Ayyubiyah

Jack Turner, Sejarah Rempah

Graham E.Fuller, World Without Islam